Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Toko es krim jadul legendaris di Jakarta yang bertahan selama 88 tahun

Toko es krim jadul legendaris di Jakarta yang bertahan selama 88 tahun

Es krim spaghetti adalah salah satu kesukaan para pelanggan toko es krim Italia Ragusa. (Foto: Kiki Siregar)

JAKARTA: Mengunjungi kedai es krim Italia Ragusa di Jakarta Pusat bagaikan melompat ke mesin waktu dan kembali ke masa lalu.

Foto-foto hitam putih dari kedai es krim tersebut di tahun 1930-an dan 1940-an menghiasi dinding toko.

Para pelanggan menikmati es krim mereka sembari duduk di kursi rotan tua dan meski cuaca Jakarta panas dan lembab, kipas angin yang berkarat membuat mereka tetap merasa sejuk.

Di salah satu dinding toko terdapat foto para pendiri kedai es krim, kakak beradik Luigi, Vincenzo, Pascuale, dan Francisco Ragusa, yang merupakan warga negara Italia.

Toko es krim Italia Ragusa didirikan pada tahun 1932. (Foto: Kiki Siregar)

Mereka mendirikan toko es krim tersebut pada tahun 1932.

“Mereka penjahit di Jakarta dan kenalan mertua saya,” kata Sias Mawarni, yang kemudian mewarisi kedai es krim Ragusa, kepada CNA.

Ia menceritakan bagaimana Luigi dan Vincenzo Ragusa mengunjungi kota Bandung kala itu dan bertemu dengan seorang wanita Belanda yang memiliki peternakan sapi.

Mereka berpikir untuk membuat es krim dengan susu sapi tersebut, sehingga mendirikan toko es krim Ragusa di Bandung dan Jakarta pada tahun 1932.

Para warga negara asing sangat menyukai es krim Italia tersebut, tetapi ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, banyak yang meninggalkan Indonesia.

Hal itu berdampak pada bisnis toko es krim Ragusa.

Pada tahun 1972, Ragusa bersaudara memutuskan untuk kembali ke Italia selamanya dan oleh karenanya ingin menutup bisnis mereka.

BACA: Klinik kesehatan ini alasan sejumlah masyarakat Kalimantan hentikan pembalakan liar

Saat itu, suami Sias, Buntoro Kurniawan, bekerja di kedai Ragusa Jakarta dan mereka berhubungan keluarga karena saudara perempuan Buntoro adalah istri si bungsu dari Ragusa bersaudara.

Keluarga Ragusa kemudian memutuskan untuk memberikan toko mereka kepada Buntoro dan Sias.

“Mereka memberikannya kepada kami. Kami tidak perlu membayar sama sekali,” kata Sias.

MELEWATI BANYAK RINTANGAN

Di tangan Buntoro, 87, dan Sias, 77,  kedai es krim Italia Ragusa terus berkembang selama bertahun-tahun.

Tokoh-tokoh ternama seperti mantan presiden Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie dan Megawati Soekarnoputri termasuk di antara pelanggan mereka.

Pada 2012, toko es krim Italia Ragusa bahkan berhasil masuk ke Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai toko es krim tertua di Indonesia.

BACA: Renyah dan 'gosong': Pisang Goreng Madu Bu Nanik laris manis dari Jakarta hingga ke luar kota

Sias mengatakan bahkan aktor Hong Kong Andy Lau pernah mengunjungi kedai es krim itu.

“Kipas angin ini pemberian Andy Lau waktu dia makan di sini,” ungkapnya sambil menunjuk kipas angin di toko tersebut.

Foto es krim banana split seperti yang terpampang di dinding kedai Ragusa. (Foto: Kiki Siregar)

Sebenarnya, apa yang membuat es krim Ragusa begitu istimewa?

Resep asli yang terdiri dari susu, air, gula dan tanpa bahan pengawet adalah rahasia dari es krim Ragusa yang halus dan lembut, kata Sias.

Es krim Ragusa juga tidak menggunakan mentega dan konsisten mengandalkan rasa asli mereka yakni vanila, cokelat, stroberi, moka, dan nougat. Mereka tidak membuat gelato, hanya es krim.

Toko es krim Italia Ragusa juga menyediakan es krim tutti frutti dan "cassata siciliana" selama hampir 90 tahun.

Tutti frutti terdiri dari es krim vanila, cokelat, dan stroberi dengan manisan buah yang dicincang, sedangkan cassata siciliana adalah kue es krim tradisional Sisilia.

Setelah Sias mengunjungi Italia pada tahun 1990-an, mereka memutuskan untuk menambahkan "spaghettieis", hidangan es krim yang terlihat seperti spaghetti, dan variasi banana split ke menu mereka.

Spaghettieis adalah menu favorit para pelanggan.

Bisnis es krim berjalan sangat baik sehingga pada suatu waktu sempat ada sekitar 30 kedai es krim Italia Ragusa yang tersebar di seluruh Jakarta, Bekasi, Bogor, dan Bandung.

Namun, ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi Asia pada tahun 1998 yang berujung pada kerusuhan dan gejolak politik, beberapa gerainya dibakar massa.

Kedai es krim Ragusa di Jalan Veteran 1, Jakarta Pusat tidak diserang massa karena jaraknya sekitar 1,5km dari Istana Merdeka, sehingga kawasan tersebut dijaga oleh aparat keamanan.

Sias Mawarni dan Buntoro Kurniawan menjalankan usaha mereka dengan bantuan anak dan para cucu mereka. (Foto: Kiki Siregar)

“Suamiku bilang, kenapa kita harus punya banyak cabang. Lebih baik fokus pada satu atau beberapa saja,” kata Sias yang saat ini sedang menempuh pendidikan S3 bidang kebudayaan Tionghoa di Universitas Indonesia.

Sekarang tersisa satu kedai es krim Italia Ragusa, yakni di Jalan Veteran 1, dan satu lagi restoran yang menjual es krim dan makanan di Duta Merlin, Jakarta.

BACA: Perempuan penyintas kanker ini berdedikasi mendidik anak-anak putus sekolah di kampung nelayan Jakarta

Namun, Sias mengungkap bahwa mereka mungkin akan segera menutup restoran yang berada di Duta Merlin karena kerugian yang dialami sejak pandemi COVID-19.

Ketika COVID-19 melanda Indonesia, toko terpaksa ditutup sementara waktu karena Jakarta memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Setelah ibu kota secara bertahap memasuki PSBB Transisi, toko es krim Italia Ragusa mulai menerima pelanggan dengan menerapkan protokol kesehatan.

SEDERHANA DAN PENUH NOSTALGIA

Es krim Italia Ragusa memiliki tempat yang istimewa di hati banyak orang.

Okie Johannes dan istrinya, yang ingin dipanggil sebagai Fanny, termasuk di antara tamu Ragusa yang menikmati es krim legendaris tersebut ketika CNA berkunjung pada pertengahan November.

Pasangan yang sama-sama berusia 57 tahun tersebut telah mengunjungi tempat itu sejak mereka masih muda lantaran mereka tinggal dekat toko Ragusa.

Saat mereka mulai berkencan, mereka sesekali mengunjungi toko es krim Ragusa dan bahkan setelah mereka menikah dan pindah ke daerah lain, mereka masih menikmati es krim tersebut jika waktu memungkinkan.

“Saya suka. Rasanya tetap sama dari dulu sampai sekarang karena buatan sendiri,” kata Johannes.

“Dulu, merek es krim juga belum banyak,” kata Fanny seraya menambahkan bahwa tutti fruti adalah es krim favoritnya.

Pasangan itu juga mengatakan bahwa harganya tetap terjangkau selama bertahun-tahun.

Satu sendok es krim dihargai Rp15.000, sementara hidangan es krim seperti es krim spaghetti dan banana split dijual dengan harga Rp35.000.

BACA: 5 sajian Indomie kreatif di Jakarta bagi para pencinta mi instan Indonesia

Ade Rukmini dan keluarganya juga sudah lama menjadi pelanggan.

“Rasanya khas,” katanya.

Meski nuansa toko terasa tidak modern, generasi muda juga ada yang gemar makan di toko es krim Ragusa.

Indah (kiri) dan Lily mengatakan es krim Ragusa lebih enak dibandingkan merek lain yang lebih terkenal dan mendunia. (Foto: Kiki Siregar)

Indah, 20, dan Lily, 19, menjelaskan mereka pertama kali mengetahui tempat itu dari seorang teman.

Mereka sama-sama merasa es krim Italia Ragusa lebih enak dari merek es krim yang sudah mendunia.

“Suasananya di sini juga nyaman,” kata Indah.

Artikel ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia yang satu ini.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ks(jt)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement