Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

'Anak saya cita-citanya jadi tentara': COVID-19 merenggut anak-anak Indonesia

Seakan-akan dunia Erwin — bukan nama sebenarnya — hancur dalam sekejap.

Bulan lalu, penjual kopi saset berusia 58 tahun ini, yang biasanya mengayuh sepeda di jalanan Bandung, Jawa Barat, untuk menjajakan seduhannya, kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Namun, dukanya tidak berhenti di situ.

“Anak kami demam, enggak bisa makan karena tenggorokannya sakit. Kalau nelan, pasti muntah,” tutur Pak Erwin mengisahkan anak bungsunya yang berusia 11 tahun.

“Saya cuma kasih obat. Saya enggak berani bawa ke rumah sakit karena enggak mau jauh-jauh dari dia, soalnya dia kan punya kelainan fisik.”

Selepas tiga hari, putranya mulai mengalami sesak napas, hingga akhirnya Pak Erwin memutuskan untuk membawanya ke puskesmas terdekat.

“Kami bawa ke puskesmas terus di sana dikasih infus, terus dites PCR (polymerase chain reaction). Hasilnya positif. Satu malam doang di puskesmas, eh terus enggak ada.“

“Saya menyesal kenapa enggak langsung dibawa ke rumah sakit. Saya enggak tahu kalau itu COVID. Waktu itu saya bingung, bawa ke rumah sakit apa enggak, saya kan enggak punya uang. Ya Allah, saya nyesel banget sampai sekarang.”

Anak-anak bukanlah pengecualian bagi penularan COVID-19 yang kian merebak di Indonesia.

Sedikitnya 1.065 anak telah meninggal dunia akibat COVID-19 di negara ini sejak awal pandemi, menurut Profesor Aman Pulungan, ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Ditambahkannya, angka kematian anak-anak meningkat di tengah gelombang infeksi kedua; tercatat lebih dari 100 korban jiwa per minggu sejak Juli.

 “Yang pasti situasinya tidak baik,” ujar Profesor Pulungan kepada CNA, seraya menambahkan bahwa tingkat kematian anak-anak akibat COVID-19 di Indonesia saat ini kemungkinan merupakan yang tertinggi di dunia.

Ia juga mengatakan bahwa sedikitnya 207.000 anak di Indonesia telah terjangkiti. Dari jumlah tersebut, sekitar 90.000 tertular sejak 14 Juli.

Seorang guru berpenampilan sebagai badut mengajar anak-anak di Tangerang. (Foto: REUTERS)

Anak-anak saat ini mewakili 12,5 persen dari seluruh kasus yang terkonfirmasi di Indonesia, meningkat dari bulan-bulan sebelumnya, ujar Profesor Pulungan.

Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa data tersebut belum tentu menggambarkan kondisi yang sebenarnya, karena tingkat tes COVID-19 di Indonesia tergolong rendah, yakni antara 100.000 dan 200.000 tes per hari, sedangkan penduduk Indonesia berjumlah sekitar 270 juta orang.

Sejauh ini, dengan lebih dari 3,6 juta kasus dan 104.000 kematian, para ahli khawatir akan semakin banyak anak yang meninggal.

Pemerintah terus didesak untuk mengambil berbagai langkah cepat tanggap demi mencegah kian berjatuhannya korban.

RISIKO LEBIH TINGGI PADA BAYI

Duka kehilangan anak juga ditanggung oleh Ibu Tantien Hermawati, 35.

Bulan Desember lalu, ia harus merelakan bayinya. Ibu rumah tangga asal Tuban, Jawa Timur, ini mengatakan bahwa di bulan kedelapan kehamilan, dokter kandungan mendeteksi kelainan jantung pada janinnya.

Ia disarankan untuk ke Surabaya demi mendapatkan perawatan, tetapi ia ragu, sebab di ibu kota Jawa Timur tersebut kasus COVID-19 tengah membubung.

Meski ia berhasil melahirkan secara normal di Tuban, setelah 1,5 bulan orang-orang terdekatnya memperhatikan bahwa bayinya tampak “membiru”.

Pada akhirnya, Tantien pun berangkat ke Surabaya agar bayi tersebut dapat menjalani kateterisasi jantung untuk tujuan diagnosis dan perawatan.

Upaya tersebut gagal, dan anaknya harus menjalani operasi kedua.

Bayinya menjalani tes swab, dan dinyatakan positif.

“Bayi saya diisolasi sekitar 14 hari sampai akhirnya meninggal bulan Desember 2020,” katanya kepada CNA.

Ia tidak tahu bagaimana bayinya dapat tertular sementara dia sendiri negatif COVID-19.

Anak-anak di lingkungan Muara Baru, di tengah wabah COVID-19 menyebar di Jakarta, 14 Juli. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Profesor Pulungan menyebutkan, sekitar 42 persen kematian anak di Indonesia akibat COVID-19 terjadi pada mereka yang berusia di bawah satu tahun. Artinya, bayi-bayi tersebut lahir di masa pandemi.

“Artinya sistem kita sedang tidak baik-baik saja — sistem pemantauan masa kehamilan maupun pasca melahirkannya,” duganya.

Profesor Pulungan, yang juga direktur eksekutif International Pediatric Association (IPA), menambahkan bahwa komorbiditas merupakan faktor yang mendasari kematian bayi di bawah satu tahun.

Termasuk dalam komorbiditas umum adalah penyakit jantung bawaan, ujarnya, dan kesulitan memakaikan masker pada bayi turut berandil dalam masalah tersebut.

Edhie Rahmat, direktur eksekutif Indonesia untuk Project HOPE, suatu kelompok pelayanan kesehatan nirlaba, mengatakan bahwa salah satu kemungkinan penyebab bayi terjangkiti COVID-19 hingga meninggal adalah kebiasaan di masyarakat untuk mengunjungi bayi yang baru lahir setelah dipulangkan dari rumah sakit.

Menurutnya, tanpa disadari, kunjungan keluarga dan kerabat untuk menengok bayi dan ibunya dapat menyebarkan COVID-19. “Menyedihkan sekali. Merayakan kelahiran bayi adalah tradisi, dan sulit bagi ibu ataupun keluarga untuk menolak orang-orang yang datang tanpa mematuhi prokes... Tapi, sekarang ini risikonya terlalu besar.”

SERANGKAIAN FAKTOR PERBESAR ANGKA KEMATIAN

Berbagai faktor lain ikut berperan.

Tata Sudrajat, wakil ketua bidang dampak program dan kebijakan untuk lembaga swadaya masyarakat Save the Children di Jakarta, mengatakan sedikitnya ada tiga penyebab utama kematian akibat COVID-19 pada anak-anak.

Kurangnya nutrisi, akses terhadap layanan kesehatan, serta kepatuhan terhadap protokol kesehatan merupakan yang paling menonjol.

Anak-anak bermain di desa Sukadami, Jawa Barat. (Foto: Dwi Ari Prastyanto)

“Sejak awal pandemi tahun lalu, anak-anak Indonesia termasuk yang paling tinggi tingkat kegagalannya dalam menerima vaksinasi rutin serta berbagai layanan kesehatan dan gizi penting, dan ini membuat mereka makin terpapar risiko infeksi dan kematian, ditambah lagi gizi buruk atau kondisi medis bawaan sejak dini,” ujar Tata.

Dia menyebutkan, ketika ada anggota keluarga yang terinfeksi dan melakukan isolasi mandiri, anggota keluarga lain ikut berisiko, terutama jika kondisi rumah tidak layak untuk upaya tersebut.

“Infeksi dan kematian pada anak akan terus meningkat kalau keadaannya tidak berubah,” kata Tata kepada CNA.

Dalam beberapa pekan terakhir, varian Delta ditemukan pada sebagian besar kasus COVID-19 di Indonesia.

Akan tetapi, menurut Profesor Pulungan, belum jelas apakah varian ini merupakan alasan utama meningkatnya kematian pada anak-anak.

Dia menyoroti bahwa dalam beberapa pekan terakhir, sistem pelayanan kesehatan memang kewalahan akibat lonjakan infeksi.

“Kalau di saat yang bersamaan semua orang sakit dan sistem kesehatan kolaps, dan tidak ada tempat tidur untuk anak-anak, tidak ada tempat tidur untuk bayi, lalu harus bagaimana?”

Dia menyebutkan ada sekitar 18.000 infeksi baru pada anak per pekan secara nasional. Jika sekurang-kurangnya 1.000 di antaranya membutuhkan unit perawatan intensif (ICU) atau unit perawatan intensif untuk bayi baru lahir (NICU), maka negara tidak siap.

Dia menambahkan bahwa saat ini, di seluruh Indonesia, tersedia kurang dari 1.000 tempat tidur ICU yang melayani anak-anak.

SERUAN TINDAKAN

Profesor Pulungan mendesak pemerintah untuk menambah jumlah tempat tidur di rumah sakit untuk anak-anak, meningkatkan pengujian dan penelusuran, serta mempercepat vaksinasi untuk remaja yang mewakili 30 persen penduduk Indonesia.

Dokter Siti Nadia Tarmidzi, juru bicara pemerintah untuk penanganan dan vaksinasi COVID-19, menuturkan dalam konferensi pers Juli lalu bahwa saat ini belum ada vaksin yang cocok bagi anak-anak.

“Satu-satunya perlindungan adalah kebijakan kesehatan yang ketat,” ujarnya.

Tata dari Save the Children sepakat. “Tanpa bantuan masyarakat internasional melalui COVAX, krisis COVID-19 di Indonesia akan cepat lepas kendali. Kami berharap masyarakat internasional mendengarkan.”

Dia juga menyarankan peningkatan upaya penyadartahuan publik tentang COVID-19 lewat penyediaan informasi dan bantuan sosial, konseling, serta layanan hotline.

Seorang siswa menerima dosis pertama vaksin Sinovac Biotech produksi China untuk COVID-19 di sebuah sekolah menengah di tengah lonjakan kasus di Jakarta, Indonesia, 1 Juli 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Sementara itu, Pak Erwin — penjual kopi saset — berusaha untuk lebih waspada.

Semenjak kematian anak ketiganya pada 15 Juli lalu, seluruh anggota keluarganya telah menjalani tes swab. Istrinya didapati positif dan harus menjalani isolasi mandiri.

“Sekarang bener-bener saya jagain istri saya. Saya enggak mau kehilangan anggota keluarga lagi. Saya sangat nyesel.”

“Anak saya cita-citanya jadi tentara walaupun punya kelainan fisik. Tapi sekarang dia sudah meninggal.”

Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai relawan pemulasaraan di Bogor yang menjemput jezanah dari rumah-rumah seiring melemahnya sistem kesehatan Indonesia akibat COVID-19.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini

Source: CNA/ks

Advertisement

Also worth reading

Advertisement