Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Masyarakat andalkan minuman dan makanan kesehatan di tengah maraknya COVID-19; pemerintah ingatkan risiko misinformasi

Masyarakat andalkan minuman dan makanan kesehatan di tengah maraknya COVID-19; pemerintah ingatkan risiko misinformasi

Seorang pria sedang membeli beberapa kelapa hijau dari sebuah kios di Jakarta, Indonesia. Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus COVID-19 di Indonesia, banyak orang memburu pelbagai minuman dan makanan sehat sehingga menyebabkan harga-harga melambung tinggi. (Foto: Nivell Rayda)

JAKARTA: Dari susu steril hingga kelapa hijau, masyarakat Indonesia bersiap sedia dengan berbagai macam minuman dan makanan kesehatan serta ramuan herbal seiring membubungnya beban kasus COVID-19.

Pesan-pesan berisi klaim bahwa makanan dan minuman tersebut dapat mencegah hingga mengobati COVID-19 telah tersebar luas di berbagai platform pengiriman pesan serta media sosial, memicu lonjakan permintaan dan harga jual.

Di sisi lain, para ahli yang dihubungi oleh CNA menyatakan kekhawatiran mereka akan berbagai efek samping dari konsumsi berlebihan produk-produk tersebut, serta kemungkinan abainya sebagian orang dalam mematuhi protokol kesehatan karena merasa sudah cukup terlindungi.

“Masyarakat kita memperoleh informasi yang tidak tepat terkait produk-produk ini. Ada yang mengaku bahwa makanan dan minuman tersebut bisa menyembuhkan COVID-19, atau setidaknya mencegah infeksi atau meredakan beberapa gejala,”  kata dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kepada CNA.

“Belum ada uji coba klinis yang menunjukkan bahwa mereka efektif dalam mencegah, apalagi mengobati COVID-19.”

Dokter Nadia  menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan telah berulang kali memperingatkan masyarakat agar tidak menimbun barang-barang semacam itu, meski tampaknya imbauan tersebut tidak dihiraukan oleh sebagian kalangan.

LONJAKAN PERMINTAAN

Dalam beberapa pekan terakhir, telah viral beberapa video yang menunjukkan berdesak-desakannya para pembeli untuk membeli susu sapi merek tertentu di berbagai tempat di Indonesia .

Fenomena ini tampaknya dipicu oleh informasi tanpa verifikasi bahwa susu dengan merek tersebut dapat meningkatkan antibodi, sehingga mampu mencegah infeksi COVID-19.

Menyusul lonjakan permintaan yang tiba-tiba, sebagian pengecer ditengarai telah menaikkan harga hingga lima kali lipat.

“Susah buat dapat susu (merek tersebut) akhir-akhir ini. Makanya, begitu saya lihat ada barangnya, saya beli,” ujar ibu rumah tangga Merry Sihombing kepada CNA.

“Katanya sih susu itu bagus untuk kita. Saya sendiri enggak yakin bisa mencegah keluarga saya terkena COVID, tapi enggak ada salahnya kan buat jaga-jaga saja.”

Harga eceran susu tersebut saat ini telah mencapai sekitar Rp12.000 (US$0,83) per kaleng. Sebelumnya, harganya berkisar pada angka Rp9.000.

BACA: Takut, tertekan, lega: Pengalaman Nivell Rayda yang dinyatakan positif COVID-19 saat jumlah kasus melonjak di seluruh Indonesia

Hal serupa dialami bisnis kelapa hijau, yakni varietas kelapa dengan serat kulit yang lebih cerah dan daging buah yang lebih lembut dibandingkan kelapa biasa.

“Sejak minggu lalu orang-orang pada beli kelapa hijau, kadang empat atau lima sekaligus,” kata Jarot, seorang penjual kelapa muda, kepada CNA.

“Susah nyari kelapa hijau di pengepul atau di pasar. Saya sudah cari ke mana-mana, cuma bisa dapat sedikit, itu pun kecil-kecil, nggak lebih gede dari kepalan tangan saya. Permintaannnya lagi tinggi banget, makanya belum waktunya dipanen pun sudah dipetik sama yang punya kebun kelapanya. Tapi orang-orang tetap aja pada beli.” 

Jarot menjelaskan, dia biasanya menjual satu butir kelapa hijau yang sudah dewasa seharga Rp12.000. Kini, per buah bisa ia hargai Rp30.000. “Yang kecil aja harganya bisa 15.000,” katanya.

Penjual kelapa, Jarot sedang menyiapkan pesanan seorang pembeli. Jarot mengatakan harga kelapa hijau telah melambung tinggi seiring dengan meningkat tajamnya beban kasus COVID-19 di Indonesia. (Foto: Nivell Rayda)

Susu steril dan kelapa hijau mungkin hanyalah puncak dari gunung es misinformasi. Gembar-gembor cara pencegahan dan pengobatan COVID-19, dengan segelintir atau tanpa dasar penelitian ilmiah sama sekali, begitu mudah ditemukan di media sosial dan berbagai aplikasi pengiriman pesan.

“Bahkan ada pesan-pesan viral yang bilang nggak usah ke dokter walaupun sudah positif. Orang bisa sembuh cuma dengan makan bawang putih mentah atau madu atau qustul Hindi,” ujar ibu rumah tangga Nancy Suwandono kepada CNA.

“Saya sih skeptis ya. Tapi di sisi lain, saya juga nggak mau harga-harganya telanjur naik sampai saya jadi nggak bisa beli.” Ia telah membeli empat merek madu yang berbeda dan sebotol qustul Hindi.

KIAN PATAH ASA

Ada apa di balik perilaku masyarakat ini?

Dr. Hermawan Saputra dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mengatakan bahwa masyarakat makin putus asa dalam upaya melindungi diri mereka.

“Pandemi sudah bergulir selama satu setengah tahun, dan masyarakat melihat peningkatan kasus-kasus COVID-19 semakin tak terkendali. Sistem pelayanan kesehatan kita juga sudah kewalahan, sementara tanda-tanda bahwa pandemi akan berakhir belum juga terlihat,” jelas penasihat IAKMI tersebut kepada CNA.

“Sekarang ini, semakin banyak orang yang merasa perlu melindungi diri dan keluarga mereka. Sayangnya, itu berarti sebagian dari mereka akan percaya apa saja.”

Sekumpulan pasien duduk di dalam sebuah tenda darurat yang didirikan untuk mengakomodir meningkatnya jumlah penderita COVID-19 di sebuah rumah sakit di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia, Senin, 28 Juni 2021. (AP Photo/Achmad Ibrahim)

Dr Pandu Riono, ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa meski produk-produk tadi memiliki nilai gizi, kandungannya mudah digantikan oleh makanan lain.

“Beli banyak-banyak juga nggak ada gunanya,” ujarnya kepada CNA. “Cara terbaik melindungi diri dari penularan COVID-19 ya cuma patuhi protokol kesehatan — pakai masker, hindari keramaian, dan cuci tangan secara teratur.”

KONSUMSI BERLEBIHAN JUSTRU BERISIKO: KEMENTRIAN KESEHATAN

Direktur di Kementrian Kesehatan, dr. Nadia, mengatakan bahwa dengan tingginya permintaan akan makanan dan minuman tersebut, ada risiko konsumsi berlebihan.

“Beberapa  produk-produk ini memang mengandung nutrisi yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Tetapi kalau konsumsinya sampai berlebihan, bisa menimbulkan efek samping" jelasnya.

Beberapa jurnal medis menyebutkan bahwa mengkonsumsi susu secara berlebihan dapat mengakibatkan berbagai masalah pencernaan. Sementara itu, berbagai penelitian menunjukkan keterkaitan antara meminum air kelapa dalam jumlah besar dengan lonjakan kadar kalium dalam darah, yang dapat memicu berbagai masalah ginjal.

BACA: Tanpa Haji dan Umrah, kehidupan pekerja migran Indonesia di Arab Saudi tambah sulit

Dokter Nadia menjelaskan bahwa segala jenis makanan dan minuman, meski bergizi dan bermanfaat bagi kesehatan, sepatutnya dikonsumsi dalam jumlah wajar.

“Jangan sampai orang-orang menumpuk makanan dan minuman ini lantas mereka mengonsumsinya secara berlebihan,” katanya.

Direktur di Kementerian Kesehatan ini juga mengingatkan akan risiko abainya masyarakat terhadap prosedur kesehatan setelah mengonsumsi produk-produk sejenis.

“Makanan dan minuman ini tidak bisa menggantikan dua langkah utama pencegahan penularan COVID-19, yaitu disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan serta vaksinasi,” ujarnya.

Seorang perempuan menerima vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca di sebuah tempat vaksinasi di Pulau Bali. AFP/SONNY TUMBELAKA

“Pemerintah akan terus melakukan mengkampanyekan agar masyarakat tidak mengonsumsi suplemen maupun jenis makanan dan minuman tertentu secara berlebihan. Cukup beli seperlunya saja.”

Indonesia mencatat 3 juta kasus COVID-19 sejak awal pandemi. Dari jumlah tersebut, dalam satu minggu terakhir, sekitar 350.000 orang dinyatakan positif. Terhitung ada 800 hingga 1.200 kematian terkait pandemi dalam tujuh hari terakhir, sehingga total perhitungan jumlah kematian di Indonesia telah melebihi angka 80.000.

Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ni

Advertisement

Also worth reading

Advertisement