Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Relawan pemulasaraan di Bogor jemput jenazah dari rumah-rumah seiring melemahnya sistem kesehatan Indonesia akibat COVID-19

Relawan pemulasaraan di Bogor jemput jenazah dari rumah-rumah seiring melemahnya sistem kesehatan Indonesia akibat COVID-19

Seorang relawan dari Tim Pemulasaraan Jenazah Pasien COVID-19 Kota Bogor dengan alat pelindung diri lengkap, sedang mengikuti proses pemakaman seorang perempuan yang wafat saat isolasi mandiri di rumahnya di Bogor, Jawa Barat. (Foto: Nivell Rayda)

BOGOR, Indonesia: Panas begitu menyengat saat empat sukarelawan dari gugus tugas COVID-19 setempat, berlapiskan alat pelindung diri lengkap, turun ke kawasan padat penduduk di Bogor, salah satu kota satelit Jakarta.

Bermandikan keringat, dengan kacamata pelindung dan perisai muka yang berkabut, mereka menyusuri gang berdebu yang dijejali rumah-rumah padat penghuni. Diliputi penasaran, tatapan warga setempat mengiringi langkah-langkah mereka.

Di luar rumah kecil warna biru neon, tepat sebelum gang itu membelah menjadi pertigaan, terlihat kerumunan dua puluhan orang. Tak satu pun dari mereka berani masuk. Beberapa jam sebelumnya, nyonya rumah — Rita Nurbaeti, 47 tahun — meninggal dunia setelah seminggu lamanya berjuang melawan COVID-19.

Bahkan suami dan ketiga anaknya, yang semuanya dinyatakan negatif COVID-19, tak cukup bernyali untuk berada di sisinya. Wanita itu masih mengenakan baju tidur saat menghembuskan nafas terakhir.

“Kita sudah coba bawa ke rumah sakit, karena dia sesak napas, tapi semua rumah sakit sudah penuh tempat tidurnya,” ujar Mujiburrahman Rizal kepada CNA, mengisahkan mendiang istrinya. “Kita sudah coba merawat beliau semampunya. Kita kasih obat dari rumah sakit, sama obat-obatan herbal. Tapi ternyata Allah berkehendak lain.”

Relawan Tim Pemulasaraan Jenazah Pasien COVID-19 Kota Bogor bersiap untuk memandikan jenazah seorang perempuan yang meninggal saat isolasi mandiri di rumahnya di Bogor, Jawa Barat. (Foto: Nivell Rayda)

Indonesia tengah mengalami lonjakan kasus COVID-19 akibat menyebarnya varian Delta yang lebih menular. Bulan ini saja, lebih dari satu juta orang telah dites positif terinfeksi virus corona. Para ahli memperingatkan bahwa kasus yang tidak terdeteksi bisa jadi jauh lebih besar.

Sistem kesehatan nasional Indonesia kini kewalahan akibat pesatnya peningkatan kasus, sehingga banyak pasien, bahkan yang bergejala parah, tidak memperoleh perawatan yang layak di rumah sakit. Dalam 30 hari terakhir, terdapat setidaknya 28.000 kematian terkait COVID-19 — sebagian di antaranya terjadi di rumah saat menjalani isolasi mandiri.

Sebelum pandemi, rangkaian pelaksanaan pemakaman jenazah menjadi hak sekaligus tanggung jawab pihak keluarga atau masyarakat setempat.

Menurut syariat Islam, yang dianut oleh sekitar 90 persen penduduk Indonesia, persiapan pemakaman meliputi pemandian dan pembungkusan jenazah dengan kafan, diikuti rangkaian salat dan doa sebelum jasad dibaringkan di peristirahatan terakhir.

Di awal pandemi, petugas kesehatan dan paramedis membantu persiapan pemakaman mereka yang diyakini meninggal akibat COVID-19. Akan tetapi, tenaga kesehatan kini terlalu sibuk merawat pasien yang terus bertambah, sehingga tanggung jawab pemulasaraan korban meninggal — setidaknya di Bogor — akhirnya diserahkan ke tangan sekelompok sukarelawan.

BACA: Takut, tertekan, lega: Pengalaman Nivell Rayda yang dinyatakan positif COVID-19 saat jumlah kasus melonjak di seluruh Indonesia

Ketika Indonesia memulai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk Jawa dan Bali pada awal Juli, jajaran pejabat pemerintah Bogor membentuk gugus tugas guna menyelidiki berbagai masalah dan tantangan di masyarakat yang diperkirakan akan membutuhkan penanganan ekstra. Termasuk di dalamnya adalah pemulasaraan jenazah orang-orang yang meninggal tatkala mengisolasi diri di rumah.

Anggota Tim Pemulasaraan Jenazah sedang bersiap untuk mengevakuasikan jenazah seorang pasien COVID-19 yang wafat saat isolasi mandiri di rumahnya di Bogor, Jawa Barat. (Foto: Nivell Rayda)

“Pemerintah memutuskan mereka butuh sukarelawan untuk mengevakuasi mereka yang meninggal saat melakukan isolasi mandiri,” kata Rino Indira Gusniawan, direktur perusahaan distribusi air lokal yang ditugasi mengumpulkan tim sukarelawan.

“Ada orang yang takut sekali dengan jenazah COVID-19, sampai mereka enggak mau pegang jenazah itu sama sekali. Ada juga yang abai sama sekali dan menganggap enteng COVID-19. Ini dua masalah yang kita coba jembatani," imbuhnya kepada CNA.

Rino lantas sigap merekrut sukarelawan dari berbagai organisasi dan kelompok yang aktif di kotanya. Tak lama kemudian, Tim Pemulasaraan Jenazah Pasien COVID-19 Kota Bogor pun terbentuk.

SIAGA NONSTOP

Jumat pagi, 23 Juli, jam belum lagi menunjukkan pukul 10, namun Ibu Nurbaeti telah menjadi pasien isolasi mandiri ketiga di Bogor yang meninggal hari itu. Bagi tim pemulasaraan jenazah Kota Bogor, ini adalah kematian ke-95 yang mereka tangani.

“Rata-rata kita bisa nanganin sekitar lima jenazah dalam satu hari. Pernah juga kita sampai harus nanganin sembilan sampai 11 jenazah dalam sehari,” tutur sukarelawan senior Wahyu Trisna Jaya kepada CNA.

“Kita kerja 24 jam setiap hari. Panggilan bisa jam 3 pagi. Kita berurusan sama jenazah yang terinfeksi. Mungkin aja jenazah ini masih bisa menulari orang lain, makanya kita geraknya juga harus cepat.”

Wahyu Trisnajaya, seorang relawan Tim Pemulasaraan Jenazah Pasien COVID-19 Kota Bogor. (Foto: Nivell Rayda)

Dan belum ada tanda-tanda keadaan akan membaik. Jumlah infeksi harian di seluruh Indonesia saat ini berada di kisaran 28.000 hingga 45.000, sementara itu Indonesia mencatatkan angka kematian harian tertinggi sebanyak lima kali dalam tujuh hari terakhir.

Selasa lalu, jumlah kematian harian nasional melampaui angka 2.000 untuk pertama kalinya sejak awal pandemi, dan 30 di antaranya terjadi di Bogor — yang terparah bagi kota ini.

Menurut Dinas Kesehatan Kota Bogor, dari jumlah tersebut, 21 orang meninggal di berbagai rumah sakit yang ada di Bogor, sedangkan sembilan lainnya meninggal saat mengisolasi diri di rumah.

Jenis pekerjaan dan kondisi yang harus mereka hadapi dapat menjadi beban berat bagi Tim Pemulasaraan Jenazah Pasien COVID-19 Kota Bogor, satu-satunya kelompok sukarelawan semacam ini yang ada di Bogor. Mereka tidak dibayar untuk bakti mereka.

“Saya belum pulang dari 4 Juli kemarin. Kita saking sibuknya, saya kalau tidur enggak bisa lebih dari dua jam,” ujar Wahyu di satu aula kecil di pusat kota yang berfungsi sebagai markas darurat bagi tim ini.

Meski tim ini telah berhasil merekrut 56 orang, hanya sekitar 30 sukarelawan yang aktif. “Yang lain punya kesibukan masing-masing, jadi cuma bisa bantu kalau ada waktu luang,” imbuh pensiunan berusia 55 tahun itu.

Dari 30 orang tersebut, hanya 18 sukarelawan yang terlibat langsung dalam pemulasaraan jenazah. Selebihnya bertugas menjawab telepon dari masyarakat yang membutuhkan bantuan, mengurus administrasi, atau menyiapkan bantuan logistik.

Nur Hasanah (kiri) dan Aan Andriyani, relawan Tim Pemulasaraan Jenazah Pasien COVID-19 sedang beristirahat. (Foto: Nivell Rayda)

“Enggak banyak orang yang mau melakukan ini. Enggak banyak orang yang mau dekat-dekat jenazah penderita COVID-19,” kata Wahyu.

Jumlah sukarelawan perempuan pun hanya delapan orang. Keterbatasan ini menghadirkan tantangan tersendiri.

Dalam fikih Islam, hanya kerabat terdekat dan mereka yang berjenis kelamin sama dengan jenazah yang diizinkan untuk melakukan pemulasaraan jenazah sebelum penguburan. Artinya, para sukarelawan perempuan harus siap dipanggil kapan pun ada jenazah perempuan yang perlu diurus.

BACA: Tanpa Haji dan Umrah, kehidupan pekerja migran Indonesia di Arab Saudi tambah sulit

“Saya stay di markas karena kita enggak pernah tahu kapan bantuan kita dibutuhkan,” kata sukarelawan Nur Hasanah, 37 tahun.

Ibu dari tiga anak ini telah menjadi sukarelawan di berbagai daerah bencana. Dengan pengalaman panjang sebagai petugas penyelamat, berada di dekat mayat bukanlah hal baru baginya.

Akan tetapi, menghadapi pandemi seperti COVID-19 ini adalah pengalaman yang betul-betul berbeda.

“Awalnya saya takut. Ini kan beda. Ini COVID-19. Saya bukan berurusan dengan jenazah biasa. Mereka kan ada virus,” ujar ibu rumah tangga tersebut.

Nur Hasanah, ibu tiga anak, antara jumlah kecil kaum perempuan yang menjadi relawan pemulasaraan jenazah pasien COVID-19. (Foto: Nivell Rayda)

“Cemas pasti ada ya. Saya khawatir kalau saya sampai kena. Saya kan punya keluarga yang nungguin saya di rumah. Tetapi selama kita lakuin semua tindakan pencegahan yang diperlukan dan melindungi diri sendiri, baik-baik saja sih mestinya. Dan syukurnya sih, sejauh ini, belum ada dari kami yang ketularan.”

PENUH SITUASI PELIK

Seluruh anggota tim terlatih untuk melangsungkan upacara pemakaman menurut aturan berbagai agama. Praktiknya bisa sesederhana mendandani jenazah dengan pakaian terbaik bagi penganut agama Kristen atau non-Muslim, hingga yang tata caranya spesifik seperti dalam ajaran Islam.

Apa pun latar belakangnya, para sukarelawan ini tentu paham bahwa tanggung jawab mereka membutuhkan kecerdasan interpersonal tertentu, misalnya dalam negosiasi dan persuasi, khususnya dengan anggota keluarga, kerabat, maupun tetangga.

Ibu Nur ingat saat ia terlibat argumen yang berlarut-larut dengan anggota keluarga yang bersikeras bahwa jenazah harus dikebumikan di pemakaman pribadi keluarga, bukan tanah pekuburan khusus pasien COVID-19.

Sebahagian relawan Tim Pemulasaraan Jenazah Pasien COVID-19 Kota Bogor sedang memasukkan data ke komputer mereka. (Foto: Nivell Rayda)

Tim ini pun harus menguasai cara terbaik menghadapi mereka yang ingin membantu upacara pemakaman tetapi bersikeras untuk tidak mengenakan alat pelindung.

“Itu alasannya kenapa saya stay di markas. Sebagian besar relawan perempuan kan mahasiswa. Mereka tahu tata cara upacara pemakaman, tetapi enggak punya pengalaman untuk nanganin situasi-situasi kayak gini,” jelas Ibu Nur.

Relawan senior Wahyu mengatakan timnya telah berhadapan dengan segala kemungkinan.

“Kita harus berurusan dengan macam-macam orang. Ada yang saking parnonya sampai gak mau ikut gotong peti jenazah padahal sudah dibungkus dan disterilin,” kenangnya.

Keluarga dan tetangga melakukan salat jenazah di hadapan peti yang berisikan seorang perempuan yang wafat saat isolasi mandiri di rumahnya di Bogor, Jawa Barat. (Foto: Nivell Rayda)

Ada pula para penyangkal COVID-19, yang menolak percaya bahwa tetangga atau orang-orang yang mereka cintai telah meninggal karena virus. Mereka tidak merelakan jenazah untuk dimakamkan sesuai protokol COVID-19, dan bersikeras untuk mengatur pemakaman dengan cara mereka sendiri.

“Kita harus tahu kapan harus tegas dan kapan harus mundur. Jangan sampai kita malah terlibat dalam perdebatan sengit yang ujung-ujungnya malah sampai main fisik,” kata Wahyu.

Sejauh ini, timnya telah dua kali mengalami insiden semacam itu.

“Kita minta keluarga untuk tanda tangan pernyataan tertulis yang bilang bahwa kita sudah coba melakukan tugas kita, tapi pihak keluarga menolak. Kita terus sampaikan kejadiannya ke pihak yang berwenang. Untungnya sih mereka enggak sampai jadi klaster COVID-19,” ujarnya.

BACA: 'Baunya luar biasa': Sukarelawan bertekad untuk membersihkan sungai Indonesia dari popok bekas

Sukarelawan Aan Andriyani kadang merasa marah dengan sikap abai yang diperlihatkan sebagian orang perihal COVID-19.

“Rasanya kayak enggak dihargai. Kami udah kerja berjam-jam pakai alat pelindung, mempertaruhkan kesehatan, tapi masih saja ada yang enggak percaya sama COVID-19. Sebagian juga enggak peduli dengan bahayanya, terus enggak peduli protokol kesehatan,” ujar ibu rumah tangga berusia 44 tahun itu kepada CNA.

“Yang penting kita fokus sama tugas kita. Ini kan kewajiban moral dan agama melakukan upacara pemakaman buat jenazah. Enggak banyak yang mau melakukan ini untuk pasien COVID-19. Enggak banyak juga yang mengerti cara melakukannya dengan aman. Buat saya, ini panggilan.”

PEMERINTAH JANJIKAN LEBIH BANYAK TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT

Sekitar 90 menit telah berlalu sejak tim tiba di lokasi, dan jenazah Ibu Nurbaeti pun siap untuk dikebumikan.

Air yang digunakan untuk proses pemandian dibuang dengan aman. Lantas, jenazahnya dibungkus dengan kafan sebelum diselubungi pula dengan selembar plastik bening.

Sesuai protokol kesehatan COVID-19, pasien meninggal harus dimasukkan ke dalam kantong jenazah berwarna oranye sebelum peti jenazahnya ditutup dan disegel.

Ambulans yang membawa peti mati Ibu Nurbaeti lambat-lambat menyusuri gang sempit yang sama untuk membawanya ke pemakaman.

Sedikitnya selusin liang lahat baru saja digali oleh ekskavator saat ambulans tiba di Pemakaman Umum Kayumanis, sekitar 15 menit dari rumah duka. Tangis pilu anggota keluarga dan kerabat membalut suasana takzim prosesi saat tubuh itu diturunkan perlahan ke dalam kubur.

Seorang anak sedang berduka akan kematian ibunya yang meninggal saat isolasi mandiri di rumahnya di Bogor, Jawa Barat karena COVID-19. (Foto: Nivell Rayda)

Acara pemakaman Ibu Nurbaeti hampir selesai ketika satu ambulans datang membawa satu jenazah pasien COVID-19 yang lain.

“Bagian pemakaman ini baru saja dibuka awal bulan ini. Bagian ini khusus buat pasien COVID-19,” ujar salah seorang penggali kubur, Ahmad Ridwan, kepada CNA.

Dalam beberapa pekan terakhir, setidaknya 100 jenazah telah dikebumikan di pemakaman ini, dan ruang yang tersisa hanya cukup untuk beberapa puluh lagi saja, tambahnya.

Sejak Indonesia memberlakukan PPKM Darurat tanggal 3 Juli lalu, Kota Bogor telah melaporkan lebih dari 400 kematian pasien COVID-19, seperempat di antaranya saat menjalani isolasi mandiri di rumah.

Wali Kota Bogor Bima Arya menyampaikan kepada wartawan Senin lalu bahwa ia memperkirakan jumlah kematian harian akan berkurang dalam beberapa hari mendatang, terutama setelah penambahan tempat tidur baru di berbagai rumah sakit dan makin banyak orang divaksinasi.

“Delapan puluh lima persen dari mereka yang meninggal ketika isolasi mandiri itu belum divaksin. Sebagian besar usianya di atas 50 tahun dan rata-rata punya penyakit bawaan,” jelas Wali Kota.

Ia menambahkan bahwa beberapa fasilitas di kotanya telah diubah menjadi pusat isolasi COVID-19, tempat para pasien dapat dirawat sembari menunggu ketersediaan tempat tidur di rumah sakit.

Rino, koordinator sukarelawan, mengatakan dia menantikan tibanya masa ketika timnya tak lagi dibutuhkan.

“Mudah-mudahan dalam satu atau dua bulan ke depan kita akan melihat kasusnya menurun dan keadaan kembali seperti sebelumnya... ketika zero pasien (yang meninggal di rumah) di Bogor,” katanya.

"Tapi selama kami masih dibutuhkan, kami akan tetap di sini.

Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai maraknya orang yang mengkonsumsi susu yang tersterilisasi dan kelapa hijau seiring bertambahnya beban kasus COVID-19 di Indonesia

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini

Source: CNA/ni

Advertisement

Also worth reading

Advertisement