Desainer grafis pecinta musik metal membuat situs untuk bagi rezeki dengan sesama yang terdampak COVID-19

Desainer grafis pecinta musik metal membuat situs untuk bagi rezeki dengan sesama yang terdampak COVID-19

(ni) Bagirata bahasa 01
Lody Andrian, 29, pendiri Bagirata, sebuah situs yang memudahkan orang untuk membantu mereka yang terkena imbas pandemi COVID-19 di Indonesia. (Foto: Nivell Rayda)

JAKARTA: Ketika COVID-19 melanda Indonesia di bulan Maret tahun lalu, desainer Lody Andrian seketika jatuh iba kepada puluhan temannya yang terkena imbas Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Lody, yang juga seorang penyanyi dan penulis lagu di sebuah band metal ini, mengatakan bahwa akibat dari tutupnya bar dan panggung musik, beberapa dari teman-temannya yang bekerja di industri musik kehilangan pemasukan mereka sepenuhnya.

Ada pula beberapa temannya yang dirumahkan seperti pekerja hotel, restoran dan kafe karena tempat kerja mereka terpaksa tutup selama PSBB atau mengalami penurunan jumlah pelanggan yang signifikan.

Sementara itu, para pekerja yang tidak terkena imbas pembatasan sosial sepertinya justru mendapatkan sisa uang yang lebih banyak.

“Karena semua orang 'work from home' jadinya orang gak beli baju, ngabisin uang buat transport atau ngopi-ngopi di kafe,” kata Lody kepada CNA.

“Itu cukup buat gue mikir: Apa yang bisa gue lakukan buat ngebantu orang-orang yang terdampak ini?”

BACA: 'Saya sebaik para pria' - Aktivis lingkungan asal Aceh berjuang melindungi megafauna kawasan Leuser

Seketika itu pula, Lody menghubungi seorang programmer komputer yang ia kenal untuk merancang dan membangun Bagirata, sebuah situs yang memungkinkan orang-orang untuk meredistribusi uang mereka kepada orang-orang yang membutuhkan.

Ia juga merekrut dua orang teman yang saat itu baru saja kehilangan pemasukan mereka. Satu orang teman diangkat menjadi koordinator media sosial Bagirata, sementara satu orang lagi bertugas untuk memverifikasi calon penerima.

Bagirata pun diluncurkan di pertengahan April 2020. Sampai saat ini, situs itu telah meredistribusikan lebih dari Rp514 juta ke hampir 1.500 orang, mulai dari pekerja restoran, pengemudi ojek, pedagang kantin sekolah, sampai figuran sinetron dan seniman tato.

CARA KERJA BAGIRATA

Kata Lody, timnya hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk merancang dan membangun situs itu sejak pertama kali ide itu tercetus di benaknya.

“Golnya buat platform jadi 'ready' secepat mungkin. Gue enggak butuh sesuatu yang 'fancy' atau terlalu 'complicated'. Gue memutuskan untuk membuat sesuatu yang simpel, dengan teknologi yang simpel juga tetapi efektif dan 'gets the job done',” katanya.

“Kita pakai 'template', 'form' dan 'sheet' yang 'open-sourced'. Makanya kita enggak perlu bikin semua dari nol. Yang kita bangun sendiri cuma algoritma untuk mengacak penerima.”

Hasilnya adalah sebuah situs yang sederhana, tak lebih dari teks hitam di atas latar belakang berwarna putih, tanpa adanya grafis dan ornamen yang memukau mata ataupun sistem antarmuka yang rumit.

(ni) Bagirata bahasa 02
Pendiri Bagirata, Lody Andrian, menujukkan cara kerja situsnya. (Foto: Nivell Rayda) 

Laman depan Bagirata hanya berupa informasi singkat mengenai situs tersebut dan tautan bagi pengunjung yang tertarik mendaftarkan diri sebagai donor maupun sebagai calon penerima.

Para calon penerima diharuskan mengisi sebuah formulir daring untuk menjelaskan bagaimana mereka terdampak oleh pandemi dan mengapa mereka membutuhkan donasi.

“Kita terus verifikasi alasan mereka dan melihat apakah mereka memenuhi kriteria. Kita enggak menerima pengusaha, meskipun mereka juga terdampak sama pandemi ini. 'Website' kita khusus untuk pedagang kecil dan pekerja yang enggak bisa 'survive' kalau ada disrupsi sama 'cashflow' mereka, bukan pengusaha yang punya 'savings' banyak,” katanya.

BACA: Perusahaan Indonesia ini memberdayakan kaum miskin sembari mendaur ulang sampah

Sementara itu, pendonor akan disodorkan profil dan cerita dari 10 calon penerima yang dipilih secara acak. Bagirata juga menampilkan tautan ke akun media sosial mereka agar pendonor dapat memutuskan apakah calon penerima tersebut betul-betul membutuhkan uang dari mereka.

“Kalau misalnya donor bisa merasa 'relate' sama 'story' si penerima, mereka bisa langsung menyumbang uang ke akun pribadi mereka. Kita sendiri enggak menyimpan atau mengelola uang,” kata Lody.

Sebaliknya, jika pendonor merasa belum puas dengan sepuluh profil yang ditampilkan, Bagirata akan menampilkan 10 profil berikutnya yang juga dipilih secara acak.

“Algoritma kita akan selalu memprioritaskan penerima yang belum mendapatkan sumbangan sama sekali, tujuannya supaya kita bisa membantu orang sebanyak mungkin,” katanya.

Pendonor dibebaskan untuk memberi berapa pun uang yang mereka mau. “Ada yang nyumbang Rp7.000 sampai Rp3,5 juta sekali kirim juga ada,” sahutnya lagi.

EMPATI TERHADAP SESAMA

Lody mengatakan bahwa ia senantiasa menaruh simpati terhadap mereka yang kurang beruntung.

Meskipun ia tak pernah bergabung di sebuah gerakan sosial sebelum dia memulai Bagirata, Lody mengaku ia punya ketertarikan khusus terhadap isu pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan serta jurang ekonomi dan sosial yang memisahkan orang-orang kaya dan miskin.

(ni) Bagirata bahasa 03
Pendiri Bagirata, Lody Andrian. (Foto: Nivell Rayda)

Anak kedua dari tiga bersaudara ini tumbuh besar di sebuah komplek perumahan kelas menengah di Bekasi. Dulu, perumahannya dikelilingi oleh kampung dan lingkungan yang ditinggali orang-orang berpenghasilan tak seberapa.

“Gue dulu bergaul sama anak-anak kampung. Dulu gue suka maen bola sama mereka. Tetapi begitu perumahan gue mulai berkembang, kampung di sekitar gue mulai tergeser dan tergantikan sama rumah-rumah dan ruko-ruko yang besar. Tiba-tiba temen gue hilang satu persatu,” katanya.

“Gue rasa dari situ sih kenapa gue sekarang punya empati pada penderitaan orang lain.”

BACA: Perempuan penyintas kanker ini berdedikasi mendidik anak-anak putus sekolah di kampung nelayan Jakarta

Empati ini tercermin dari aliran musik metal yang dia gandrungi. Ia kerap menciptakan lagu-lagu yang mengandung berbagai komentar sosial.

Ia juga sangat hati-hati dalam memilih proyek dan klien dalam kehidupan profesionalnya sebagai konsultan desain grafis lepasan.

“Gue cendrung memilih proyek yang punya dampak sosial positif,” katanya.

MENJAGA KEBERLANJUTAN

Sedari awal, Lody menyadari bahwa kesuksesan seorang penerima di platformnya bergantung besar pada keahlian mereka menuliskan cerita-cerita yang memikat hati.

“Enggak semua orang bisa menuliskan pesan yang ingin dia ceritakan dan memikat donor,” katanya.

Karena itulah, Lody kerap menggandeng seniman visual untuk membuat ilustrasi maupun animasi singkat untuk akun Instagram Bagirata. Di dalam beberapa unggahannya, Bagirata menampilkan cerita dari beberapa penerima yang dikemas secara visual.

“Kita prioritasin mereka yang pada waktu itu belum menerima sumbangan. 'Campaign'-nya lumayan berhasil. Banyak yang terinspirasi untuk menyumbang, karena di situasi tertentu cerita mereka memang lebih mengena kalau diceritakan dengan visual ketimbang kata-kata,” katanya.

Meskipun taktik itu berhasil menarik banyak pendonor baru, tantangan berikutnya adalah mendorong orang-orang tersebut untuk menyumbang secara rutin.

“Ngeyakinin orang untuk nyumbang saja sudah susah, apalagi nyuruh mereka menyumbang secara rutin. Yang menyumbang sekali doang sih banyak. Membuat orang untuk menyumbang secara rutin ini lumayan memutar otak sih,” kata Lody.

Beberapa bulan belakangan ini, Bagirata mulai mendekati perusahaan agar mereka mau mendonasikan sebagian keuntungan mereka melalui Bagirata. “Kita sudah kerjasama sama beberapa perusahaan kecil. Tapi kita masih perlu lebih banyak lagi,” katanya.

BACA: Dua pengusaha wanita Indonesia ini mengubah plastik yang sulit didaur ulang menjadi batu bata

Sementara itu, jumlah orang yang mendaftarkan diri sebagai calon penerima terus bertambah akibat dampak pandemi yang berkepanjangan. Masih ada sekitar 2.000 pendaftar yang sudah lolos tahap verifikasi namun masih menunggu kesempatan untuk ditampilkan di situs Bagirata.

“Kita harus ngejaga supply dan demand. Itulah kenapa kita memutuskan untuk menggeser penerima-penerima yang lama-lama supaya yang baru bisa masuk,” katanya.

(ni) Bagirata bahasa 04
Pendiri Bagirata, Lody Andrian. (Foto: Nivell Rayda) 

Meskipun Bagirata baru berusia sembilan bulan, Lody sendiri tidak menyangka situs itu bisa berdiri begitu lama.

“Awalnya, gue pikir Bagirata itu cuma diperluin tiga bulan lah. Cukup untuk sekedar jadi 'financial cushion' sampe kondisi kembali normal, perusahaan 'hire' lagi, orang-orang juga punya kerjaan lagi. Tapi gue salah,” katanya.

“Mudah-mudahan suatu hari kita bisa tutup servis kita, tapi kayaknya itu gak akan terjadi dalam waktu dekat.”

Artikel ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris

Baca juga artikel Bahasa Indonesia yang satu ini.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ni(jt)

Bookmark