Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Bailey, anjing pendeteksi satwa liar pertama di Indonesia

Bailey, anjing pendeteksi satwa liar pertama di Indonesia

Anjing pendeteksi satwa liar pertama di Indonesia, Bailey. (Foto: Jakarta Animal Aid Network)

JAKARTA: Dengan indera penciumannya yang tajam, Bailey kerap ditemukan sedang mengendus tas dan koper bawaan penumpang serta puluhan truk yang sedang melewati pelabuhan kapal yang menghubungkan dua pulau terbesar di Indonesia.

Anjing ini juga kerap diterjunkan ke pelbagai penjuru Nusantara untuk membantu para penegak hukum mencari penjahat dan menemukan tempat mereka menyimpan barang hasil kejahatan mereka.

Setidaknya sekali seminggu, Bailey menemukan apa yang ia cari dan segera memberitahukan pawangnya akan bau yang tak asing lagi baginya – bau satwa yang dilindungi dan terancam punah.

“Kebanyakan dari satwa yang Bailey temukan masih dalam kondisi hidup dan diperdagangkan sebagai binatang peliharaan,” kata Femke den Haas, seorang aktivis perlindungan satwa, kepada CNA.

Femke adalah salah satu pendiri Jakarta Animal Aid Network (JAAN), sebuah organisasi nirlaba yang merawat Bailey.

Bailey juga terkadang menemukan satwa-satwa langka yang telah mati, baik secara utuh maupun berupa produk seperti kerangka tulang, gading dan tanduk, kata Femke. Produk-produk ini diperuntukkan sebagai cendera mata ataupun sebagai bahan pembuat obat-obatan tradisional.

Anjing pendeteksi satwa liar Bailey bersama pawangnya berpatroli di sebuah pelabuhan feri di Indonesia, mecari jejak bau satwa langka yang diperdagangkan. (Foto: Jakarta Animal Aid Network)

Anjing Cocker Spaniel yang sebentar lagi berusia empat tahun ini adalah anjing pendeteksi satwa liar pertama di Indonesia.

Menurut Femke, Bailey telah menyelamatkan setidaknya 6.000 hewan hidup dan menggagalkan pengiriman satwa mati yang tak terhitung jumlahnya dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun.

BACA: Perempuan ini mengubah rumahnya menjadi penampungan bagi lebih dari 300 kucing jalanan dan terlantar

BACA: Pria ini bisa membaca dan menulis 30 aksara Indonesia kuno, sebagian di antaranya berusia 500 tahun

Bailey juga telah membantu para penegak hukum dalam membongkar kasus-kasus besar perdagangan satwa langka di Indonesia, di mana terdapat ratusan jenis hewan unik dan langka; sehingga menjadi salah satu pusat perdangangan satwa yang dilindungi dan terancam punah.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, perdagangan gelap satwa liar telah merugikan negara Rp13 triliun setiap tahunnya. Angka ini di luar biaya yang harus dihabiskan untuk merehabilitasi satwa-satwa yang diselamatkan.

BAKAT ALAMI

Bailey terlahir di sebuah tempat pengembangbiakan anjing di Belanda yang kemudian menjualnya kepada sebuah keluarga di sana. Beberapa bulan kemudian, Bailey tumbuh menjadi seekor anjing yang hiperaktif dan tak suka duduk diam.

“(Bailey) bukan tipe anjing yang cocok untuk tinggal di rumah. Ia terkadang loncat ke atas meja. Ia selalu sibuk. Ia selalu aktif. Keluarga itu seakan mau gila dibuatnya. Mereka tak mampu memelihara dia. Mereka ingin menyingkirkannya,” kata Femke.

Anjing pendeteksi satwa liar pertama di Indonesia, Bailey, saat pelatihan awalnya di Belanda di tahun 2018. (Foto: Jakarta Animal Aid Network)

Pada saat bersamaan, Femke, seorang aktivis asal Belanda yang sudah hampir 20 tahun tinggal di Indonesia, mulai memikirkan cara untuk menghentikan perdagangan satwa liar.

“Saya berpikir anjing pendeteksi mungkin adalah cara yang tepat untuk mencium jejak mereka. (Anjing pendeteksi) sudah sering dipakai di Afrika untuk melawan perdagangan satwa dan saya merasa teknik yang sama bisa diterapkan di sini,” katanya.

Femke pun mendekati beberapa organisasi untuk mendiskusikan idenya. Salah satunya, Scent Imprint for Dogs (SIFD), yang punya pusat pelatihan di negara asalnya, setuju untuk bekerja sama.

“Saya tidak pernah berencana untuk membawa anjing dari Belanda, tetapi saat saya di Belanda untuk melakukan pelatihan, saya bertemu Bailey,” katanya. “(Mantan pemilik Bailey) telah menghubungi SIFD. Mereka tak ingin menyerahkan (Bailey) ke keluarga lain (sebagai peliharaan) karena ia lebih cocok sebagai anjing pekerja.”

BACA: Desainer grafis pecinta musik metal membuat situs untuk bagi rezeki dengan sesama yang terdampak COVID-19

Kebanyakan aparat penegak hukum dan perusahaan jasa keamanan yang menjadi mitra institusi tersebut lebih suka dengan anjing besar yang kekar dan bertampang sangar daripada anjing Cocker Spaniel yang kecil dan ramah seperti Bailey.

Namun, di mata Femke, Bailey adalah sosok anjing yang sempurna untuk keperluannya.

“Kita membutuhkan seekor anjing yang tidak menakutkan seperti anjing German Shepherd. Apalagi konsep anjing pendeteksi satwa liar adalah sesuatu yang baru di Indonesia, dan di Indonesia, banyak orang yang takut dengan anjing karena alasan agama.

"(Bailey) sangat cocok karena ia tak menakutkan, ia kecil dan mudah dirawat,” kata Femke.

“Semuanya terjadi secara kebetulan pada saat yang tepat. Saya pun tinggal lebih lama di Belanda untuk lebih mengenali (Bailey) dan berlatih bersamanya. Bailey sangat ramah ke siapapun. Ia seekor anjing yang baik hati dengan energi dan kemauan untuk bekerja yang besar.”​​​​​​​

Bailey, anjing pendeteksi satwa liar pertama di Indonesia, bulan Mei ini akan merayakan ulang tahunnya yang ke-empat. (Foto: Instagram/@wildlifeaidnetwork)

Bailey baru berusia sembilan bulan saat ia menyelesaikan pelatihannya di Belanda di bulan Februari 2018. Sebelumnya, ia telah dilatih untuk mendeteksi berbagai satwa, mulai dari primata yang dilindungi sampai burung-burung langka yang hanya ditemukan di Indonesia.

Femke lalu membawa Bailey ke Indonesia di mana ia kemudian menghabiskan beberapa bulan menyesuaikan diri dengan iklim tropis di tanah air serta berkenalan dengan tim JAAN.

MENANGANI KASUS BESAR

Bailey mulai menangani kasus pertamanya di bulan Mei 2018, selang beberapa hari setelah ulang tahun pertamanya.

“Kepolisian Belanda menghubungi kepolisian di Indonesia dan juga kami untuk mengumpulkan bukti terhadap seorang pedagang (satwa liar) asal Belanda,” kata Femke.

Otoritas Belanda mulai menangani kasus ini sejak 2016 saat beberapa kargo berisikan berbagai cendera mata yang terbuat dari binatang langka asal Indonesia disita oleh petugas bea cukai di kota Rotterdam.

Setelah mereka bertahun-tahun menyelidiki kasus ini, kepolisian Belanda akhirnya mengetahui bahwa barang-barang tersebut diselundupkan oleh seorang warga negara Belanda yang tinggal di Bali. Orang ini ternyata telah menyelundupkan ratusan satwa langka dari Indonesia sejak 2013.

Kepolisian Indonesia akhirnya menangkap orang tersebut dan Bailey membantu polisi menggeledah rumahnya serta beberapa toko barang antik tempat orang tersebut membeli produk satwa langkanya.

Pemilik toko-toko tersebut juga akhirnya ditangkap dan dari tangan mereka polisi menyita ratusan barang-barang yang terbuat dari satwa Indonesia yang dilindungi.

Kasus ini menyita perhatian banyak orang baik di Belanda maupun di dalam negeri. Petugas polisi dari kedua negara yang terlibat di penyelidikan kasus tersebut pun mendapat penghargaan atas kerja keras mereka.

“Bagi kami, (kasus itu) istimewa karena Bailey turut terlibat dan kasus pertamanya adalah kasus yang sangat besar. Kami sangat bangga,” kata Femke.

Sejak saat itu, Bailey telah membongkar banyak sekali kasus perdagangan satwa, mulai dari penyelundupan puluhan bayi orang utan sampai pengiriman ratusan penyu hidup yang dagingnya biasa dikonsumsi dan cangkangnya dijadikan cendera mata.

“Bailey menemukan binatang hampir setiap minggu dan dalam jumlah yang besar karena pedagang satwa langka tidak pernah menyelundupkan binatang dalam jumlah kecil,” kata Femke.

Bailey kini bekerja dari sebuah lokasi di Sumatra, tempat asal kebanyakan primata yang diperjualbelikan sebagai binatang peliharaan di Jawa dan Bali.

Ia juga kerap bepergian ke segala penjuru Indonesia untuk membantu penegak hukum mengumpulkan bukti melawan pedagang dan pemburu satwa liar.

MENJADI BAGIAN SEBUAH KELUARGA BESAR

Setelah Bailey, JAAN telah melatih dan mempekerjakan lima anjing pendeteksi satwa liar. Mereka ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, lembaga itu sedang melatih anjing pendeteksi satwa liar mereka yang ketujuh, kata Femke.

“Mentor (dari SIFD) juga datang ke Indonesia agar keterampilan para pelatih dan pawang kami terus terasah. Sebelum COVID-19, mereka bisa datang tiap beberapa bulan sekali. (Kini) mereka terus memantau kami dari jauh dan memberikan konsultasi,” lanjutnya.

“Kami juga bekerja sama dengan organisasi (nirlaba) yang lain. Bersama mereka, kami bisa membuat jaringan unit anjing pendeteksi satwa liar dalam skala yang lebih besar.”

Aktivis pelestari satwa liar, Femke dan Haas, sembari menggendong Bailey, berpose untuk foto Bersama anggota tim pendeteksi satwa liar dari Jakarta Animal Aid Network. (Foto: Jakarta Animal Aid Network)

Femke mengatakan anjing-anjing JAAN yang lain kini mulai mengimbangi reputasi dan keteladanan Bailey. “Mereka sama piawainya (dengan Bailey).”

Namun, sebagai anjing pendeteksi satwa liar pertama di Indonesia, Bailey akan selalu mempunyai tempat khusus di hati Femke.

“Bailey adalah seorang megabintang bagi kami. Ia punya karakter yang luar biasa. Kami sangat beruntung punya (Bailey) di tim kami. Ia adalah pahlawan bagi satwa liar di Indonesia,” kata Femke.

Bacalah cerita ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel berbahasa Indonesia tentang seorang pria yang bisa membaca dan menulis 30 aksara Indonesia kuno, sebagian di antaranya berusia 500 tahun.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini. 

Source: CNA/ni(jt)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement