Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Dengan upah minimum, office boy bagi-bagi makanan gratis kepada tunawisma di Jakarta

Dengan upah minimum, office boy bagi-bagi makanan gratis kepada tunawisma di Jakarta

Ahmad Marzuki membagikan makanan gratis kepada tunawisma setiap akhir pekan. (Foto: Siti Halimah)

JAKARTA: Hujan deras tiba-tiba mengguyur Jakarta saat Ahmad Marzuki, seorang pramu kantor atau yang lazim disebut "office boy", sedang dalam perjalanan pulang usai bekerja pada giliran sore di suatu hari pada April 2018.

Ia segera berlari untuk mencari perlindungan dan menemukan satu keluarga pemulung terbaring di trotoar. Saat itu sekitar jam 9 malam dan seorang bayi kecil menangis di tengah kegelapan.

"Sang wanita berkata kepada sang pria: 'Mengapa kamu tidak bisa melakukan sesuatu? Bayi kita lapar.'

"Tapi pria itu menjawab: 'Apa yang bisa saya lakukan? Saat ini hujan dan kita tidak punya uang … '," kenang Ahmad.

Saat itu, Ahmad baru tiga pekan memulai pekerjaan barunya dan belum menerima gaji. Dia pun berjanji untuk membantu keluarga tersebut begitu dia menerima gaji pertamanya.

"Saya pikir pertemuan itu adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kepada saya: Jika Anda memiliki sesuatu seperti gaji, Anda tidak boleh lupa (untuk membantu orang lain)," kata Ahmad kepada CNA.

BACA: Klinik kesehatan ini alasan sejumlah masyarakat Kalimantan hentikan pembalakan liar

Ketika Ahmad menerima gaji pertamanya yang berjumlah kurang dari 3 juta rupiah, dia membeli kompor listrik.

Berbekal kompor tersebut dia memasak makanan untuk diberikan kepada keluarga pemulung yang dia lihat pada bulan April.

Namun, dia tidak bisa melacak keluarga tersebut sehingga ia memberikan makanan itu kepada tunawisma lain yang ia jumpai.

Sejak saat itu, Ahmad mulai memberikan makanan kepada kaum yang membutuhkan seminggu sekali, biasanya pada Sabtu atau Minggu malam.

Ahmad Marzuki berpendapat bahwa sejak pandemi COVID-19 terdapat lebih banyak tunawisma di Jakarta. (Foto: Siti Halimah)

Tidak ada anggaran tetap untuk inisiatif tersebut, tetapi Ahmad, 33, menyisihkan sekitar 25 hingga 30 persen dari gaji bulanannya.

Dia menerima gaji sedikit di atas 4 juta rupiah sesuai upah minimum di Jakarta yang berkisar 4,2 juta rupiah.

"KECANDUAN" UNTUK MEMBANTU ORANG LAIN

Terinspirasi oleh perbuatan mulianya, teman-teman Ahmad memutuskan untuk bergabung dengannya dan ikut membagikan makanan di pelbagai penjuru Jakarta.

Awalnya bukan Ahmad yang mengajak mereka karena dia tidak ingin teman-temannya merasa terpaksa harus membantunya.

Namun, di penghujung tahun 2019 seorang teman mengetahui kegiatan sukarela Ahmad dan ingin bergabung. 

Seiring dengan waktu, beberapa teman lain mereka pun ikut membantu.

Setiap pekan, sedikitnya lima teman Ahmad akan ikut membantu entah dengan memasak atau membagikan makanan secara cuma-cuma.

BACA: 'Saya sebaik para pria': Aktivis lingkungan asal Aceh berjuang melindungi megafauna kawasan Leuser

Beberapa temannya juga menawarkan tempat untuk menyiapkan makanan, karena Ahmad tinggal di kamar kontrakan kecil berukuran 3m x 2,5m.

"Saya harus melipat kasur supaya punya cukup ruang untuk memasak," katanya.

Mereka biasanya menyiapkan makanan untuk sekitar 50 hingga 100 orang dalam setiap kali distribusi makanan.

Umumnya menu yang mereka siapkan adalah nasi dan sayur, sedangkan daging sapi tersedia pada momen spesial seperti Idul Fitri dan Natal.

Setiap minggu, mereka pergi ke berbagai penjuru Jakarta agar bisa membantu orang yang berbeda-beda.

Teman-teman Ahmad Marzuki mulai ikut mendistribusikan makanan gratis dengan Ahmad Marzuki sejak akhir 2019. (Foto: Siti Halimah)

Menurut Ahmad, waktu yang terbaik untuk membagikan makanan gratis adalah pada malam hari karena dia mengamati bahwa mereka yang ada di jalan-jalan pada siang hari sering kali adalah pengemis profesional.

Orang-orang yang tidur di jalanan pada malam hari kemungkinan besar adalah tunawisma asli dan ini adalah kelompok yang ingin ia bantu, katanya.

Ahmad mengatakan pengalamannya sejauh ini menyenangkan. Bahkan, dia merasa "kecanduan" untuk membantu orang lain, ungkapnya.

Tambahnya lagi, dia tidak pernah mendapat pengalaman yang buruk selama berkegiatan sukarela.

“Pernah ada seorang pria melihat kami dan segera mendekati kami. Dia bertanya apakah dia bisa mendapatkan makanan sambil menunjukkan kepada kami tangannya yang gemetar. Dia belum makan sepanjang hari."

BACA: Desainer grafis pecinta musik metal membuat situs untuk bagi rezeki dengan sesama yang terdampak COVID-19

Di lain waktu, mereka pergi ke suatu daerah di Jakarta Selatan dan ingin memberi makanan kepada seorang wanita tetapi dia menolak.

Ia berkata dia tidak membutuhkannya karena baru saja mendapatkan makanan gratis dari orang lain; jadi dia ingin makanan tersebut diberikan kepada orang lain.

Sekitar lima bulan yang lalu, Ahmad bertemu dengan seorang pemulung yang memiliki bayi berumur empat bulan. Bayi itu sangat kecil, katanya.

Oleh karena itu, Ahmad dan teman-teman memutuskan untuk memberi bayi tersebut susu bubuk secara teratur.

“Sekarang bayinya sudah besar. Ada kepuasan tersendiri melihat bayi tersebut tumbuh besar,” ujarnya.

LEBIH BANYAK ORANG TUNAWISMA SELAMA COVID-19

Meskipun sekarang pandemi COVID-19 merajalela di Indonesia, Ahmad dan kawan-kawan masih melanjutkan amal baik mereka.

Namun, demi kesehatan, mereka memberikan makanan tanpa berbincang-bincang dengan para penerima, tidak seperti sebelum pandemi.

Ahmad memperhatikan bahwa semenjak pandemi, mereka terus bertemu tunawisma baru dan ada lebih banyak orang yang membutuhkan bantuan.

Ahmad Marzuki memulai distribusi makanan gratis kepada tunawisma pada tahun 2018. (Foto: Siti Halimah)

“Saya hanya berharap pandemi segera berakhir karena banyak orang yang di-PHK," katanya.

“Semoga kita juga sehat, sehingga bisa terus saling membantu."

BERBAGI MEMBUAT KITA MERASA BERKECUKUPAN

Sebagai putra petani yang lahir dan besar di provinsi Lampung, Ahmad tumbuh dalam keluarga miskin.

Sepulang sekolah, dia harus membantu orang tuanya mencari nafkah dengan mencari keong atau sampah rongsokan untuk dijual, sehingga dia tidak punya waktu untuk belajar.

Ketika dia di sekolah menengah pertama, dia harus berjalan kaki 7km setiap hari ke sekolah.

BACA: Perempuan penyintas kanker ini berdedikasi mendidik anak-anak putus sekolah di kampung nelayan Jakarta

Sebuah kejadian yang tidak pernah bisa dilupakan oleh Ahmad adalah ketika suatu hari orang tuanya sakit dan dia ingin meminjam uang dari kerabatnya.

Alih-alih mengasihani Ahmad, kerabatnya justru bertanya bagaimana dia bisa membayar mereka kembali.

“Mereka adalah keluarga saya, tetapi mereka tidak ingin meminjamkan uang kepada saya. Jadi saya pulang dengan tangan kosong,” kata Ahmad.

Dia kemudian mencari bantuan dari perantara yang biasa membeli keongnya, dan akhirnya mendapatkan uang pinjaman untuk biaya orangtuanya berobat.

Pengalaman hidup Ahmad memotivasinya untuk terus membantu sesama.

“Kalau bicara manusia, mereka selalu merasa segalanya tidak cukup. Terlepas dari seberapa banyak Tuhan telah memberi mereka, mereka tidak akan pernah merasa itu cukup.

“Itu sebabnya kita harus berbagi dengan orang lain. Dengan berbagi, kita akan merasa berkecukupan,” kata Ahmad.

Artikel ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris

Baca juga artikel Bahasa Indonesia yang satu ini.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ks(jt)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement