Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Mentega, kunci kelezatan lapis legit di sebuah toko kue berusia 45 tahun di Jakarta

Mentega, kunci kelezatan lapis legit di sebuah toko kue berusia 45 tahun di Jakarta

Liena Gusman adalah generasi kedua pemilik toko Happy yang dikenal akan kue lapis legitnya. (Foto: Kiki Siregar)

JAKARTA: Setiap lapisan kue lapis legit diyakini oleh orang Indonesia keturunan Tionghoa sebagai simbol keberuntungan.

Kue lapis legit terdiri dari tumpukan pelbagai lapisan kue tipis yang terbuat dari mentega, margarin, susu, dan telur.

Untuk menambah cita rasa disertakan cengkeh, kayu manis, dan pala yang membuat warna kue terlihat seperti warna daging babi asap.

Oleh karena itu, meski tidak mengandung daging babi, kue lapis legit juga dikenal dengan nama spekuk, yang dalam bahasa Belanda berarti kue daging babi asap.

Walaupun kue lapis legit ada di mana-mana di Jakarta, kue dari toko Happy termasuk yang paling terkenal karena rasa, sejarah, dan harganya.

Sebagian orang meyakini kue lapis legit adalah simbol keberuntungan. (Foto: Kiki Siregar)

Selama 45 tahun, kue dari toko di Jakarta Selatan ini diburu orang menjelang Imlek.

"Ini adalah tradisi Cina di sini untuk membelinya pas Tahun Baru Imlek," kata Liena Gusman, pemilik toko kue Happy.

“Kue itu melambangkan banyak keberuntungan, itulah sebabnya kue ini banyak dicari saat Tahun Baru Imlek,” tambahnya.

Kue berukuran 20cm x 20cm tersebut tersedia dalam rasa orisinal, atau dengan buah prem, keju, dan kenari.

BACA: Renyah dan 'gosong': Pisang Goreng Madu Bu Nanik laris manis dari Jakarta hingga ke luar kota

Namun, mentegalah yang membedakan kue dari toko Happy dengan para pesaing, kata Liena.

“Kami menggunakan mentega terbaik, mentega (impor dari) Belanda,” ungkap wanita berusia 60 tahun tersebut.

Semakin banyak mentega yang dimiliki suatu varian, semakin mahal harganya.

Jenis termurah, yang hanya menggunakan margarin, berharga Rp445.000.

Jika mentega yang digunakan banyak, harga kue bisa mencapai lebih dari Rp1,1 juta, sehingga kue lapis legit Happy kerap dijuluki sebagai kue lapis legit termahal di ibu kota.

“Kue itu sulit dibuat. Butuh sekitar 2,5 sampai 3 jam,” kata Liena sambil menambahkan bahwa dia sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet.

DARI PENJUAL ROTAN MENJADI TUKANG KUE

Liena adalah generasi kedua pemilik toko kue Happy.

Ayahnya, Gunaifi Lay, 88, dahulu merupakan seorang penjual rotan di Palembang, Sumatera Selatan.

Karena kurang berhasil, pada tahun 1969 dia memutuskan untuk membawa keluarganya pindah ke Jakarta dengan harapan akan mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Kue lapis legit dari toko Happy menggunakan mentega dari Belanda. (Foto: Liena Gusman)

Bermodal hanya Rp300, Gunaifi menyewa sebuah kamar di Jakarta Pusat untuk keluarganya yang beranggotakan enam orang. Uangnya yang tersisa hanya cukup untuk membeli telur.

Istrinya, seorang pembuat kue yang ulet, membuat kue bolu dari telur tersebut dan Gunaifi memutuskan untuk menjualnya.

Seiring waktu, penjualan kue meningkat dan seorang teman menyuruhnya membuat kue lapis legit karena lebih dicari daripada kue bolu.

BACA: Toko es krim jadul legendaris di Jakarta yang bertahan selama 88 tahun

Langkah itu menuai untung. Gunaifi kemudian membeli rumah di pinggir jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan untuk keluarganya.

Mereka tetap menjual kue ke para pedagang hingga suatu hari seorang pria mengetuk pintu rumah mereka.

Dia mengatakan ia mencium aroma lapis legit yang harum dan ingin membelinya.

Hal itu memicu Gunaifi untuk membangun toko roti di depan rumahnya pada tahun 1976.

Oleh karena kue dimaksudkan untuk acara-acara bahagia, dia menamai toko kue tersebut Happy.

Selain kue lapis legit, toko Happy juga menjual lapis Surabaya, roll tart, kue nastar, spekulas, dan lain-lain. (Foto: Kiki Siregar) ​​​​​​​

Mereka tidak pernah menggunakan strategi pemasaran tertentu untuk mempromosikan kue toko Happy dan berasumsi bahwa kesuksesan mereka tercipta berkat kabar dari mulut ke mulut.

Selain kue lapis legit, toko roti ini juga menjual lapis Surabaya, roll tart, kue nastar, spekulas, dan lain-lain.

Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, Liena telah membantu mendiang ibunya membuat kue sejak ia baru berusia delapan tahun.

Kebetulan, dia juga satu-satunya yang tertarik membuat kue.

Oleh sebab itu, Liena mengambil alih toko ketika orang tuanya memutuskan untuk mewariskan usaha mereka 20 tahun yang lalu.

Dia ingat masa kejayaan toko roti Happy saat era Presiden Soeharto ketika masih menjadi kebiasaan untuk memberi kerabat kue saat hari-hari istimewa seperti Tahun Baru Imlek dan Idul Fitri.

“Saya bikin kue dari jam 3 pagi sampai 1 pagi,” kenangnya. Di antara pelanggan mereka termasuk anggota keluarga Soeharto dan selebritas Tanah Air seperti raja dangdut Rhoma Irama dan Ronny Sianturi.

BANYAK PERMINTAAN DARI WARGA NEGARA ASING

Setelah jatuhnya Soeharto pada tahun 1998, bisnis keluarga Liena terus menggeliat dengan permintaan pelanggan dari seluruh Indonesia dan dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, bahkan Belanda.

Sebagian besar pelanggan warga negara asing berasal dari Malaysia dan Singapura, ujar Liena.

Kue lapis legit berukuran 20cm x 20 cm tersedia dalam rasa orisinal, atau dengan buah prem, keju, dan kenari. (Foto: Kiki Siregar)

Pernah suatu ketika, rombongan bus turis tiba di toko Happy karena wisatawan dari Malaysia ingin membeli kue mereka untuk dibawa pulang ke negaranya.

Mereka rela menunggu berjam-jam, kenang Liena.

Dia memiliki banyak permintaan untuk mengekspor kuenya ke luar negeri tetapi ia selalu menolak lantaran khawatir kuenya akan basi karena tidak mengandung bahan pengawet.

BACA: 5 sajian Indomie kreatif di Jakarta bagi para pencinta mi instan Indonesia

Namun, sejak Indonesia dilanda COVID-19 Maret lalu, bisnis menjadi buruk, ungkap Liena.

“Sekarang ini sangat buruk. Kita cuman impas,” kata Liena kepada CNA.

Sebelum pandemi, penjualan selama Tahun Baru Imlek biasanya akan meningkat sepuluh kali lipat. Sedangkan pada masa Idul Fitri, keuntungan akan naik 15 kali lipat dari biasanya, katanya.

Akan tetapi, penjualan saat Idul Fitri yang lalu kurang dari seperempat dari biasanya sehingga Liena terpaksa harus merumahkan sekitar 10 dari 20 karyawannya.

Meskipun Imlek tahun ini diprediski akan tidak semeriah biasanya karena COVID-19, Liena berharap pelanggan setianya tetap akan membeli lapis legit Happy. 

"Mereka biasanya beli tiga hari menjelang Imlek. Semoga tahun ini mereka tetap akan datang." 

Artikel ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia yang satu ini.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ks(jt)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement