Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, relawan pengendara motor membantu ambulans menembus kemacetan

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, relawan pengendara motor membantu ambulans menembus kemacetan

Seorang anggota Indonesian Escorting Ambulance membantu sebuah ambulans menembus kemacetan di sebuah jalan berlajur dua di Jakarta. (Foto: Nivell Rayda)

JAKARTA: Saat suara sirene ambulans terdengar memecah keheningan, seketika itu pula tiga orang pengendara roda dua berseragam jaket merah bergegas memasang helm mereka dan menyalakan mesin motor.

Ketiga pengendara sepeda motor itu pun memacu kencang kendaraan mereka dan menyusul ambulans dengan cepat.

Para tenaga kesehatan yang ada di dalam ambulans tersebut nampaknya tak asing dengan para pengendara motor tersebut. Salah seorang paramedik itu pun spontan menurunkan jendela dan memberitahukan ketiganya tempat tujuan ambulans tersebut: Sebuah fasilitas isolasi mandiri COVID-19 di pinggiran selatan Jakarta.

Dengan sigap, salah seorang pengendara motor memisahkan diri dari rombongan dan maju ke depan. Ia membunyikan sirine motornya sendiri dan dengan lambaian tangan meminta agar pengendara lain memberikan jalan bagi ambulans di belakangnya.

Untuk 15 menit ke depan, tugas ketiga pengendara motor tersebut seakan tanpa henti. Sepanjang perjalanan mereka harus terus menerus meminta mobil, truk, dan motor untuk mengalah dan memberi jalan atau menepi sejenak. Kebanyakan pengendara menuruti permintaan mereka namun ada pula yang tidak.

Ketiga pengendara motor tersebut adalah anggota dari Indonesian Escorting Ambulance, sebuah komunitas pengendara motor yang secara sukarela membantu kendaraan darurat menembus kemacetan jalanan Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia lainnya.

Seorang anggota Indonesian Escorting Ambulance berusaha membujuk pengendara jalan agar membuka jalan bagi sebuah ambulans. (Foto: Nivell Rayda)

Sebelum pandemi, Jakarta dari tahun ke tahun selalu menempati posisi teratas daftar kota-kota di dunia dengan kemacetan terparah menurut studi yang diadakan oleh perusahaan teknologi TomTom. Perusahaan yang sama juga menemukan bahwa di hari-hari tertentu, tingkat kepadatan jalanan Jakarta bisa mencapai 95 persen.

Tak jarang sebuah ambulans bisa terjebak kemacetan tak bergerak di Jakarta. Terkadang nyawa seseorang pun hilang karena ambulans tak dapat mencapai tempat tujuan mereka dengan cepat.

“Setiap kali saya melihat orang enggak kasih jalan ke ambulans itu agak gereget saya. Kenapa sih enggak ada (orang) yang peka untuk kasih jalur dan prioritaskan ambulans?” kata Sebastian Dwiantoro, seorang koordinator wilayah IEA untuk wilayah Depok di pinggiran Jakarta, kepada CNA.

"Ambulans ini (kendaraan) emergency. Sedangkan menteri atau orang penting punya pengawalan sendiri dan orang kasih jalan buat mereka. Kenapa ambulans enggak ada yang kawal?"

Selama pandemi, kata para anggota IEA, mereka terpaksa bekerja lebih lama dan mengawal lebih banyak ambulans ke tempat-tempat yang lebih jauh. Namun semua itu terbayarkan, kata mereka, saat seorang kerabat pasien mengucapkan "terima kasih" kepada mereka.

ORGANISASI YANG TELAH BERKEMBANG PESAT

Saat ini, IEA memiliki anggota hampir 2,000 orang yang tersebar di 80 wilayah di seluruh Indonesia. Ini adalah sebuah capaian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh sang pendiri IEA, Nova Widyatmoko, yang awalnya hanya ingin membentuk sebuah wadah komunikasi bagi pengendara motor yang sama-sama peduli terhadap permasalahan ini di bulan Maret 2017.

BACA: Pesilat tertua Indonesia membuktikan bahwa usia hanyalah angka

BACA: Bailey, anjing pendeteksi satwa liar pertama di Indonesia

“Setiap hari, saya harus melewati jalan yang macet. Dan hampir setiap hari, saya menemukan ambulans yang terjebak di kemacetan. Kadang-kadang saya spontan membantu membuka jalan buat ambulans dan kadang-kadang pengendara lain juga ikut membantu,” kata Nova kepada CNA.

“Dari situ saya berpikir. Bagaimana kalau kita kumpulkan orang-orang seperti saya ini dan membuat sebuah grup supaya kita bisa saling berkomunikasi dan membantu lebih banyak ambulans secara lebih rutin. Saya membuat sebuah tulisan di Facebook dan saya bagikan ke teman-teman saya. Saya buat sebuah grup WhatsApp dan saya namakan Indonesian Escorting Ambulance.”

Pekerja kemanusiaan Nova Widyatmoko mendirikan Indonesian Escorting Ambulance pada tahun 2017 karena ia kerap menemukan ambulans terjebak kemacetan Jakarta setiap pergi ataupun pulang kerja. (Foto: Nova Widyatmoko)

Unggahan media sosial yang dibuatnya itu pun tersebar di jagat maya. Dalam waktu beberapa minggu saja, 150 orang bergabung ke dalam grup tersebut meskipun tanpa bayaran. Malahan, setiap anggota harus membiayai bensin dan perlengkapan mereka sendiri.

Terkadang, anggota IEA harus merogoh kocek sendiri untuk memodifikasi motor mereka agar pekerjaan mereka menjadi lebih mudah seperti menambahkan sirine, lampu sorot, lampu rotator maupun boks samping untuk menyimpan peralatan pertolongan pertama.

Kebanyakan dari anggota awal IEA berasal dari Jabodetabek, kata pekerja kemanusiaan yang berusia 28 tahun ini. “Tetapi ada juga orang dari kota-kota yang lain yang mengatakan mereka ingin membentuk cabang sendiri di kota mereka."

Seiring dengan berkembangnya kelompok tersebut dan atas desakan beberapa anggota, IEA berubah menjadi sebuah organisasi resmi di bulan Oktober 2017, kata Nova.

“Grup kita isinya enggak cuma relawan IEA tetapi juga pengemudi ambulans yang kita ketemu di lapangan. Setelah kita kawal, kita bilang ke mereka: 'Kalau Bapak butuh kita lagi, kita bisa koordinasikan.'”

Para pengemudi ambulans ini pun menceritakan kolega maupun pimpinan mereka akan kehadiran IEA. Hal itulah yang memungkinkan IEA untuk bekerja sama dengan hampir semua rumah sakit dan penyedia ambulans di penjuru tanah air.

Anggota Indonesian Escorting Ambulance kadang mendapatkan notifikasi dari pengemudi ambulans yang membutuhkan pertolongan mereka melalui aplikasi pengirim pesan. (Foto: Nivell Rayda)

Kelompok ini juga mendapatkan perhatian dari Palang Merah Indonesia, kantor pemadam kebakaran dan berbagai instansi dan organisasi kemanusiaan. IEA melakukan pengawalan bagi mereka, dan timbal baliknya organisasi-organisasi tersebut mengadakan berbagai pelatihan untuk menambah wawasan dan keterampilan para anggota IEA.

“Sekarang (IEA) sudah berkembang lebih dari sekedar pengawalan ambulans. Anggota kita juga diberikan pelatihan pertolongan pertama supaya kita juga bisa memberikan pertolongan saat diperlukan. Kita juga diberikan pelatihan mitigasi bencana. Jadi kita juga hadir di daerah-daerah yang tidak ada macet sekalipun,” kata Nova lagi.

Para relawan terkadang menunggu di sekretariat atau di rumah masing-masing dan segera bergerak untuk mengawal ambulans dan kendaraan darurat lainnya ketika seorang koordinator wilayah seperti Sebastian mendapatkan permintaan dari pengendara ambulans.

JAM KERJA YANG PANJANG AKIBAT COVID-19

Sejak pandemi, anggota IEA Wildan Satrio Utomo mengatakan ia semakin sering mengawal ambulans dan bekerja lebih lama. Jakarta sendiri telah mencatat 390,000 total kasus COVID-19 dengan pertambahan sekitar 1.000 kasus setiap harinya.

“Pernah beberapa kali saya harus mengawal beberapa ambulans dari pagi sampai larut malam,” kata pria berusia 23 tahun ini kepada CNA.

Situasinya sedikit membaik saat Jakarta mulai menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang secara drastis mengurangi tingkat kemacetan Jakarta dan memperlancar laju ambulans.

BACA: Pria ini bisa membaca dan menulis 30 aksara Indonesia kuno, sebagian di antaranya berusia 500 tahun

BACA: Desainer grafis pecinta musik metal membuat situs untuk bagi rezeki dengan sesama yang terdampak COVID-19

Koordinator wilayah IEA Sebastian yang sehari-sehari berprofesi sebagai satpam, mengatakan hari-hari tersibuk organisasi terjadi di pertengahan kedua tahun 2020, saat pemerintah mulai melonggarkan pembatasan sosial.

“Kita bisa mengawal tiga ambulans setiap hari. Padahal, sebelum pandemi setiap hari cuma satu ambulans yang perlu dikawal. Bahkan ada juga hari-hari kita enggak keluar mengawal sama sekali,” kata Sebastian.

Seorang pasien sedang dimasukkan ke dalam ambulans untuk dirujuk dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. (Foto: Nivell Rayda)

Antara Agustus 2020 dan Januari 2021, beberapa kota di Indonesia termasuk Jakarta mengalami kekurangan tempat tidur rumah sakit.

Selama periode ini, puluhan pasien COVID-19 maupun penyakit lain meninggal karena tenaga kesehatan tak dapat menemukan tempat tidur ICU untuk mereka. Bahkan pada tanggal 3 Januari, ada satu pasien dari Depok yang akhirnya meninggal di atas taksi setelah ia ditolak 10 rumah sakit yang berbeda.

Wildan mengatakan selama periode ini, ia bisa menghabiskan lebih dari satu jam di atas motor, mengawal ambulans dari satu rumah sakit di ujung Jakarta ke rumah sakit lainnya di ujung yang berbeda.

“Peralatan kesehatan juga terbatas. Pernah satu pengemudi ambulans bilang ke kita supaya kita secepat mungkin ke rumah sakit yang lain, meskipun jaraknya jauh, karena ambulansnya cuma bisa membawa satu tabung oksigen,” katanya.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga IT ini mengatakan situasi seperti itu sudah mulai jarang terjadi semenjak pemerintah mulai mengatasi masalah kekurangan tempat tidur rumah sakit tersebut.

Namun, saat ini muncul sebuah permasalahan yang lain: Kemacetan di Jakarta mulai berangsur kembali ke level sebelum pandemi.

IMPIAN MENINGKATNYA KESADARAN MASYARAKAT

Sebastian mengatakan pandemi ini secara tak terduga telah membawa satu dampak positif.

“Orang sudah mulai menyadari pentingnya memberi jalan buat ambulans dan kendaraan emergency lain. Mungkin karena mereka takut ambulansnya lagi membawa pasien COVID-19. Mungkin juga (karena COVID-19) semakin banyak orang yang memerlukan ambulans,” katanya.

Seorang anggota Indonesian Escorting Ambulance berusaha membujuk seorang pengendara motor untuk memberikan jalan bagi sebuah ambulans. (Foto: Nivell Rayda)

Wildan juga merasakan hal yang sama. Ia mengatakan saat ini semakin banyak orang yang memberi jalan bagi kendaraan darurat tanpa banyak campur tangan dari anggota IEA.

“Tetapi masih ada orang-orang yang enggak mau mengalah. Kadang-kadang mereka malah maki-maki ke kita,” katanya.

“Pernah waktu itu pas lagi mengawal, padahal kita sudah dibilang permisi, sudah minta tolong, pokoknya sopan lah. Ada aja orang tiba-tiba bilang: ‘Mas, saya bukan anak kecil.’ Atau ada yang bilang: ‘Ini ngapain sih dikawal? Tambah berisik saja.’”

Wildan mengatakan bahkan setelah ia meminta maaf dan memohon pengendara-pengendara tersebut untuk memberi jalan atau menepi sejenak, beberapa dari mereka tetap menolak.

“Daripada saya ladeni ambulansnya jadi tambah lama, ya sudah saya tinggal. Sebetulnya kesal sih, cuma ya yang bikin kesalnya hilang itu kalau ada keluarga (pasien) yang datang terus bilang: ‘Terima kasih ya sudah dibantu.’ Itu benar-benar buang semua kesal,” katanya.

Anggota Indonesian Escorting Ambulance, Wildan Satrio Utomo, berusaha untuk mengkoordinasikan pengawalan ambulans melalui telepon. (Foto: Nivell Rayda)

Pendiri IEA, Nova, mengatakan ia justru senang jika suatu hari para pengemudi ambulans tidak lagi membutuhkan bantuan dari anggota IEA.

“Itu mimpi kami sebetulnya. Kita ingin Indonesia itu kayak negara maju. Ketika macet dan ambulans atau kendaraan emergency lain mau lewat, orang-orang langsung membuka jalur,” katanya.

“Anggota kita masih bisa berkontribusi di bidang-bidang lain kayak bencana, rescue, pertolongan pertama. Meski visi-misi kita tercapai dan perilaku orang terhadap kendaraan emergency berubah, kita masih banyak aktivitas lain yang bisa membuat organisasi kita ini tetap eksis.”

Bacalah cerita ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia tentang Zakaria, pesilat tertua di Indonesia berusia 90 tahun yang telah mendapatkan penghargaan rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ni(jt)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement