COVID-19 beri dampak serius bagi bisnis Haji Indonesia akibat pembatasan jumlah jemaah ke Arab Saudi

COVID-19 beri dampak serius bagi bisnis Haji Indonesia akibat pembatasan jumlah jemaah ke Arab Saudi

(ni) Haji Bahasa 01
Beberapa Jemaah melaksanakan solat subuh di Ka’bah di kota suci Mekah, Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi tahun ini membatasi jumlah Jemaah Haji akibat pandemi COVID-19 yang berlangsung. AFP/STR

JAKARTA: Toko dua lantai yang menjual perlengkapan dan oleh-oleh Haji dan Umrah itu biasanya sibuk meladeni pengunjung yang berdatangan seiring dengan mendekatnya musim haji.

Tetapi tahun ini, toko tersebut tampak sepi dan sunyi dengan pemiliknya Muhammad Aziz, telah melakukan berbagai cara untuk menarik lebih banyak pengunjung. Dua papan iklan besar terpampang jelas di tembok warna hijau toko tersebut, memberitahukan orang-orang yang kerap lalu lalang akan adanya diskon besar-besaran.

Sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia, Aziz dapat meraih omset sebesar Rp 25 juta setiap harinya sepanjang musim Haji. Pakaian ihram, Al-Quran saku dan sajadah adalah barang-barang yang populer.

Peserta Haji yang baru saja kembali juga kerap mengunjungi tempat-tempat perlengkapan haji seperti toko Al Mukarramah yang dimiliki Aziz untuk mencari barang-barang seperti makanan ringan, buah-buahan kering dan air Zamzam, terutama jika mereka lupa membeli oleh-oleh untuk kerabat dan sanak saudara mereka selama di Arab Saudi.

(ni) Haji Bahasa 02
Keputusan pemerintah Arab Saudi untuk membatasi jumlah jemaah Haji akibat pandemi telah memberi dampak buruk bagi ribuan bisnis di Indonesia seperti toko yang menjual perlengkapan dan oleh-oleh haji di Jakarta ini. (Foto: Nivell Rayda)

Namun sejak awal pandemi, Arab Saudi telah menerapkan pembatasan perjalanan yang ketat untuk menekan laju penularan COVID-19. Hanya segelintir saja warga Indonesia yang sempat diperbolehkan untuk melakukan Umrah di awal tahun ini.

Kamis kemarin (3 Jun), pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak memberangkatkan calon Haji untuk tahun kedua berturut-turut. Musim Haji tahun ini dijadwalkan untuk dimulai pada pertengahan bulan Juli mendatang.

“Omset (toko saya) sudah menurun sampai 80 persen,” kata Aziz kepada CNA di tokonya di Jakarta Timur.

Pandemi juga telah berimbas kepada sekitar 1000 agen perjalanan yang mengkhususkan dirinya melayani perjalanan Haji dan Umrah. Beberapa dari mereka pun harus menanggung kerugian hingga jutaan rupiah akibat pembatalan perjalanan.

TIDAK ADA PERJALANAN HAJI DARI INDONESIA TAHUN INI

Pemerintah Indonesia telah berusaha untuk melobi pihak Saudi untuk memberikan sebagian dari kuota 60 ribu tersebut kepada Jemaah asal Indonesia, termasuk orang-orang yang telah menerima vaksin Sinovac.

“Penanganan Covid di Indonesia termasuk relatif bagus,” kata Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas dalam pernyataannya Rabu lalu. “Saya belum tahu mengapa warga Indonesia masih belum diizinkan masuk ke Saudi.”

Haji adalah salah satu rukun Islam dan pemeluk agama Islam dari seluruh dunia diwajibkan untuk menjalankan Haji di Mekah dan Madinah setidaknya sekali seumur hidup jika mereka mampu secara fisik dan secara keuangan.

Setiap tahun, sekitar 2,5 juta Muslim melaksanakan ibadah Haji. Namun karena pandemi, pemerintah Arab Saudi hanya membolehkan 10,000 penduduk lokal untuk melaksanakan Haji tahun lalu.

BACA: Di tengah hiruk pikuk Jakarta, relawan pengendara motor membantu ambulans menembus kemacetan

BACA: Pesilat tertua Indonesia membuktikan bahwa usia hanyalah angka

Tahun ini, negara tersebut menerapkan kuota sebesar 60 ribu Jemaah Haji. Seluruh peserta diwajibkan untuk divaksin menggunakan jenis-jenis vaksin yang diakui oleh pemerintah Saudi, yaitu Pfizer, AstraZeneca, Moderna dan Johnson & Johnson.

Meskipun Indonesia juga memakai vaksin AstraZeneca, kebanyakan dari sekitar 17 juta orang yang telah divaksin menggunakan Sinovac. Indonesia saat ini juga menggunakan vaksin dari Sinopharm sembari menunggu pengiriman vaksin dari Pfizer, Moderna dan Novavax.

(ni) Haji Bahasa 03
Untuk kedua kalinya. pemerintah Arab Saudi membatasi jumlah Jemaah Haji akibat pandemi COVID-19 yang berlangsung. AFP

BISNIS HAJI TERDAMPAK

Farid Aljawi, sekretaris jenderal Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) mengatakan kepada CNA bahwa jumlah jemaah turun hingga hampir nol sejak pandemi bergulir. Terutama saat pemerintah Saudi mulai membatasi Jemaah Haji dan Umrah di awal Februari tahun lalu.

“Untungnya Jemaah yang saya berangkatkan sudah kembali ke Indonesia tanggal 26 Feb (2020), sehari sebelum Arab Saudi mengumumkan pelarangan Jemaah dari luar negeri,” katanya.

(ni) Haji Bahasa 04
Sekretaris Jenderal Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Farid Aljawi. (Foto: Farid Aljawi) 

Farid mengatakan banyak perusahaan agen perjalanan lain yang tidak seberuntung dirinya.

“Ada Jemaah yang sudah di airport siap berangkat, ada yang sudah sampai di Arab Saudi dan ada juga yang masih di negara transit,” katanya. “Totalnya ada 6.400 jemaah Indonesia yang terlantar setelah pengumuman itu dan kita semua sibuk cari cara supaya mereka pulang dengan selamat.”

Sejak itu, pemerintah Arab Saudi bolak balik melonggarkan dan mengetatkan kebijakan perjalanan mereka.

Meskipun tidak ada jemaahnya yang terlantar, perusahaan milik Farid, Tur Silaturahmi Nabi tetap harus menanggung rugi akibat batal memberangkatkan ribuan jemaah. “Ada perusahaan penerbangan dan hotel yang punya kebijakan pengembalian uang yang baik, tetapi ada juga yang tidak. Sementara itu ada biaya-biaya yang tidak bisa dikembalikan uangnya,” katanya.

Kerugian yang besar dan hilangnya pendapatan selama berbulan-bulan mengharuskan beberapa perusahaan penyedia Haji dan Umrah untuk gulung tikar. “Saya tidak tahu persis jumlahnya, tetapi sudah ada puluhan (yang tutup),” kata sekjen Amphuri ini.

(ni) Haji Bahasa 05
Pengendara motor melintasi sebuah kantor biro perjalanan Haji dan Umrah di Jakarta. (Foto: Nivell Rayda) 

Namun ada pula yang bertahan. Biro perjalanan haji Khazzanah Al-Anshari misalnya telah mencoba menawarkan paket wisata religi ke negara-negara Islam lain yang punya kebijakan perjalanan yang lebih longgar.

“Tetapi orang masih takut untuk keluar negeri, apalagi dengan syarat karantina yang ada,” kata Zakaria Anshari, pemilik agen perjalanan tersebut.

Zakaria pun harus mencari peluang bisnis baru demi bertahan, salah satunya dengan berjualan parfum dan makanan. “Omset saya masih lebih kecil dari yang dulu, tetapi lumayan supaya pegawai saya tetap ada kerjaan. Mereka sekarang berjualan makanan dan parfum karena di kantor juga tidak ada yang bisa mereka kerjakan juga,” tambahnya.

Sementara itu, pandemi juga tidak hanya berdampak kepada agen perjalanan dan toko perlengkapan haji, tetapi juga warga negara Indonesia yang tinggal di Arab Saudi dan berprofesi sebagai pemandu wisata.

“Pemandu-pemandu wisata ini benar-benar kesusahan. Pendapatan mereka benar-benar nol. Beberapa dari mereka sampai harus menghubungi kami dan meminta sumbangan atau pinjaman uang,” kata Zakaria, yang juga bertindak sebagai ketua bidang Umrah di Amphuri ini.

“KAMI SUDAH MELAKUKAN SEGALA CARA UNTUK BERTAHAN”

Meskipun omset mereka berkurang drastis, beberapa toko perlengkapan haji masih bisa bertahan.

“Dari aspek penjualan perlengkapan Haji sangat terdampak. Tetapi masih ada orang yang datang untuk membeli kurma, buah-buahan kering, kacang Arab dan air Zamzam, terutama saat bulan Ramadan. Tetapi mereka beli untuk konsumsi pribadi bukan untuk oleh-oleh,” kata Aziz sang pemilik toko.

“Kita juga coba berjualan online. Pokoknya kami sudah melakukan segala cara untuk bertahan.”

Tetapi dengan penjualan yang menurun hingga 80 persen, Aziz mengatakan ia harus mengurangi jumlah pegawainya.

“Sebelum pandemi saya punya enam pegawai untuk dua shift (giliran kerja). Sekarang ini cuma saya dibantu satu orang pegawai untuk satu shift,” katanya. Tokonya pun hanya beroperasi lima hari seminggu. Sebelum pandemi toko Al Mukarramah buka setiap hari.

“Untuk sekarang kami masih bisa bertahan. Untungnya cuma cukup buat beli makan dan pengeluaran. Tetapi kalau seperti ini terus, saya tidak tahu sampai kapan saya bisa tetap mempertahankan toko ini.”

Sekjen Amphuri, Farid mengatakan satu-satunya harapan bagi bisnis Haji dan Umrah dapat bertahan adalah dengan kembali dibukanya pintu bagi Jemaah asal Indonesia untuk kembali melaksanakan Haji dan Umrah.

Farid mengatakan meskipun saat ini sudah terlambat bagi Jemaah Haji asal Indonesia, namun pemerintah Indonesia bisa terus melobi pihak Saudi agar membuka pintu mereka bagi Jemaah ibadah Umrah yang bisa dilakukan kapan saja.

“Pemerintah Saudi harus terbuka kenapa mereka tidak membolehkan Jemaah asal Indonesia masuk. Apa yang menjadi perhatian mereka. Pemerintah Indonesia lalu harus memperbaiki apa yang menjadi perhatian mereka,” katanya.

Bacalah cerita ini dalam Bahasa Inggris

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini tentang seorang penerjun payung perempuan Indonesia yang tidak gentar dengan hobi nekatnya. 

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ni

Bookmark