Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Perempuan penyintas kanker ini berdedikasi mendidik anak-anak putus sekolah di kampung nelayan Jakarta

Perempuan penyintas kanker ini berdedikasi mendidik anak-anak putus sekolah di kampung nelayan Jakarta

Seorang murid berdiri di pintu Rumah Belajar Merah Putih, sebuah sekolah informal bagi anak-anak miskin di kampung nelayan Kojem, Cilincing, Jakarta Utara. (Foto: Nivell Rayda)

JAKARTA: Hari masih pagi di kampung nelayan Kojem yang terletak di Cilincing, Jakarta Utara.

Alih-alih bersekolah, kebanyakan anak-anak di sana terpaksa membantu orang tua mereka mencari ikan di Laut Jawa yang terkenal ganas.

Pendidikan tampaknya dinomorduakan di Kojem, sebuah kampung di mana kejahatan, penyalahgunaan narkoba dan prostitusi merajalela.

Kebanyakan anak-anak di sini hanya bersekolah sampai kelas 4 sekolah dasar. Rata-rata dari mereka terpaksa tak melanjutkan pendidikannya karena orang tua mereka tak mampu menanggung beban biaya sekolah.

Ada juga yang putus sekolah karena ayah atau ibunya terpaksa dipenjara karena melanggar hukum. Sementara itu, ada pula anak-anak yang tak melanjutkan pendidikannya akibat disabilitas intelektual yang tak terdiagnosis.

Bahkan, ada juga anak-anak Kampung Kojem yang tak pernah mengenyam pendidikan formal seumur hidupnya.

Sekumpulan perahu nelayan yang bersandar di kampung nelayan Kojem, Cilincing, Jakarta Utara. (Foto: Nivell Rayda)

“Sembilan puluh persen anak-anak di sini putus sekolah. Yang lulus SMA (sekolah menengah atas) bisa dihitung dengan jari,” kata Desi Purwatuning kepada CNA.

Selama 14 tahun ini, Desi telah mengelola Rumah Belajar Merah Putih di sebuah tempat kecil di Kojem.

BACA: Dua pengusaha wanita Indonesia ini mengubah plastik yang sulit didaur ulang menjadi batu bata

Sekolah informal ini telah membantu ratusan anak-anak putus sekolah di Kojem dan daerah sekitarnya mengambil ujian kesetaraan setingkat SD sampai SMA agar mereka dapat mencari pekerjaan yang lebih baik dan keluar dari lingkaran kemiskinan.

“Enggak ada yang mengharapkan mereka bisa jadi lebih dari sekedar nelayan atau pekerja kasar. Bahkan orang tua mereka sendiri. Makanya orang tua mereka enggak peduli mereka tetap bersekolah apa tidak setelah mereka bisa baca, tulis, dan berhitung. Mereka lebih pengin anak-anak mereka membantu mereka melaut atau bekerja,” kata Desi.

“Anak-anak di sini juga menanggap mereka cuma bisa bekerja di perahu kecil. Bahkan mereka menganggap bekerja di kapal kontainer besi yang mereka lihat setiap hari itu mimpi yang tak mungkin mereka raih. Saya pengin membuka mata mereka dan membuat mereka sadar, mereka bisa jadi apa saja yang mereka mau selama mereka tekun.”

RUANG AMAN DI TENGAH DAERAH RAWAN KEJAHATAN

Saat ini, setidaknya 100 anak bersekolah di Rumah Belajar Merah Putih. Mereka belajar secara bergantian selama dua jam sehari di dalam sebuah bekas warung berukuran tak lebih dari 4m kali 5m.

Desi Purwatuning (kanan bawah) mengajar anak-anak putus sekolah di sebuah tempat kecil di kampung nelayan Kojem, Cilincing, Jakarta Utara. (Foto: Nivell Rayda)

Ruang kelas sederhana itu begitu kecilnya sehingga tak ada bangku di dalamnya. Baik tenaga pengajar dan murid semua duduk di atas alas karet yang sudah tampak kusam dan usang.

Di Rumah Belajar Merah Putih, murid-murid diajarkan matematika, ilmu pengetahuan alam sampai pelajaran agama Islam oleh sekelompok relawan mahasiswa.

“Pelajaran agama itu penting bagi anak-anak ini. Karena di lingkungan mereka banyak sekali terjadi kejahatan, narkoba dan prostitusi, mereka harus belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah,” katanya.

Seorang murid sedang belajar aksara Arab di Rumah Belajar Merah Putih, sebuah sekolah informal untuk anak-anak kurang beruntung di kampung nelayan Kojem, Cilincing, Jakarta Utara. (Foto: Nivell Rayda)

Rumah Belajar Merah Putih cepat terasa sesak, apalagi karena beberapa anak merasa lebih nyaman berada di sana ketimbang bermain di kampung Kojem yang terletak di hilir sungai yang dipenuhi aroma ikan, limbah industri dan tumpahan minyak dari deretan perahu yang bersandar di kedua sisinya.

BACA: Sulap sampah jadi wayang, seniman Indonesia ini bercita-cita jaga warisan budaya Nusantara

Beberapa anak bahkan merasa lebih nyaman di Rumah Belajar Merah Putih ketimbang di rumah mereka sendiri.

“Tahun lalu, salah satu murid kita diperkosa. Pernah juga mantan murid kita dilecehkan secara seksual oleh orang terdekatnya. Kita juga ada mantan murid yang dilacurkan. Bagi banyak anak di sini, tempat ini menjadi sebuah tempat aman bagi mereka,” katanya.

ASAL MUASAL RUMAH BELAJAR MERAH PUTIH

Janda berusia 42 tahun yang suka memakai busana Muslim ini tidak pernah membayangkan hidupnya akan menjadi seorang pejuang pendidikan bagi orang-orang yang tidak mampu.

Sebelum ia menjadi seorang pendidik, Desi adalah satu dari segelintir perempuan di Indonesia yang berprofesi sebagai pelaut. Pekerjaan ini membawanya ke pelbagai penjuru Indonesia dan negara-negara tetangga di atas kapal atau feri yang ditumpanginya.

“Tahun 2005, saya didiagnosa mengidap kanker. Dokter bilang kepada saya, hidup saya mungkin hanya tinggal beberapa bulan lagi. Saya merasa saya belum memberikan kontribusi saya kepada masyarakat sekitar,” ujar Desi.

Setelah mengalami beberapa operasi dan kemoterapi, kankernya belum sepenuhnya terangkat.

Desi Purwatuning mendirikan Rumah Belajar Merah Putih tak lama sejak dia didiagnosis mengidap kanker pada tahun 2005. Sejak itu, dia telah mendidik ratusan anak di kampung nelayan Kojem, Cilincing, Jakarta Utara. (Foto: Nivell Rayda)

Awalnya, Desi mendirikan sebuah perpustakaan dan taman bermain di rumahnya yang berjarak kurang dari 1km dari Kojem. Tempat itu juga sering mengadakan pemutaran film bagi anak-anak di lingkungan sekitarnya.

“Saya memperhatikan beberapa anak memegang buku dengan terbalik,” kenangnya. “Saya tanya ke mereka, mereka dari mana dan kenapa mereka enggak bisa membaca.”

BACA: 5 sajian Indomie kreatif di Jakarta bagi para pencinta mi instan Indonesia

Tak lama kemudian, Desi memindahkan taman belajarnya ke Kampung Kojem dan meluangkan waktunya untuk mengajar anak-anak di sana cara membaca, menulis dan berhitung.

“Saya yang melakukan semuanya. Tahu-tahu muridnya 100. Saya jadi kewalahan sampai akhirnya saya harus mencari relawan,” katanya.

Sebuah lemari berisikan beragam permainan di Rumah Belajar Merah Putih, sebuah sekolah informal untuk anak-anak kurang beruntung di kampung nelayan Kojem, Cilincing, Jakarta Utara. (Foto: Nivell Rayda)

Kini, stafnya terdiri dari lima mahasiswa dan seorang mantan murid yang membantu di waktu senggangnya.

Desi juga aktif mencari donatur yang mau membiayai biaya ujian kesetaraan murid-muridnya, yang bisa menghabiskan antara Rp600.000 sampai Rp900.000 per anak.

PEMBAWA HARAPAN

Sesi pertama di Rumah Belajar Merah Putih dikhususkan bagi anak-anak usia dini yang tidak mampu bersekolah di taman kanak-kanak (TK).

“SD lebih memilih anak-anak yang lulus dari TK, karena mereka sudah bisa baca dan tulis. Artinya, anak-anak yang tidak pernah TK tidak bisa bersaing dengan teman-teman mereka yang lebih mampu,” ujar Desi.

Sementara itu, anak-anak yang putus sekolah biasanya belajar setelah jam 10 pagi, selepas mereka membantu orang tua mereka di laut.

Salah seorang murid Rumah Belajar Merah Putih, Yogi Pratama Putra, mengatakan bahwa sekolah informal itu telah memberikannya fleksibilitas yang dia butuhkan.

“Kalau pagi, saya bisa membantu bapak saya melaut. Sorenya, saya bisa bantu ibu bersihin kerang,” katanya kepada CNA.

Remaja berusia 14 tahun ini mengatakan bahwa dia hanya bersekolah formal sampai kelas 4 SD demi membantu orang tuanya bekerja.

“Saya dulu enggak suka sekolah. Mendingan kerja cari duit. Tapi saya enggak seperti itu sama Rumah Belajar Merah Putih,” kata Yogi.

Yogi Pratama Putra (kanan) membaca sebuah buku pelajaran di Rumah Belajar Merah Putih, sebuah sekolah informal untuk anak-anak kurang beruntung di kampung nelayan Kojem, Cilincing, Jakarta Utara. (Foto: Nivell Rayda)

Di sekolah informal ini, Yogi dapat belajar sesuai dengan kemampuan dan waktunya sendiri sambil membantu ekonomi keluarganya.

Belum lama ini, Yogi mendapatkan ijazah SD-nya dan kini dia sedang belajar untuk mengikuti ujian kesetaraan tingkat sekolah menengah pertama.

BACA: Renyah dan 'gosong' - Pisang Goreng Madu Bu Nanik laris manis dari Jakarta hingga ke luar kota

Seorang murid lainnya, Tegar Mahendra, berkata dia hanya sempat mengenyam pendidikan formal sampai kelas 2 SD.

Ia putus sekolah tak lama sesudah ibunya, yang dulunya seorang penjual makanan, meninggal dunia karena sakit. Ayahnya yang bekerja sebagai sopir angkot tak sanggup lagi menyekolahkan Tegar.

Belia berumur 17 tahun ini pun harus bekerja serabutan sejak dia berusia 10 tahun.

Tegar bergabung dengan Rumah Belajar Merah Putih lima tahun yang lalu dan kini sedang bersiap-siap untuk mengikuti ujian kesetaraan tingkat SMP.

“Saya bersyukur punya kesempatan bersekolah. Kalau enggak, mungkin saya sudah kecanduan narkoba atau hal negatif lain, karena itu yang saya lihat di sekeliling saya di kampung ini,” katanya kepada CNA.

“Saya mau jadi pengusaha supaya saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.”

Tegar Mahendra, 17, bermimpi menjadi pengusaha yang sukses, sebuah profesi yang tak pernah terpikirkan olehnya sebelum bergabung dengan Rumah Belajar Merah Putih. (Foto: Nivell Rayda)

Artikel ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia yang satu ini.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ni(jt)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement