Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Pesilat tertua Indonesia membuktikan bahwa usia hanyalah angka

Pesilat tertua Indonesia membuktikan bahwa usia hanyalah angka

Zakaria mendapatkan penghargaan rekor MURI pada Agustus 2020 sebagai pesilat tertua Indonesia pada usia 90 tahun. (Foto: Kiki Siregar)

JAKARTA: “Daasshh!” teriak Zakaria, pesilat Indonesia berusia 90 tahun sambil menendang kaki kanannya tinggi-tinggi ke udara, memamerkan keterampilan seni bela dirinya.

Zakaria adalah pesilat tertua di Nusantara dan telah mendapatkan penghargaan rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) Agustus lalu.

“Saya kaget, itu mendadak,” ungkapnya saat mengingat kembali ketika dihubungi oleh MURI.

“Mereka menanyakan hal-hal tertentu kepada saya dan menginginkan bukti agar saya dapat diumumkan sebagai pesilat tertua,” katanya kepada CNA.

Di Indonesia, pencak silat adalah seni bela diri tradisional yang terdapat di berbagai daerah dengan aneka ragam aliran.

Zakaria telah mengajarkan pencak silat kepada ribuan orang. (Foto: Kiki Siregar)

Pencak silat juga dikenal sebagai olahraga yang menggunakan seluruh bagian tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan menyerang. Beberapa jenis pencak silat juga menggunakan senjata.

BACA: Pria ini bisa membaca dan menulis 30 aksara Indonesia kuno, sebagian di antaranya berusia 500 tahun

Sebelum kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, pencak silat digunakan di Jakarta oleh para jagoan Betawi untuk membela rakyat jelata dari preman atau tentara penjajah.

Namun, bagi Zakaria, pencak silat lebih dari sekedar mekanisme pertahanan.

“Ini adalah olahraga, jadi baik untuk kesehatanmu. Waktu saya berada di Malaysia, orang-orang terpesona ketika mereka melihat apa yang bisa saya lakukan di usia saya,” katanya kepada CNA.

“Dengan pencak silat, saya juga mendapat banyak teman. Saya memiliki ribuan siswa,” ungkap Zakaria.

DIPENGARUHI SENI BELA DIRI TIONGHOA

Lahir di Jakarta pada bulan Juni 1930, Zakaria mulai belajar seni bela diri pada usia 15 tahun dari kakeknya Muhammad Djaelani, yang mendirikan perguruan pencak silat Mustika Kwitang pada tahun 1945.

Mustika Kwitang adalah aliran silat Betawi yang dikembangkan di kelurahan Kwitang, Jakarta, di mana Zakaria tinggal.

Aliran ini bisa dibedakan dengan silat Betawi lainnya karena merupakan akulturasi pencak silat lokal yang dipengaruhi oleh seni bela diri Tionghoa.

Pada abad ke-19, kakek dari kakeknya Zakaria bertarung dengan seorang pedagang Tionghoa bernama Kwee Tang Kiam, yang juga merupakan seorang ahli bela diri.

Tidak diketahui siapa yang memenangkan laga tersebut, tetapi setelah duel, Kwee Tang Kiam mengajari sang pesilat Betawi seni bela diri yang dia kuasai.

Diyakini itulah cikal bakal aliran Mustika Kwitang yang kemudian berkembang seiring waktu.

Silat Mustika Kwitang terdiri dari teknik menghindar serta serangan tangan terbuka, tapi Zakaria mengatakan kekuatannya terletak pada pukulan-pukulannya yang kuat.

Zakaria (kiri) dan cucunya Alfarisy mendemonstrasikan silat Mustika Kwitang. (Foto: Kiki Siregar)

Nama kelurahan Kwitang di Jakarta pula diduga berasal dari nama Kwee Tang Kiam.

TAMPIL DI ISTANA PRESIDEN DAN DI SELURUH DUNIA

Pada tahun 1948, untuk kali pertama Indonesia menyelenggarakan pesta olahraga nasional yang dikenal dengan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Zakaria berpartisipasi dalam kompetisi tersebut dan menarik perhatian penonton.

“Pada tahun 1950, saya diundang untuk pertama kalinya oleh Presiden Soekarno untuk tampil di istana,” kata Zakaria.

Saat PON kedua digelar tahun 1951, Zakaria bahkan berhasil meraih medali emas.

Pada tahun 1952, kakek Zakaria menginginkannya untuk mengajar dan memimpin perguruan pencak silat Mustika Kwitang.

Zakaria sudah mengunjungi sedikitnya 11 negara untuk mengajar pencak silat. (Foto: Kiki Siregar)

Beberapa tahun kemudian, dia diundang ke istana lagi, tetapi kali ini untuk mengajar pencak silat kepada pasukan pengawal presiden.

Pada periode tersebut, Zakaria juga menampilkan kemampuannya di depan ahli Shotokan seperti Masatoshi Nakayama dan Donald Draeger.

“Banyak orang asing yang ingin belajar pencak silat,” kata guru silat yang memiliki 14 orang anak, 60 orang cucu, dan 34 orang cicit ini.

Sejak itu pula, Zakaria melakukan perjalanan ke sedikitnya 11 negara untuk mengajar pencak silat, mulai dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura hingga negara-negara di Eropa seperti Prancis dan Inggris.

BANYAK MURID DI PENJURU INDONESIA

Karena silat Mustika Kwitang menekankan pada pukulan-pukulan yang kuat, Zakaria mengatakan seseorang harus memiliki kemauan yang kuat untuk menguasai gerakan-gerakannya.

Dia memiliki siswa yang mampu menguasai pencak silat Mustika Kwitang dalam empat bulan, tapi juga terdapat siswa yang masih belum pandai setelah empat tahun.

“Itu semua tergantung muridnya. Jika Anda menguasai gerakannya, Anda akan mendapatkan kepercayaan diri," kata Zakaria.

Saat ini, perguruan pencak silat Mustika Kwitang mempunyai tujuh cabang di seluruh Jakarta.

Zakaria juga memiliki banyak murid yang tersebar di Medan, Makassar, Pekalongan dan daerah-daerah lainnya.

BACA: Sulap sampah jadi wayang, seniman Indonesia ini bercita-cita jaga warisan budaya Nusantara

BACA: Bukan hanya makanan Jawa, Padang, dan Sunda: Koki muda mau orang Indonesia mengenal beragam masakan Nusantara

Namun, sejak pandemi COVID-19 pembelajaran dilakukan secara daring.

Sekitar 200 siswa berusia enam hingga awal dua puluhan tahun masih aktif belajar pencak silat di perguruan Mustika Kwitang.

“Saya merasa bahagia karena anak murid yang saya ajar sehat dan baik-baik. Semoga juga mereka akan memimpin bangsa dan negara ke jalan yang benar,” kata Zakaria.

Bacalah cerita ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia tentang Bailey, seekor anjing yang merupakan anjing pendeteksi satwa liar pertama di Indonesia.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ks(ts)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement