Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Tanpa Haji dan Umrah, kehidupan pekerja migran Indonesia di Arab Saudi tambah sulit

Tanpa Haji dan Umrah, kehidupan pekerja migran Indonesia di Arab Saudi tambah sulit

Jemaah Haji mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram sambil mengenakan masker dan menjaga jarak selama Umrah di kota Makkah, Arab Saudi, Minggu, 30 Mei 2021. ( AP Photo/Amr Nabil)

JAKARTA: Sebelum ada COVID-19, pekerja migran Indonesia Muhammad Kurdi memiliki kehidupan yang baik di Makkah, Arab Saudi.

Ayah tiga anak tersebut sudah tinggal 15 tahun di Makkah dan sebelum pandemi bekerja sebagai mutawif untuk Jemaah Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Pada musim puncak Umrah atau Haji, dia bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp200 juta sebulan.

Namun, kehidupannya berubah seketika saat COVID-19 melanda dunia dan warga negara asing tidak bisa pergi ke Arab Saudi.

“Jadi saya selama pandemi ini menganggur, dan itu mungkin dialami oleh seluruh mutawif di kota Makkah.

“Selama pandemi menganggur karena enggak ada jemaah Umrah dan Haji jadi kita di Makkah sudah lebih dari setahun tidak bekerja,” kata Kurdi kepada CNA.

Kini, pria berusia 36 tahun tersebut melakukan berbagai pekerjaan seperti mengantar orang ke pusat vaksinasi atau ke luar kota bahkan menjadi YouTuber dengan memproduksi video-video mengenai kehidupan di Makkah.

Muhammad Kurdi terpaksa mencari pekerjaan lain sejak orang dari Indonesia tidak dapat Umrah dan Haji di Arab Saudi. (Foto: Muhammad Kurdi)

Kurdi juga memiliki tabungan di Indonesia dan ketika dia membutuhkan dana, dia meminta keluarganya untuk mengirim uang.

Terkadang, Kurdi menerima bantuan dari sesama warga negara Indonesia dan dia juga pernah dua kali menerima sembako dari konsulat jenderal Indonesia.

Terlepas dari segala upaya, dia mengaku itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Alhamdulillah kita ada tabungan di Indonesia…tapi pastinya berat sih dua tahun terakhir ini. Kan enggak mungkin kita selamanya mengambil tabungan. Pastinya, habis juga kan kalau enggak ada pekerjaan. 

“Kalau terus seperti ini, pastinya kita tidak akan kuat,” tambah Kurdi.

BACA: COVID-19 beri dampak serius bagi bisnis Haji Indonesia akibat pembatasan jumlah jemaah ke Arab Saudi

Pandemi tidak hanya berdampak pada mutawif di kota suci Makkah tetapi juga pekerja di kota lain seperti Jeddah dan Madinah.

Konsul Jenderal Republik Indonesia Eko Hartono di Jeddah memperkirakan ada sekitar 300.000 tenaga kerja legal Indonesia di Arab Saudi.

Sekitar 168.000 dari mereka berada di Jeddah dan sekitarnya, dan diyakini jumlah pekerja tanpa dokumen bahkan tiga kali lebih tinggi, kata Eko kepada CNA.

Masa depan mereka di Tanah Suci tak menentu.

MENJADI PRAKTISI PENGOBATAN ALTERNATIF

Basuni Hasan dulu kerap menemani para menteri dan pejabat lainnya dari Indonesia untuk Umrah atau Haji, tetapi kini itu tinggal kenangan.

Setelah bekerja di Arab Saudi sejak 1993 dan sebagai mutawif selama sekitar dua dekade, dia sekarang terpaksa beralih profesi.

“Waktu 'lockdown' kemarin, selama enam bulan, sama sekali total enggak ada pemasukan.”

BACA: Di tengah hiruk pikuk Jakarta, relawan pengendara motor membantu ambulans menembus kemacetan

Dia menjelaskan bahwa untuk bertahan hidup, dia harus meminta keluarganya di Madura, Jawa Timur untuk mengirim uang dari tabungannya.

“Karena saya di sini ada keluarga, ada anak. Anak saya ada sembilan. Sebagian di Madura, sebagian di Arab Saudi. Itu yang jadi masalah.

“Untuk makan, ada saja yang mengasih makan, sekedar makan, beras. Kalau mengirim ke keluarga yah enggak bisa ke Madura. Bahkan saya dibantu sama orang Arab.”

Ketika berbagai aktivitas mulai diperbolehkan, Basuni memutuskan untuk mencoba peruntungannya sebagai praktisi pengobatan alternatif.

Dia mengaku memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit tertentu yang disebabkan oleh 'gangguan spiritual' - kemampuan yang menurutnya dapat membantu dia memberikan terapi kepada mereka yang membutuhkan.

Basuni Hasan dengan para jemaah sebelum pandemi COVID-19. (Foto: Basuni Hasan)

Namun demikian, Basuni berpendapat masa depannya di Jeddah masih belum jelas.

Seperti banyak pekerja Indonesia lainnya yang mengalami situasi serupa, pria 48 tahun tersebut kini berencana untuk pulang ke Tanah Air saat izin kerjanya habis 16 bulan lagi.

PEKERJA ILEGAL PALING RENTAN

Konjen RI di Jeddah mengakui banyak WNI di Arab Saudi yang harus berjuang keras mencari nafkah akibat COVID-19.

“Prinsipnya, memang secara umum, PMI kita mengalami dampak yang cukup berat lah dengan adanya COVID-19 ini.

“Kita Haji sudah dua kali tidak ada. Umrah itu sudah jauh berkurang…..,” kata Konjen Eko Hartono.

Selain orang Indonesia yang bekerja sebagai mutawif, mereka yang bekerja di sektor yang terkait dengan Umrah dan Haji seperti di hotel, restoran, dan toko suvenir juga terdampak, ungkap Eko.

Pekerja membersihkan lantai saat jemaah Muslim mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Minggu, 30 Mei, 2021. (AP Photo/Amr Nabil)

Apalagi sejak Arab Saudi memperkenalkan Visi Arab Saudi 2030 beberapa tahun lalu, yang bertujuan untuk mendiversifikasi ekonomi dalam negeri dengan menyediakan lapangan kerja bagi warganya, peluang kerja bagi orang asing juga menjadi langka.

“Ini membuat kehidupan para pekerja migran kita akhir-akhir ini sulit,” kata Eko.

Akibatnya, banyak orang Indonesia memutuskan untuk kembali ke Tanah Air untuk selamanya atau menunggu sedikit lebih lama dan melihat perkembangan situasi, tambahnya.

Bagi mereka yang memilih bertahan di Arab Saudi dan membutuhkan bantuan, pemerintah Indonesia memberi bantuan dalam bentuk sembako dan uang tunai langsung.

BACA: Desainer grafis pecinta musik metal membuat situs untuk bagi rezeki dengan sesama yang terdampak COVID-19

Eko mengatakan, KJRI Jeddah telah menyalurkan sekitar 5.000 paket bantuan yang menjangkau sekitar 15.000 orang.

Diperkirakan ada sekitar 20.000 orang Indonesia yang membutuhkan bantuan karena keadaan mereka yang sulit saat ini.

“Kami menyeleksi mereka (penerima) secara menyeluruh. Mereka pasti orang Indonesia yang membutuhkan karena kita tidak bisa membantu mereka semua,” kata Eko seraya menambahkan bahwa pekerja ilegal juga dibantu.

“Justru mereka yang ilegal yang lebih rentan dibandingkan mereka yang legal. Legal kan biasanya punya pekerjaan tetap, gajinya juga lebih baik. Nah ini yang ilegal, sudah kerjanya serabutan, gajinya juga pasti lebih rendah, mereka semena-mena bisa dipecat….”

Pemerintah sejauh ini memberikan bantuan dalam tiga tahap, kata konjen yang menaungi wilayah Makkah, Jeddah, Madinah, Tabuk dan Asir.

JANGAN BERHARAP PADA HAJI: KONSUL JENDERAL

Lembaga swadaya masyarakat dan organisasi masyarakat Indonesia juga ikut membantu pemerintah untuk menemukan pekerja migran yang membutuhkan bantuan.

Mereka juga turut mendata para pekerja ilegal.

Suib Darwanto, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jeddah mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan pemerintah untuk menyalurkan bantuan kepada para pekerja migran.

“SBMI juga telah membantu para pekerja migran Indonesia selama masa pandemi seperti menyediakan makanan dan obat-obatan,” katanya.

BACA: Dengan upah minimum, office boy bagi-bagi makanan gratis kepada tunawisma di Jakarta

Organisasi masyarakat lainnya, Bangkit Migran Indonesia Solidaritas Amanah (BMISA) menggalang donasi dari warga negara Indonesia yang berkecukupan di Arab Saudi, kata sekretarisnya Karyadi.

Beberapa tantangan berat yang dihadapi tenaga kerja Indonesia diyakini dapat teratasi jika Haji kembali diperbolehkan.

Namun, pemerintah Arab Saudi telah mengumumkan bahwa Haji tahun ini akan kembali dibatasi dan hanya untuk warga negara dan penduduk negara tersebut, dengan maksimal 60.000 jemaah saja.

Ini akan menjadi tahun kedua berturut-turut jemaah Haji asing dilarang menunaikan ibadah Haji karena pandemi COVID-19.

Konjen Eko berkata bahwa pekerja migran Indonesia sebaiknya tidak berharap pada pelaksanaan Haji untuk mengatasi situasi keuangan mereka.

Dia mengatakan, pekerja yang ingin bekerja di luar negeri harus punya keterampilan yang tepat dan memiliki dokumen yang sah.

Sementara itu, Kurdi memutuskan untuk tetap bermukim di Arab Saudi setidaknya sampai izin kerjanya berakhir sekitar tujuh bulan mendatang.

Dia sedang mempertimbangkan untuk kembali ke Indonesia setelah izin kerjanya habis, namun dia tetap khawatir masa depan seperti apa yang menantinya di kampung halaman.

"Itulah mengapa beberapa orang memutuskan untuk tinggal di sini karena mereka tidak yakin...," ungkap Kurdi.

Baca cerita ini dalam Bahasa Inggris di sini.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai geng motor imut yang menyebarkan ilmu pertanian ke 'pulau berhantu' dan berbagai daerah lainnya.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ks

Advertisement

Also worth reading

Advertisement