Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Perusahaan Indonesia ini memberdayakan kaum miskin sembari mendaur ulang sampah

Perusahaan Indonesia ini memberdayakan kaum miskin sembari mendaur ulang sampah

Seorang pekerja XSProject di pinggiran Jakarta sedang memasukkan plastik multi-lapis, sebuah jenis sampah yang susah didaur-ulang, ke dalam bantal transparan. (Foto: Nivell Rayda)

JAKARTA: Rak-rak yang berada di sebuah toko di pinggiran Jakarta ini penuh dengan tas dan pernak-pernik yang berwarna-warni.

Sekilas mereka tampak seperti tas kebanyakan. Namun jika diamati dari dekat akan jelas terlihat bahwa tas-tas ini ternyata terbuat dari bekas kemasan deterjen dan material spanduk.

Di dekat pintu masuk ada tumpukan karung goni yang disumbangkan oleh pengimpor kopi menunggu untuk dipotong dan dijahit menjadi kantong belanja. Di bagian lain, beberapa orang pekerja terlihat sibuk memasukkan plastik multi-lapis, sejenis sampah yang susah didaur ulang, ke dalam bantal transparan.

BACA: Dua pengusaha wanita Indonesia ini mengubah plastik yang sulit didaur ulang menjadi batu bata

Selama 16 tahun ke belakang, XSProject telah mendaur ulang sampah menjadi pelbagai produk yang menawan. Produk-produk ini digemari di kalangan ekspat dan pecinta mode di luar negeri.

Perusahaan ini sanggup memproduksi sekitar 3.000 produk setiap bulannya dan mendaur ulang ribuan sampah yang sejatinya akan terbuang di tempat pembuangan sampah.   

General manager XSProject, Retno Hapsari, mengatakan bahwa perusahaan ini bermula dari sebuah program pemberdayaan masyarakat dari sebuah yayasan yang bernama sama. Yayasan ini didirikan oleh seorang seniman Amerika yang tinggal di Jakarta yang bernama Ann Wizer di tahun 2004.

“Kita mencari cara untuk mengurangi sampah serta membantu kehidupan para pemulung,” kata perempuan berusia 58 tahun ini kepada CNA.

Retno Hapsari, 58, general manager XSProject, sebuah perusahaan yang mengubah sampah menjadi produk mode yang menawan. (Foto: Nivell Rayda)

“Ada sampah seperti kemasan ‘multi-layer’ yang pemulung ini enggak bisa jual ke pengepul. Kita bilang ke mereka: ‘Kirim ke kita.’ Dari situ kita bersihkan dan kita buat produk. Dengan begitu kita mengharapkan kita bisa mengurangi sampah semacam ini dan juga memberikan pemulung-pemulung ini pendapatan tambahan.”

Produk pertama XSProject adalah tas jinjing yang terbuat dari kemasan sabun cair dan deterjen yang berwarna-warni.

BACA: Sulap sampah jadi wayang, seniman Indonesia ini bercita-cita jaga warisan budaya Nusantara

“Kita terus memikirkan jenis sampah apa lagi yang bisa kita daur ulang. Kita tidak membatasi diri ke satu jenis sampah,” katanya.

Kini, XSProject memiliki bermacam-macam produk yang terbuat dari berbagai jenis sampah yang dapat mencemari lingkungan jika tidak didaur ulang.

Mereka bahkan sering mendapatkan pesanan khusus seperti koper gitar dan tas golf.

Produk-produk XSProject terbuat dari sisa bahan tekstil, material spanduk sampai plastik yang kerap menumpuk di tempat pembuangan sampah. (Foto: Nivell Rayda)

MENYEJAHTERAKAN MEREKA YANG KURANG BERUNTUNG

Retno mengaku bahwa ia tak ubahnya seorang juru bicara di XSProject, sedangkan otak kreatif di balik kesuksesan perusahaan tersebut adalah ketujuh karyawan yang bekerja di sana.

“Beberapa karyawan kita dulunya pemulung atau punya orang tua pemulung,” katanya. “Beberapa ada yang enggak bisa baca tulis saat mereka bergabung. Kita sekolahkan mereka, mengajari mereka ‘skill’ yang baru seperti kursus menjahit.

“Sekarang mereka bisa melihat material dan tahu produk akhirnya seperti apa. Mereka yang mencocokkan warna, menggabungkan material dan menentukan desain mereka sendiri.”

Seorang pekerja XSProject menjahit dua kemasan plastik untuk membuat sebuah tas jinjing. (Foto: Nivell Rayda)

Desain yang dihasilkan mendapatkan respon yang luar biasa dari pelanggan tetap XSProject.

“Kita juga sering mendapat saran dan ide dari ‘customer’: Produk apa lagi yang bisa kita ciptakan,” kata Retno.

BACA: Perempuan ini mengubah rumahnya menjadi penampungan bagi lebih dari 300 kucing jalanan dan terlantar

XSProject kini memproduksi berbagai macam barang, mulai dari masker, tatakan gelas, celemek sampai tas jinjing. Perusahaan ini juga mendapat perhatian dari pembeli dari negara lain seperti Singapura dan Australia.

XSProject juga bekerja sama dengan penjahit lepasan untuk memenuhi permintaan yang terus bertambah, sekaligus juga memberdayakan penjahit-penjahit yang ada di sekitar mereka.

Sekitar 3.000 produk dihasilkan tiap bulan oleh XSProject. Tas-tas ini terbuat dari spanduk bekas. (Foto: Nivell Rayda)

Kini, perusahaan ini sanggup meraih omset antara Rp500 juta sampai Rp1 milyar. Keuntungan yang diraih masuk kembali ke yayasan yang memberikan sumbangan dan menyekolahkan para pemulung dan anak-anak mereka.

Setelah 15 tahun sebagai program sebuah yayasan, XSProject memutuskan untuk menjadi sebuah perusahaan bisnis sendiri di tahun 2019.

MEMBANGUN KESADARAN

Menurut data dari pemerintah, sekitar 85.000 ton sampah plastik terbuang dan mencemari lingkungan setiap tahunnya. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah Tiongkok.

Logo dari merek-merek yang bertanggung jawab atas permasalahan sampah ini terpampang jelas di beberapa produk XSProject untuk membangun kesadaran para perusahaan besar agar mereka segera mengubah cara mereka mengemas dan memasarkan produk-produk mereka.

BACA: Klinik kesehatan ini alasan sejumlah masyarakat Kalimantan hentikan pembalakan liar

“Saya justru senang kalau suatu hari sudah tidak ada lagi sampah yang bisa kita daur ulang. Artinya pekerjaan kita sudah selesai,” kata Retno.

Ia mengatakan dia juga ingin menginspirasi orang lain untuk ikut mendaur ulang sampah di sekitar mereka.

Spanduk-spanduk bekas tersusun rapi di ruang penyimpanan XSProject yang terletak di pinggiran Jakarta. (Foto: Nivell Rayda)

“Kita bukan yang pertama mendaur ulang sampah. Tapi banyak yang gagal di tengah jalan karena mereka tidak punya rencana bisnis dan pemasaran produk yang baik,” katanya.

XSProject bisa berhasil karena mereka punya akses ke komunitas ekspat yang tinggal di Jakarta. “Sembilan puluh lima persen yang membeli produk kita itu ekspat. Karena merekalah yang peduli soal misi kita,” kata Retno.

Namun, Retno meyakini bahwa lambat laun akan semakin banyak orang Indonesia yang peduli dengan misi yang dibawa XSProject.

Perusahaan ini telah lama bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mengajarkan anak-anak mengenai pentingnya mengurangi dan mendaur ulang sampah.

BACA: Perempuan penyintas kanker ini berdedikasi mendidik anak-anak putus sekolah di kampung nelayan Jakarta

“Anak-anak sekolah juga membantu memasarkan produk kita dan hasilnya nanti masuk ke yayasan,” katanya. “Ada juga sekolah yang memesan tas laptop dari kita untuk diberikan ke siswanya. Jadi anak-anak ini sadar bahwa kita bisa mengubah sampah yang kita buang dan kita anggap sepele menjadi sesuatu yang berguna.

“Saya sadar kalau usaha kita itu seperti setetes air di lautan. Tetapi kita harus melakukan sesuatu tentang masalah sampah kita. Kita harus mulai dari yang kita bisa.”

Retno Hapsari telah mempekerjakan banyak pemulung dan anak-anak mereka untuk bekerja di XSProject. Sejumlah keuntungan perusahaan ini digunakan untuk mendukung kesejahteraan dan pendidikan mereka dan keluarganya. (Foto: Nivell Rayda)

Artikel ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia yang satu ini.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ni(jt)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement