Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Geng motor imut Indonesia sebarkan ilmu pertanian ke 'pulau berhantu' dan berbagai daerah lainnya

Geng motor imut Indonesia sebarkan ilmu pertanian ke 'pulau berhantu' dan berbagai daerah lainnya

Setelah lebih dari 15 tahun, Geng Motor iMuT memiliki sukarelawan yang tak terhitung jumlahnya. (Foto: Sumaryanto Brunto)

JAKARTA: Mitos tentang pulau Semau, Nusa Tenggara Timur, Indonesia mengatakan jika ada yang berani menginjakkan kakinya di pulau tersebut dan bukan merupakan penduduk setempat, maka dia tidak akan bisa kembali dalam keadaan hidup.

Noverius Henutesa Nggili tertarik dengan legenda tersebut.

Dia merupakan bagian dari sebuah geng sepeda motor yang berkeliling provinsi NTT untuk membantu masyarakat menyelesaikan masalah pertanian dan peternakan. 

Pada tahun 2014, Noverius dan teman-temannya memutuskan untuk melihat keadaan sesungguhnya di pulau Semau terlepas mitos menakutkan yang beredar.

“Orang-orang takut pergi ke pulau Semau. Pulau itu konon angker, menakutkan, dan orang-orang selalu bilang kalau kamu pergi ke sana, kamu tidak akan kembali hidup-hidup. Tetapi kami menyukai tantangan, kami merasa itu menantang,” katanya kepada CNA.

“Ternyata saat kami ke sana, orang-orangnya baik. Mitos mengatakan itu angker, tetapi itu hanya cara mereka untuk melindungi pulau itu agar tidak banyak orang yang pergi ke sana dan mereka bisa menangkis (warga asing) dari pulau itu," tambahnya.

Noverius adalah seorang aparatur sipil negara di Kupang, ibukota provinsi NTT yang berjarak sekitar 30 menit dari pulau Semau.

Dia tergabung dalam Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

BACA: Klinik kesehatan ini alasan sejumlah masyarakat Kalimantan hentikan pembalakan liar

Dengan gelar akademik di bidang peternakan, dia secara khusus peduli dengan masalah peternakan dan pertanian yang banyak terdapat di NTT.

Oleh karena itu, pada tahun 2005 dia memutuskan untuk bekerja sama dengan sekitar 10 temannya dari latar belakang yang sama untuk mengunjungi pedesaan-pedesaan di waktu luang mereka dan membantu memecahkan masalah pertanian dan peternakan yang mereka hadapi.

Di Semau, Noverius dan timnya mengajarkan para penduduk untuk mandiri dalam ketahanan pangan, air dan energi.

Dari awalnya terbiasa memasak dengan kayu bakar, kini penduduk pulau Semau bisa memasak dengan biogas dan oleh karenanya berhenti menebang pohon.

Geng Motor iMuT melatih penduduk pulau Semau cara membuat pupuk organik. (Foto: Egen Bunga)

Mereka juga memproduksi pupuk organik, antara lain.

“Jadi lingkungan mereka menjadi lebih berkelanjutan. Kami juga mengajari mereka bagaimana mengembangkan hasil hutan bukan kayu, seperti mengolah madu.

“Pohon endemik di Semau banyak dan madunya laris karena nektar dari pohon endemik (seharusnya) memiliki berbagai manfaat.”

Noverius sadar jerih payah mereka terbayar ketika penduduk pulau Semau menolak pupuk yang diberikan pemerintah karena mereka bisa memproduksi pupuk sendiri.

“Itu baru satu cerita sukses, masih banyak lagi,” ujarnya.

GENG MOTOR IMUT HADIR UNTUK MEMBANTU

Pada tahun 2009, Noverius dan timnya beralih dari pendekatan pemecahan masalah ke pendekatan berbasis aset yang fokus pada kelebihan yang dimiliki masyarakat.

Mereka juga memutuskan untuk akhirnya memberi kelompok dan inisiatif mereka sebuah nama.

“Karena kami semua penggemar sepeda motor dan bepergian dengan motor, dan saya pribadi suka mengutak-atik motor, kami memutuskan untuk menamai diri kami Geng Motor iMuT,” katanya.

BACA: Dengan upah minimum, office boy bagi-bagi makanan gratis kepada tunawisma di Jakarta

IMuT adalah singkatan dari aliansi komunitas peduli hewan.

"Kami ingin orang-orang berpikir 'Makhluk macam apa orang-orang ini?' ketika mereka mendengar nama kami," jelasnya sembari tertawa.

Untungnya, tanggapan masyarakat selama ini positif dan seiring dengan waktu bahkan lebih banyak orang yang bergabung dengan mereka. 

Geng Motor iMuT sudah mengunjungi berbagai daerah di provinsi Nusa Tenggara Timur. (Foto: Noverius Henutesa Nggili)

Para anggota baru datang dari berbagai latar belakang dan membawa keahlian masing-masing.

Oleh sebab itu, pada tahun 2011 iMuT diperbarui menjadi "Inovasi, Mobilisasi untuk Transformasi."

DARI NUSA TENGGARA TIMUR KE PENJURU DAERAH

Saat ini, Geng Motor iMuT memiliki sukarelawan yang tak terhitung jumlahnya.

Mereka sudah pernah mengunjungi 80 persen wilayah NTT dan juga pernah diundang untuk melatih masyarakat di Jawa, Sulawesi dan Papua.

Selain melatih masyarakat membangun sistem seperti perangkat desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air tawar, mereka juga mendidik para penduduk bagaimana berurusan dengan tengkulak sehingga mereka bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan.

BACA: 'Saya sebaik para pria': Aktivis lingkungan asal Aceh berjuang melindungi megafauna kawasan Leuser

Menilik kembali usaha mereka selama lebih dari 15 tahun, Noverius mengaku perjalanan mereka tidak selalu mudah.

Meski Noverius seorang ASN, dia mengatakan tantangan terbesar adalah meyakinkan pemerintah bahwa mereka lebih dari sekadar kumpulan pengendara motor yang bepergian setiap akhir pekan.

Karena itu, pada tahun 2014 mereka memutuskan untuk menetap di pulau Semau agar dapat mengukur dampak yang telah mereka buat.

"Saya punya satu tujuan - untuk mentransfer pengetahuan kita ke komunitas sebelum kita mati. Itu akan menjadi kebahagiaan terbesar saya."

Warga Semau membangun alat desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air tawar. (Foto: Noverius Henutesa Nggili)

Dan Noverius juga mengatakan bahwa dia senang timnya dalam keadaan sehat dan hidup, terlepas dari mitos seram yang beredar.

“Jadi, cerita-cerita seram itu… sampai sekarang, kami tidak pernah terpengaruh. Kami tidak pernah sakit, semuanya aman.

“Warga setempat bahkan sudah seperti keluarga kami sendiri,” katanya.

Baca cerita ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai dampak bisnis haji Indonesia akibat pembatasan jumlah jemaah ke Arab Saudi. 

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ks

Advertisement

Also worth reading

Advertisement