Sulap sampah jadi wayang, seniman Indonesia ini bercita-cita jaga warisan budaya Nusantara

Sulap sampah jadi wayang, seniman Indonesia ini bercita-cita jaga warisan budaya Nusantara

(ni) Wayang Bahasa 01
Seniman asal Indonesia, Iskandar Hardjodimuljo memperlihatkan sebuah wayang yang ia buat dari kardus bekas. (Foto: Nivell Rayda)

JAKARTA: Ada sesuatu yang memukau dari wayang buatan Iskandar Hardjodimuljo yang sekilas tampak sederhana.

Wayang-wayang ciptaan seniman Indonesia ini jauh dari kesan elegan dan mewah layaknya wayang tradisional milik dalang-dalang kenamaan yang biasa berpentas di sasana-sasana besar nan megah.

Justru sebaliknya, wayang-wayang Iskandar dihiasi dengan warna-warna cerah dan mentereng, dicat secara serampangan, serta diperuntukkan bagi anak-anak sekolah dan rakyat biasa.

Tetapi yang lebih menarik lagi, wayang-wayang uwuh (yang dalam Bahasa Jawa berarti "sampah") itu tidak dipahat dari kulit ataupun kayu, melainkan terbuat dari kertas kardus dan karton bekas, serta limbah botol plastik dan tempat makanan yang telah usang.

READ: Keeping it old school: A man's 40-year passion in lantern making for Mid-Autumn in Malaysia  

“Lewat wayang uwuh, ada pesan lingkungan hidup, budaya dan sosial,” kata pria yang berusia 55 tahun ini kepada CNA.

“Saya ingin memperkenalkan wayang kepada semua orang, terutama anak-anak. Saya juga ingin mengajarkan bahwa sampah bisa diubah menjadi karya seni dan sesuatu yang mempunyai nilai dan manfaat tinggi.”

(ni) Wayang Bahasa 02
Seniman asal Indonesia, Iskandar Hardjodimuljo memperlihatkan sebuah wayang yang ia buat dari tutup tempat makan dan kemasan air minum bekas. (Foto: Nivell Rayda)

AWALNYA "KARENA HOBI"

Iskandar memang sudah tertarik dengan wayang semenjak kecil. Ia lahir dan besar di sebuah kampung di pinggiran Yogyakarta, yaitu kota yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa dan tempat terakhir di mana seorang sultan Jawa masih bertakhta.

Namun dia tak pernah bermimpi untuk menjadi seorang seniman, apalagi seorang pembuat wayang.

“Waktu SMA, saya pernah membuat batik dengan motif wayang. Waktu kuliah, saya sama sekali tidak tertarik mengembangkan jiwa seni saya,” katanya.

READ: Traditional shadow puppetry with a modern twist revives dying interest in Malaysia

Malahan kecintaannya pada dunia seni tumbuh saat dia mulai bekerja sebagai seorang akuntan, sebuah profesi yang ditekuninya selama 25 tahun.

“Saya melukis karena hobi. Saya belajar secara otodidak. Tetapi saya selalu melukis wayang dari dulu, untuk mengenang masa kecil saya. Waktu kecil, saya sering menonton wayang di kampung,” kata Iskandar.

Lambat laun, Iskandar mulai dikenal sebagai satu dari segelintir seniman yang menggeluti seni melukis wayang secara khusus. Di sekitar tahun 2000-an, dia mulai ikut pameran.

(ni) Wayang Bahasa 03
Iskandar Hardjodimuljo memasangkan benang ke karya terbarunya. (Foto: Nivell Rayda)

“Prosesnya panjang. Tetapi, pada akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seniman,” katanya. Iskandar berhenti bekerja sebagai akuntan pada tahun 2012.

Saat itu, Iskandar hanya melukis tokoh-tokoh wayang di atas kanvas. Ia baru membuat wayang pertamanya di tahun 2013.

“Saya ikut pameran Jakarta Biennale. Waktu itu temanya, ‘Seni di Antara Kita’,” katanya.

READ: Bangladesh's traditional weavers hanging by a thread as factories boom

“Saya waktu itu jadi relawan, mengajar di kampung seni di pinggiran Sungai Ciliwung. Tahun itu banjir besar. Jadi ada banyak plastik, triplek, botol yang hanyut ke kampung tempat saya jadi relawan,” kata Iskandar. “Saya langsung punya ide. Saya bisa bikin wayang dari benda-benda ini.”   

Meskipun awalnya wayang uwuh hanyalah sebuah proyek sampingan untuk pameran, karya seni ini kemudian menjadi sebuah obsesi bagi Iskandar.

“Saya suka membuat wayang dari sampah. Saya bisa berinovasi dengan bahan-bahan yang berbeda. Kreatifitas kita jadi tertantang. Sekarang, kalau saya melihat sampah saya langsung berpikir: ‘Ini bisa saya jadikan apa?’"

KEUNIKAN WAYANG ISKANDAR

Di sanggar kecilnya, Iskandar memamerkan koleksi wayang uwuhnya, serta beberapa lukisan kanvas dan kaca yang menampilkan subyek kegemarannya: Tokoh-tokoh wayang.

Belasan wayang tersebar di lantai studio, sebagian terbuat dari botol plastik yang telah diratakan dan sisa-sisa lembaran plastik bergelombang; torehan spidol hitam membentuk garis muka serta detail pakaian tokoh-tokoh wayang yang ditampilkan.

Ada pula wayang-wayang bercorak warna-warni yang terbuat dari kardus atau kemasan makanan yang diwarnai dengan cat akrilik.

Walau tak sedikit seniman yang bereksperimen dengan barang-barang bekas, boleh dibilang Iskandar adalah satu-satunya perupa yang mengubah sampah menjadi wayang.

(ni) Wayang Bahasa 04
Koleksi wayang yang dihasilkan Iskandar Hardjodimuljo ini terbuat dari sampah domestik. (Foto: Nivell Rayda)

“Saya ingin membangkitkan kembali minat terhadap warisan budaya kita. Wayang sudah semakin ditinggalkan anak-anak muda. Mereka lebih tertarik pada kebudayaan musik dan seni Barat dan modern.”

MENJAGA "KEKAYAAN BUDAYA KITA"

Iskandar ingin menunjukkan bahwa wayang tak kalah menarik dengan kesenian dan budaya modern; salah satunya dengan memperkenalkan ratusan tokoh-tokoh dunia perwayangan, masing-masing dengan ciri fisik, watak dan kesaktian yang berbeda.

Ada tokoh-tokoh wayang yang bisa terbang; ada pula yang dapat menembus bumi dan bebatuan. Ada tokoh-tokoh wayang yang kakinya mengandung racun dan ada juga yang kebal terhadap segala jenis senjata.

“Jenis wayang di Indonesia juga beragam. Masing-masing daerah di Jawa, Bali, Lombok, Sumatra ada ciri khasnya sendiri,” katanya.

Iskandar pun mencoba memperkenalkan beraneka ragam tokoh dan jenis wayang melalui karya-karyanya. “Supaya orang bisa menghargai kekayaan budaya kita,” kata seniman itu.

(ni) Wayang Bahasa 05
Iskandar Hardjodimuljo adalah satu-satunya seniman di Indonesia yang secara rutin membuat wayang dari sampah. (Foto: Nivell Rayda)

Menurut Iskandar, wayang uwuh telah membuat dirinya diakui sebagai seorang seniman terkemuka. Seiring upayanya mengubah sampah menjadi wayang, dia pun mendapatkan banyak undangan untuk memamerkan karya seninya dan mengadakan lokakarya di luar negeri, mulai dari Thailand sampai Italia.  

Ia juga rajin memberikan pelatihan untuk anak-anak dan seniman muda, di mana mereka turut belajar teknik-teknik mengubah sampah menjadi wayang dari sang pelukis ulung.

(ni) Wayang Bahasa 06
Iskandar Hardjodimuljo, seorang mantan akuntan yang menjadi seniman. (Foto: Nivell Rayda)

“Meski saya sering diajak ke luar negeri, saya lebih senang mengajarkan anak-anak di Indonesia mengenai wayang dan seni membuat wayang dari sampah,” katanya.

“Sekarang, baru saya yang secara rutin membuat wayang dari sampah. Mimpi saya ada banyak seniman-seniman lain yang tertarik untuk mengubah sampah menjadi karya seni sekaligus melestarikan warisan budaya kita.”

Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ni(jt)

Bookmark