Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Risiko kesehatan, kecemasan hantui ibu hamil di Indonesia seiring tingginya kematian maternal terkait COVID-19

JAKARTA: Kisah cinta Afrizal dan Iftiyah bermula di bangku SMA.

Selepas lulus dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, keduanya menikah di tahun 2019.

Betapa masa depan nan cerah tampak menanti. Afrizal diterima bekerja di industri energi, dan pasangan ini pindah ke Bekasi, Jawa Barat, tak jauh dari Jakarta.

Semua berjalan mulus, terlebih-lebih saat mereka menanti-nanti kehadiran anak pertama tahun ini.

Namun, roda nasib bergulir, membuat Afrizal — 27 tahun — dirundung kesedihan.

Karena ingin melahirkan ditemani orang tua di kampung halaman, sang istri berangkat ke Yogyakarta sebelum liburan Idul Fitri pada bulan Mei.

Afrizal, yang minta disebut hanya dengan nama depan, lantas menyusul ke Yogyakarta untuk menghabiskan hari raya bersama mereka.

Awal Juni, keduanya dinyatakan positif COVID-19.

Afrizal nyaris tidak menunjukkan gejala apa pun, dan pulih setelah mengisolasi diri selama 10 hari.

Akan tetapi, Iftiyah, dalam kondisi hamil 30 minggu, terus-menerus demam lantas menderita sesak napas.

Dikarenakan keterbatasan sumber daya medis, ia pun dirawat di tiga rumah sakit yang berbeda. Di rumah sakit ketiga, para dokter memutuskan Iftiyah harus menjalani bedah cesar pada tanggal 11 Juli.

Setelah operasi SC, kondisi Iftiyah yang berusia 25 tahun tampak membaik. Ia bahkan tidak kesulitan untuk berkomunikasi dengan suaminya.

“Perjuangannya untuk hidup luar biasa. Tapi tanggal 22 Juli, jam dua siang, staf jaga menelepon. Saya mulai merasa enggak enak. Saya langsung berangkat ke rumah sakit.

“Saya dikabari kalau dia mengalami gagal napas, dan jantungnya berhenti walaupun sudah diberi kejut jantung dua kali. Dia dinyatakan meninggal,” ujar Afrizal kepada CNA.

Menurut perhitungan para pakar, sementara Indonesia berjuang membendung gelombang kedua infeksi COVID-19, angka kematian ibu akibat virus ini terus meningkat. Hal ini mempertinggi risiko kesehatan serta tingkat kecemasan bagi mereka yang tengah mengandung.

Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menyebutkan bahwa sedikitnya 536 kematian ibu akibat virus corona telah tercatat di Indonesia sejak pandemi dimulai — sekitar 18 persen dari total kematian ibu di Indonesia saat ini.

“Peningkatan kematian ibu itu jelas ada, dan kita tahu varian Delta yang sudah menyebar di Indonesia itu sangat menular,” kata dr. Ari Kusuma Januarto, ketua POGI.

“Dan kita juga tahu kalau ibu hamil itu rentan (terhadap varian ini).”

Dokter Ari mengatakan mereka telah melakukan tes terhadap sekitar 15.000 ibu hamil di Jakarta antara Januari dan Mei. Dari jumlah tersebut, 1.600 orang didapati positif.

Ia menambahkan, satu dari sembilan ibu hamil yang terjangkiti COVID-19 menunjukkan berbagai gejala serius.

Hingga Senin (16 Agustus), Indonesia telah mencatat lebih dari 117.000 kematian dan lebih dari 3,85 juta infeksi.

Pekerja mengusung peti mati untuk dikuburkan di bagian khusus jenazah korban COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum Jombang, Tangerang, Rabu, 4 Agustus 2021.

“SAYA CEMAS SEKALIGUS SEDIH”

Bagi mereka yang tengah mengandung, kecemasan dan rasa putus asa dapat meningkat seiring berlarut-larutnya pandemi.

Dita, warga Jakarta yang bersedia diidentifikasi hanya dengan panggilan akrabnya, telah mendengar perihal meningkatnya angka kematian maternal.

Usia kandungan perempuan berusia 37 tahun ini telah memasuki semester kedua, dan dia mengakui bahwa dia tergolong sangat paranoid.

“Saya sering merasa cemas sekaligus sedih karena banyak di lingkungan terdekat saya yang tertular COVID terus meninggal.

“Saya juga marah karena masih ada aja yang abai, engggak percaya kalau COVID itu ada, dan enggak mau divaksin,” ujarnya kepada CNA.

Dia mengatakan bahwa 11 anggota keluarganya telah tertular COVID-19, dan dua di antaranya telah meninggal dunia. Menurutnya, hal ini menjadikan masa kehamilannya diliputi dengan berbagai kekhawatiran.

Kesebelas anggota keluarganya dinyatakan positif di awal Juli, meski mereka tinggal di tempat yang berbeda-beda, antara lain Jakarta, Bekasi, serta Banyumas, kampung halaman ibunya di Jawa Tengah.

Kegundahan Dita begitu mendalam saat ia mengetahui kondisi mereka, sedangkan ia tidak bisa berbuat banyak.

Untuk melindungi diri sendiri, ia sebisa mungkin berdiam di rumah sambil menekuni berbagai hobi di waktu luang agar merasa tenang.

Ia juga mendiskusikan dengan dokternya perihal di mana ia bisa melahirkan sekiranya ia terinfeksi.

Isu kematian maternal yang terus meningkat turut membuat Valda Wibowo khawatir. Perempuan berumur 27 tahun ini tengah hamil 31 minggu.

Seorang kenalannya yang hamil kembar tiga meninggal dunia saat usia kandungannya tujuh bulan. Tak satu pun dari janinnya dapat diselamatkan.

“Jujur, saya semakin lama semakin takut. Pada saat awal kehamilan, saya masih biasa-biasa saja karena COVID belum seganas sekarang.

“Tapi pas masuk trimester akhir kehamilan saya, kasus COVID-nya mulai meningkat, dan varian yang lebih ganas juga mulai muncul. Ditambah lagi banyak berita tentang ibu-ibu hamil yang kena COVID meninggal bersama bayi yang dikandungnya.”

Akhir-akhir ini, ia jarang meninggalkan rumahnya di bilangan Jakarta Timur. Ia hanya keluar untuk memeriksakan kehamilan atau berbelanja kebutuhan rumah dua kali sebulan.

Kedatangan periode yang mencekam ini bertepatan dengan klaim organisasi kesehatan dan kemanusiaan Project HOPE bahwa angka kematian ibu di berbagai wilayah di Indonesia pada bulan Juni dan Juli saja telah melampaui total tahun lalu.

Menurut Project HOPE, di Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Grobogan dan Banyumas — kampung halaman ibunda Dita — telah terjadi setidaknya 85 kematian ibu pada tahun ini, naik dua kali lipat dibandingkan tahun 2020. Data organisasi tersebut menunjukkan bahwa hampir 70 persen dari mereka yang meninggal tahun ini terinfeksi COVID-19.

“Ini betul-betul meresahkan, sekaligus mengingatkan bahwa kita tidak bisa abai terhadap langkah-langkah pencegahan dan pengendalian meskipun jumlah kasus menurun,” kata Direktur Eksekutif Project HOPE untuk Indonesia, Edhie Rahmat.

Ia menyatakan kekhawatiran Project HOPE atas meningkatnya angka kematian maternal di berbagai wilayah lain. “Kita tahu bahwa banyak ibu hamil di Indonesia juga menderita kekurangan gizi kronis dan anemia,” tambahnya.

Menurut Dokter Ari dari POGI, 40 persen ibu hamil di Indonesia menderita anemia. Ia juga mengatakan bahwa 21 persen ibu hamil mengalami obesitas, dan 15 persen menderita hipertensi. “Jadi jelas, semua ini mempengaruhi kehamilan,” ujarnya.

Menurutnya, ibu hamil yang terjangkiti COVID-19 hingga menderita peradangan pada paru-paru bisa jadi harus melahirkan prematur demi keselamatan diri dan janin.

Ketika itu terjadi, ibu dan bayi yang baru lahir harus ditempatkan di ruang perawatan intensif. Namun banyak instalasi rawat intensif yang penuh saat ini.

“Ini juga jadi alasan kenapa angka kematian ibu meningkat,” Dokter Ari menyimpulkan.

“Saya tahu kasus-kasus di mana ibu hamil meninggal begitu sampai (di rumah sakit) karena kesulitan menemukan rumah sakit, pingsan di perjalanan menuju rumah sakit … lalu meninggal begitu saja.”

Dalam kasus-kasus lain, kandungan terpaksa digugurkan demi menyelamatkan sang ibu, tambahnya.

Presiden RI mengatakan perlunya pembatasan guna membendung lonjakan COVID-19 di luar pulau-pulau terpadat. 

PENGGALAKAN VAKSINASI UNTUK IBU HAMIL

Bagaimana meredam kasus-kasus serupa?

Dokter Ari mendesak pemerintah untuk menambah tempat tidur rumah sakit, serta rumah sakit khusus unttuk ibu hamil dan bayi.

Dia juga mengatakan, ada baiknya program kehamilan ditunda selama pandemi masih berlangsung.

Sebelumnya, vaksinasi tidak diperkenankan bagi ibu hamil. Akan tetapi, pada 2 Agustus, lewat keputusan yang berlaku seketika, Kementerian Kesehatan menyetujui vaksinasi COVID-19 untuk mereka.

Disarankan bahwa dosis pertama diberikan pada trimester kedua, menggunakan vaksin berbasis virus yang diinaktivasi seperti Sinovac, serta yang berbasis mRNA seperti Moderna dan Pfizer.

Kondisi janin juga perlu diperhatikan, yakni memiliki berat minimal 42 gram dan panjang 9 cm, kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, dr. Reisa Broto Asmoro.

“Tulang dan tengkorak juga harus sudah cukup keras, dengan kemampuan pendengaran serta perkembangan otak yang cukup baik,” ujarnya dalam konferensi pers pada 4 Agustus.

Dita mengamati bahwa semua kerabatnya yang tertular COVID-19 tetapi bergejala ringan telah divaksinasi. Tidak demikian halnya dengan mereka yang meninggal dunia. Itulah sebabnya, Dita berharap dapat segera divaksinasi.

Ia percaya hal tersebut akan melindunginya dengan lebih baik.

Afrizal punya pandangan yang sama. “Saya pikir vaksinasi akan sangat, sangat efektif... meskipun itu bukan jaminan bahwa seseorang tidak akan tertular COVID-19.”

Dia berharap tak ada lagi yang harus mengalami apa yang telah dia lalui. Afrizal mengatakan betapa dia begitu terpukul, sampai-sampai dia tidak bisa berkonsentrasi penuh di tempat kerja.

“Untuk sementara saya pisah dulu dari dia (bayinya di Yogyakarta), karena saya juga harus kembali bekerja, dan sekarang saya tinggal sendiri. Tanpa istri saya, enggak ada yang bisa merawatnya.”

Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai bagaimana pandemi COVID-19 merenggut anak-anak Indonesia.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ks

Advertisement

Also worth reading

Advertisement