Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

'Saya sebaik para pria': Aktivis lingkungan asal Aceh berjuang melindungi megafauna kawasan Leuser

'Saya sebaik para pria': Aktivis lingkungan asal Aceh berjuang melindungi megafauna kawasan Leuser

Farwiza Farhan adalah ketua dan salah satu pendiri lembaga swadaya masyarakat (LSM) Hutan, Alam & Lingkungan Aceh (HAkA). (Foto: HAkA/Paul Hilton)

JAKARTA: Foto aktor peraih Oscar Leonardo DiCaprio berdiri di depan dua ekor gajah bersama seorang pria dan seorang wanita di Kawasan Ekosistem Leuser, Indonesia pada tahun 2016 masih lekat dalam ingatan sebagian orang.

Leonardo mengunggah foto tersebut di akun Instagram-nya dan mengatakan bahwa Leuser adalah "tempat keanekaragaman hayati kelas dunia ... tetapi pembukaan lahan untuk kelapa sawit menghancurkan tempat unik ini".

Leuser yang membentangi dua provinsi paling barat di Indonesia, Aceh dan Sumatera Utara, adalah kawasan ekologi yang berharga. Foto yang diambil ketika Leonardo sedang syuting di Leuser untuk sebuah film dokumenter tentang perubahan iklim itu pun membuat pemerintah geram.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menanggapinya dengan mengatakan bahwa kementeriannya sedang “bekerja keras” untuk melindungi lingkungan.

Farwiza Farhan (kiri) menarik perhatian publik ketika dia difoto dengan Leonardo DiCaprio di Leuser. (Foto: HAkA/Paul Hilton)

Terlepas dari kontroversi yang timbul, ada pihak yang penasaran dan cenderung ingin tahu siapa sebenarnya wanita yang berdiri di samping Leonardo, salah satu aktor Hollywood paling terkenal.

“Sejujurnya, saya waktu itu sedikit terpesona,” kata Farwiza Farhan yang juga tampil dalam film dokumenter itu.

Saat ini, Farwiza cukup dikenal sebagai pegiat lingkungan, khususnya untuk Leuser yang mencakup area seluas sekitar 2,7 juta ha, lebih dari 35 kali luas Singapura.

Sebagai ketua dan salah satu pendiri lembaga swadaya masyarakat (LSM) Hutan, Alam & Lingkungan Aceh (HAkA) yang berbasis di Aceh, Farwiza menghabiskan hari-harinya dengan mengadvokasi kebijakan dan program perencanaan yang bertujuan untuk melindungi suaka megafauna.

“Ekosistem Leuser adalah tempat terakhir di bumi di mana empat megafauna - badak, harimau, gajah, dan orangutan - masih hidup bersama di alam liar.

“Dan fakta bahwa itu adalah tempat terakhir di bumi sebenarnya adalah fakta yang menyedihkan,” kata wanita Aceh berusia 34 tahun itu kepada CNA.

BACA: Klinik kesehatan ini alasan sejumlah masyarakat Kalimantan hentikan pembalakan liar

Lebih dari 185.000ha dari kawasan Leuser adalah lahan gambut yang kaya karbon, dan hutan hujan tropis adalah rumah bagi sekitar 105 spesies mamalia, 380 spesies burung, dan 95 spesies reptil dan amfibi.

Leuser juga merupakan sistem penyangga kehidupan sekitar 4 juta orang di Aceh dan menyediakan air dan udara bersih.

Ekosistem Leuser adalah aset bagi pembangunan ekonomi Aceh, dengan nilai yang belum dimanfaatkan sebesar AS$350 juta (Rp4,95 triliun) per tahun dalam hal potensi wisata dan jasa ekosistem, menurut HAkA.

Ekosistem Leuser adalah tempat terakhir di bumi di mana badak, harimau, gajah dan orang utan masih berkeliaran di alam bebas bersama. (Foto: HAkA/FKL)

Meski demikian, terdapat ancaman besar seperti penggundulan hutan akibat ekspansi kelapa sawit, proyek infrastruktur dan penebangan liar. Dan Ini hanya sebagian dari masalah yang dihadapi Farwiza dan timnya yang terdiri dari 30 orang setiap harinya.

MENGATASI PERUBAHAN IKLIM

“Tapi lebih dari segalanya, mungkin yang paling merusak ekosistem Leuser adalah kebijakan dan perencanaan yang buruk,” kata Farwiza.

“Saya tidak menentang pembangunan apa pun yang akan meningkatkan kesejahteraan manusia dan mata pencarian masyarakat. Tapi jika itu dilakukan dengan cara yang bisa merusak sumber mata pencarian itu sendiri, apa gunanya?”

Ia mencontohkan bagaimana pada tahun 2016 terdapat rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi di jantung ekosistem Leuser.

“Ini kasus yang menarik karena energi panas bumi adalah energi terbarukan yang sangat kami dukung. Dalam situasi lain, kami akan mendukung pengembangan energi panas bumi.

“Namun, lokasi pembangunan infrastruktur berada di jantung ekosistem Leuser dan merupakan habitat badak sensitif yang terancam punah dan tidak banyak yang tersisa di dunia,” katanya.

BACA:  Sulap sampah jadi wayang, seniman Indonesia ini bercita-cita jaga warisan budaya Nusantara

Oleh karena itu, mereka membawa kasus tersebut ke pengadilan.

HAkA berkampanye menentang proyek tersebut dan terus memantaunya untuk memastikan tidak ada kasus penyuapan atau korupsi yang terlibat.

Mereka juga melibatkan masyarakat sekitar dan akhirnya berhasil memenangkan kasus tersebut pada tahun 2017.

Saat ini, HAkA juga tengah berjuang di pengadilan untuk banyak kasus lainnya, salah satunya adalah pembangunan bendungan besar di ekosistem Leuser.

“Bendungan bisa sangat merusak ekosistem sungai. Hanya 1 persen air di planet ini yang merupakan air tawar. Dan ekosistem air tawar adalah salah satu ekosistem yang paling terancam punah,” ujarnya.

HAkA mencoba untuk melihat masalah perubahan iklim dari sudut pandang mitigasi iklim dan adaptasi perubahan iklim.

“Salah satu solusi terpenting untuk perubahan iklim adalah solusi berbasis alam. Restorasi hutan dan konservasi hutan sangat penting karena bagi negara-negara seperti Indonesia, salah satu pendorong utama emisi karbon adalah deforestasi dan degradasi hutan.

“Jadi bagi kami, agar mencegah itu terjadi, kami berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim,” jelas Farwiza.

HAkA juga bekerja dengan masyarakat lokal dalam restorasi hutan dengan membuat mereka lebih tangguh dalam menghadapi perubahan iklim, perubahan sistem air, perubahan pola hujan dan perubahan mata pencarian.

MENJADI PEGIAT LINGKUNGAN

Lahir dan besar di Aceh, Farwiza waktu kecil banyak menghabiskan waktu di luar rumah karena kedua orang tuanya sibuk bekerja sebagai dosen.

Dia senang bermain dengan tanah dan menangkap serangga, dan ketika bisa menonton televisi, dia akan menonton program tentang alam.

Farwiza Farhan sejak kecil mencintai lingkungan. (Foto: HAkA/Magdalena Stawinski)

Oleh karena itu, ketika beranjak remaja Farwiza ingin mempelajari biologi. Untuk mewujudkan keinginannya, dia pergi ke Penang, Malaysia untuk kuliah.

Sekembalinya dari Malaysia, dia melamar kerja di bidang konservasi tetapi tidak berhasil diterima.

“Itu mengajari saya bahwa Anda hanya bisa mencapai tujuan yang Anda inginkan untuk diri Anda sendiri ketika Anda cukup keras kepala untuk terus maju, bahkan ketika semua orang mengatakan kepada Anda bahwa Anda tidak bisa,” katanya.

BACA: Renyah dan 'gosong' - Pisang Goreng Madu Bu Nanik laris manis dari Jakarta hingga ke luar kota

Menyadari bahwa pekerjaan yang diinginkannya membutuhkan 10 tahun pengalaman atau gelar pasca sarjana, Farhan kemudian memutuskan untuk mengambil S2 di Brisbane, Australia.

Setelah menyelesaikan studinya dan kembali ke Aceh, dia berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah lembaga pemerintah yang fokus pada ekosistem Leuser.

Namun, perubahan pada peta politik Aceh menyebabkan lembaga tersebut dibubarkan, dan saat itulah Farwiza dan rekan kerjanya memutuskan untuk mendirikan HAkA pada tahun 2012.

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

HAkA fokus pada kebijakan, tetapi juga memiliki program yang memberdayakan masyarakat lokal, termasuk perempuan.

Salah satu program mereka adalah program perempuan penjaga hutan.

“Kita tahu bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perlindungan lingkungan, tetapi peran mereka sering kali diabaikan. Di tingkat desa mereka sering terabaikan ... dan tidak diperbolehkan memiliki banyak peran terutama di Aceh,” kata Farwiza.

BACA: Perempuan ini mengubah rumahnya menjadi penampungan bagi lebih dari 300 kucing jalanan dan terlantar

Karena itu, mereka membekali perempuan di komunitas Leuser dengan pelatihan mengenai hukum agar mereka tahu apa yang harus dilakukan jika menemui kasus perusakan lingkungan.

HAkA memiliki program pemberdayaan wanita sehingga mereka bisa menjaga ekosistem Leuser. (Foto: HAkA/Manuel Bergamann)

Ke-15 perempuan tersebut secara bergiliran berpatroli di kawasan Leuser, meski terkadang didampingi oleh suami mereka sebagaimana lazimnya di Aceh, satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum syariah.

Meskipun demikian, Farwiza merasa beruntung karena mampu melawan persepsi tersebut.

“Saya cukup beruntung memiliki keluarga yang mendukung. Ayah saya tidak pernah memaksa saya memakai jilbab, ibu saya tidak pernah merasa malu dengan saya atas apa pun yang saya lakukan atau kenakan, dan saya berusaha untuk menghormati mereka juga sehingga saya tidak mengenakan apapun yang akan membuat mereka malu jika saya di Aceh.

“Tetapi pada saat yang sama, ini memungkinkan saya untuk memiliki kepercayaan dan keyakinan bahwa saya sebaik para pria. Saya bisa melakukan apa pun yang saya yakini, sehingga saya bisa mencapai tujuan-tujuan ini tanpa harus menerima persepsi umum bahwa wanita itu kurang atau bahwa sebagai wanita Anda kurang berharga,” katanya.

Farwiza Farhan telah memenangkan Whitley Award 2016 dan Future for Nature Award 2017. (Foto: HAkA/Roy Borghouts)

Sembari bekerja untuk melestarikan ekosistem Leuser, Farwiza juga sedang mengejar gelar PhD-nya di Belanda.

Ia juga seorang anggota Women’s Earth Alliance, sebuah organisasi yang berupaya memperkuat peran wanita dalam melindungi lingkungan.

Atas karyanya, Farwiza memenangkan Whitley Award 2016, sebuah penghargaan yang sering dijuluki sebagai "Oscar Hijau" karena merayakan para pemimpin konservasi.

Ia juga memenangkan Future for Nature Award 2017 yang diperuntukkan bagi konservasionis muda.

BACA: Perempuan penyintas kanker ini berdedikasi mendidik anak-anak putus sekolah di kampung nelayan Jakarta

Terlepas dari semua pencapaiannya sejauh ini, Farwiza menyadari bahwa perjuangan untuk melindungi ekosistem Leuser masih jauh dari selesai.

“Tantangan terbesar adalah kenyataan bahwa saat ini sistem ekonomi kita, kebijakan kita tidak mendukung konservasi. Konservasi sangat mahal dalam sistem ekonomi kita, dan inilah mengapa konservasi dipandang sebagai kemewahan.

“Bagi banyak orang dalam bisnis, terdapat anggapan untuk terlibat dalam kegiatan yang melindungi lingkungan tidak banyak insentif ekonomi bagi mereka untuk melakukan itu. Tapi ada banyak insentif untuk orang merusak lingkungan dan ini tidak baik buat kita.”

BACA: Dua pengusaha wanita Indonesia ini mengubah plastik yang sulit didaur ulang menjadi batu bata

Ia menjelaskan ketika lingkungan dikorbankan untuk perekonomian, maka akan menimbulkan ketimpangan yang lebih besar.

“Kesenjangan dalam kemiskinan semakin lebar, biaya perawatan kesehatan menjadi lebih besar dan ini tidak akan berhasil untuk masa depan kita yang kita bayangkan bersama.”

Farwiza menyadari bahwa ia tidak memiliki semua jawaban atas masalah-masalah tersebut dan karenanya mengundang semua orang untuk berdiskusi.

“Lebih dari segalanya, yang benar-benar saya inginkan untuk ekosistem Leuser adalah agar kita mulai menemukan cara untuk menganggap konservasi sebagai kebutuhan dan bukan sebuah kemewahan.

“Ketika masyarakat di beberapa bagian Indonesia melihat bahwa melindungi terumbu karang berarti membangun ekonomi dan mata pencarian, mereka mulai melakukannya bahkan tanpa diminta oleh organisasi konservasi. Saya berharap Ekosistem Leuser berubah dalam cakupan yang lebih luas."

Artikel ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris

Baca juga artikel Bahasa Indonesia yang satu ini.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ks(jt)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement