Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

'Baunya luar biasa': Sukarelawan bertekad untuk membersihkan sungai Indonesia dari popok bekas

'Baunya luar biasa': Sukarelawan bertekad untuk membersihkan sungai Indonesia dari popok bekas

Brigade Evakuasi Popok didirikan tahun 2017 guna membersikan sungai-sungai dari popok bekas. (Foto: Brigade Evakuasi Popok)

JAKARTA: Ketika Prigi Arisandi naik perahu karet dan menyusuri sungai, dia mencari suatu barang khusus - popok sekali pakai yang kotor.

Pendiri Brigade Evakuasi Popok dan timnya yang terdiri dari sekitar 30 sukarelawan secara berkala melakukan perjalanan di pulau Jawa untuk membersihkan sungai.

“Popok adalah sampah residu. Tapi kenyataannya, jika kita melihat sungai kita, kita bisa melihatnya mengambang di mana-mana.

“Ini menjijikkan. Sungai itu sumber air minum, tapi ironisnya kita sering menemukan popok di sungai,” ujarnya.

Indonesia memproduksi sekitar enam miliar popok setiap tahun, dan provinsi Jawa Timur, tempat tinggal Prigi, memproduksi 15 juta popok setiap hari, katanya.

Popok sekali pakai diketahui mengandung bahan plastik.

Prigi Arisandi dan timnya telah membersihkan berbagai sungai di pulau Jawa, Bali dan Kalimantan. (Foto: Brigade Evakuasi Popok)

Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Sebuah penelitian Bank Dunia yang diterbitkan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 55 persen sampah Indonesia adalah plastik, dan 21 persen adalah popok bekas, kata Prigi.

“Jadi saya percaya jika kita bisa membersihkan sungai kita dari popok, itu bisa mengurangi sampah kita hingga 21 persen.

“Ini masalah lokal, tapi berdampak global,” ujarnya.

Prigi dan timnya memulai dengan Kali Surabaya di Jawa Timur pada Juli 2017.

Saat itu, beberapa penduduk setempat bahkan secara spontan bergabung dengan mereka.

Setelah tiga hari, ke 25 orang tersebut membawa popok bekas yang mereka kumpulkan ke kantor walikota Surabaya dan menuntut pemerintah melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut.

BACA: 'Saya sebaik para pria': Aktivis lingkungan asal Aceh berjuang melindungi megafauna kawasan Leuser

Sejak itu, mereka keliling pulau Jawa, Bali dan bahkan Kalimantan untuk membersihkan sungai dari popok bekas.

Prigi, yang juga merupakan seorang direktur untuk lembaga swadaya masyarakat lingkungan Ecoton, mengatakan salah satu alasan penting mengapa popok berakhir di sungai adalah karena sistem layanan sampah di Indonesia hanya mencakup 30 hingga 40 persen dari populasi.

“Artinya 60-70 persen penduduk Indonesia membuang sampah sembarangan, termasuk popok,” ujarnya.

Dalam satu sesi bersih-bersih, kelompok itu bisa mengumpulkan hingga satu ton popok.

Mereka bahkan pernah mengambil enam ton popok dalam dua jam dari sebuah sungai di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo.

BAU KUAT MEMAKSA BEBERAPA UNTUK BERHENTI

Sebelum melakukan aksi bersih-bersih sungai, Brigade Evakuasi Popok biasanya melakukan penelitian mendalam mengenai sungai mana yang dipenuhi sampah popok.

Lalu, mereka mencocokkan temuan mereka dengan citra satelit dan menghubungi kelompok lingkungan di daerah tersebut.

Saat tim menyisir sungai, mereka selalu mengenakan jas 'hazmat', sepatu bot, masker, dan sarung tangan untuk memastikan keselamatan mereka.

Sukarelawan Brigade Evakuasi Popok di tengah aksi mereka. (Foto: Brigade Evakuasi Popok)

Mereka mengambil popok dengan tongkat panjang dengan capit atau langsung dengan tangan mereka yang sudah dilapisi sarung tangan.

“Sebenarnya, kotoran bayi kebanyakan tidak menularkan penyakit. Bayi di bawah dua tahun biasanya tidak makan banyak. Jadi kami tidak merasa jijik menangani popok.

“Tapi masalahnya adalah baunya. Baunya luar biasa, apalagi popok yang baru saja dibuang,” ujarnya.

Baunya begitu kuat sehingga beberapa sukarelawan mengalami sakit kepala. Beberapa bahkan muntah dan berhenti.

BACA: Klinik kesehatan ini alasan sejumlah masyarakat Kalimantan hentikan pembalakan liar

“Makanya kami sampaikan kepada beberapa produsen agar membuat SOP (standar operasional prosedur) tentang cara membuang sampah.

“Yang juga mengejutkan kami adalah, terkadang kami menemukan popok dewasa juga,” katanya.

EDUKASI MASYARAKAT MERUPAKAN PRIORITAS

Selain membersihkan sungai, Brigade Evakuasi Popok juga fokus mengedukasi masyarakat.

Prigi mengatakan tantangan terbesar adalah mengedukasi masyarakat bagaimana beralih dari popok plastik ke popok kain, atau jika memang harus menggunakan popok plastik, cara membuangnya harus benar.

Riset Bank Dunia yang dipublikasi tahun 2018 menunjukkan bahwa 55 persen sampah Indonesia adalah plastik dan 21 persen adalah popok bekas. (Foto: Brigade Evakuasi Popok)

Dia mengatakan beberapa orang membuang popok bekas ke sungai karena kepercayaan setempat mengatakan bahwa jika bayi sakit, dia akan sembuh jika popoknya dibuang ke sungai.

Brigade Evakuasi Popok telah mengadakan berbagai seminar tentang konsekuensi membuang popok ke sungai, seperti pencemaran sumber air dan gangguan ekosistem.

Mereka juga membuka toko yang menjual popok kain dan membuat tempat sampah dan titik pembuangan sampah untuk popok sekali pakai.

Sukarelawan Brigade Evakuasi Popok berusaha mengambil popok bekas. (Foto: Brigade Evakuasi Popok)

Selain itu, mereka juga membentuk kelompok masyarakat lokal yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga yang mengedukasi tentang bahaya popok karena beberapa popok disebut-sebut mengandung bahan kimia dan dapat membahayakan kesehatan bayi.

Brigade Evakuasi Popok juga menjelaskan kepada orang-orang bahwa popok kain lebih ekonomis dan sebenarnya jika menggunakan popok selama dua tahun, orang-orang di Indonesia rata-rata akan menghabiskan sekitar 10 juta rupiah yang hampir sama dengan harga sepeda motor.

“Masyarakat biasanya ingin berubah jika bisa merasakan dampak langsungnya,” kata Prigi yang merupakan pemenang Anugerah Lingkungan Goldman 2011 atas usahanya di Ecoton membersihkan sungai-sungai Surabaya dari limbah industri.

Anugerah Lingkungan Goldman dikenal sebagai Penghargaan Nobel Hijau.

MELIBATKAN PEMERINTAH

Selain konsumen dan produsen popok, pemerintah juga menjadi elemen penting dalam memastikan popok tidak dibuang ke sungai, kata Prigi.

Oleh karena itu, Brigade Evakuasi Popok meminta pihak berwenang di daerah yang mereka kunjungi untuk mengangkut sampah popok yang mereka peroleh setelah aksi bersih sungai mereka.

BACA: Desainer grafis pecinta musik metal membuat situs untuk bagi rezeki dengan sesama yang terdampak COVID-19

Namun, ada kalanya permohonan mereka diabaikan.

Untuk menarik perhatian publik, Prigi mengatakan mereka kemudian membuang popok yang mereka kumpulkan ke jalanan.

Orang-orang menjadi tidak nyaman dan marah, sehingga pihak berwenang terpaksa membersihkan dan mengangkut sampahnya, tambahnya.

Brigade Evakuasi Popok membuang sampak popok di jalanan guna menarik perhatian masyarakat. (Foto: Brigade Evakuasi Popok)

Pada 2019, Gubernur Jawa Timur yang baru terpilih Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa salah satu targetnya dalam 99 hari pertamanya sebagai gubernur adalah membersihkan sungai dari popok.

Ini membanggakan bagi Brigade Evakuasi Popok, kata Arisandi, meskipun pemerintah provinsi tidak bekerja secara langsung dengan mereka.

Atas perintah gubernur, kamera televisi sirkuit tertutup (CCTV) dipasang di berbagai jembatan di seluruh provinsi untuk mencegah orang membuang sampah.

Prigi mengatakan mereka senang mengetahui bahwa kerja keras mereka telah berdampak positif.

“(Di Indonesia,) 80 persen air minum kita dari air permukaan.

“Dan popok meracuni sungai kita. Apa yang kita buang itulah yang akan kita konsumsi,” ujarnya.

Dia mengungkap, menurut penelitian mereka di sungai Brantas di Jawa Timur, ikan-ikan tersebut mengonsumsi partikel atau mikroplastik yang mirip dengan yang ditemukan pada popok.

”Kalau kita mau realistis, ini tugas yang sulit. Ini bukan prioritas.

“Ini masalah kecil, tapi jika kita tidak bisa menyelesaikan ini, bagaimana dengan masalah lain? Kita tidak perlu berbicara tentang pergi ke Mars jika kita bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah kotoran bayi.”

Baca cerita ini dalam Bahasa Inggris di sini.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai kehidupan pekerja migran Indonesia di Arab Saudi yang semakin sulit lantaran tidak ada Haji dan Umrah. 

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ks

Advertisement

Also worth reading

Advertisement