Skip to main content
Best News Website or Mobile Service
 
WAN-IFRA Digital Media Awards Worldwide
Best News Website or Mobile Service
 
Digital Media Awards Worldwide
Hamburger Menu

Advertisement

Advertisement

Asia

Perempuan ini mengubah rumahnya menjadi penampungan bagi lebih dari 300 kucing jalanan dan terlantar

Perempuan ini mengubah rumahnya menjadi penampungan bagi lebih dari 300 kucing jalanan dan terlantar

Dita Agusta, pendiri Rumah Kucing Parung di kawasan Parung, Bogor, Jawa Barat, sedang memberi makan beberapa dari 300 kucing yang ada di penampungan tersebut. (Foto: Nivell Rayda)

PARUNG, Indonesia: Di suatu siang yang terik, seorang perempuan tua tiba di Rumah Kucing Parung, sebuah bangunan satu lantai berwarna kuning mentereng di daerah Parung, Bogor, Jawa Barat.

Perempuan 80-an tahun ini datang bersama anaknya dari tempat tinggalnya di Jakarta Barat. Selama 1,5 jam lamanya, mereka melintasi jalan kecil yang berliku di atas sebuah mobil minivan putih yang membawa 10 ekor kucing.

Pendiri Rumah Kucing Parung, Dita Agusta mengatakan kepada CNA bahwa setelah bertahun-tahun tinggal sendirian di Jakarta, janda tua itu berniat pindah ke Bandung dan tinggal bersama anak lelakinya.

Namun, si anak mewanti-wanti bahwa sang ibu hanya boleh membawa serta dua dari 20 kucing peliharaannya.

“Ini sudah kunjungan kedua,” kata Dita selepas ia menemani perempuan tua itu mengelilingi penampungan kucing itu dan menyapa kedelapan kucing-kucing yang ia telah titipkan saat kunjungannya yang pertama.

Anak-anak kucing terlantar yang telah diselamatkan di Rumah Kucing Parung di kawasan Parung, Bogor, Jawa Barat. (Foto: Nivell Rayda)

“Ibunya maksa nemenin anaknya ke sini, walapun rumahnya jauh. Dia khawatir anaknya bakalan buang kucing-kucingnya kalau dia gak nemenin,” katanya lagi.

Dita sudah cukup akrab dengan cerita-cerita semacam ini. Semenjak ia mengubah rumahnya menjadi penampungan kucing-kucing jalanan dan terlantar lima tahun yang lalu, ibu tiga anak ini sudah mendengar pelbagai alasan pemilik-pemilik kucing menyerahkan peliharaan kesayangan mereka.

BACA: Klinik kesehatan ini alasan sejumlah masyarakat Kalimantan hentikan pembalakan liar

“Ada yang menyerahkan kucingnya karena tetangga, karena di tempat baru mereka enggak boleh ada peliharaan, ada yang karena konflik antara suami istri, antara orang tua dan anak, ada juga yang karena mereka ga mampu lagi punya peliharaan,” katanya.

Akibat pandemi COVID-19, jumlah orang yang menyerahkan kucing-kucing mereka ke Rumah Kucing Parung telah meningkat drastis. “Sebelum pandemi, 80 persen kucing-kucing di sini itu stray. Sekarang 50 (persen kucing jalanan) 50 (persen kucing peliharaan),” kata Dita.

Dita Agusta, 46, mendirikan Rumah Kucing Parung di tahun 2015. (Foto: Nivell Rayda)

Setiap minggu, Rumah Kucing Parung kedatangan lima sampai 10 penghuni baru, membuat kewalahan penampungan seluas 644 meter persegi yang juga merupakan rumah pribadi Dita dan keluarganya ini.

“Sementara itu, donasi semakin sedikit karena COVID-19. Semuanya kan terdampak,” katanya.

Saat ini uang yang diterima dari donatur hanya cukup untuk membeli makanan dan obat-obatan bagi penghuni penampungan. Dita harus merogoh kocek sendiri untuk menggaji enam karyawan yang dimiliki oleh Rumah Kucing Parung.

Saking banyaknya penghuni baru yang datang setiap minggu, Dita sendiri tidak yakin berapa jumlah persis kucing-kucing yang ada di Rumah Kucing. “Lebih dari 300,” katanya, menduga-duga.

HIDUP DI ANTARA 300 KUCING

Dita, sang suami dan ketiga anak mereka tinggal di sebuah sudut kecil di Rumah Kucing Parung yang besarnya tak lebih dari 80 meter persegi. Di sinilah mereka berbagi tempat dengan beberapa kucing peliharaan pribadi mereka.

Sementara itu, halaman depan mereka diperuntukkan bagi kucing-kucing pendatang baru dan mereka yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk satu ekor kucing jalanan yang baru saja pulih dari operasi untuk mengangkat kanker di matanya. Ada pula anak-anak kucing yang memiliki berbagai jenis luka dan infeksi penyakit.

Kucing-kucing sedang bersantai di Rumah Kucing Parung di kawasan Parung, Bogor, Jawa Barat. (Foto: Nivell Rayda)

Seekor kucing pendatang baru biasanya membutuhkan waktu dua minggu sampai mereka menyesuaikan diri kepada kehidupan di penampungan. Setelah mereka terbiasa di lingkungan baru, kucing-kucing itu lalu dimasukkan ke bagian dalam penampungan di mana mereka harus belajar hidup dengan ratusan penghuni-penghuni lainnya.

Terkecuali beberapa kucing yang perlu perhatian khusus dan mereka yang kerap membuat ulah, kucing-kucing di sini bebas berkeliaran di halaman belakang yang bertembok tinggi dan dikelilingi oleh kanopi-kanopi panjang yang tak hanya melindungi kucing dari panas dan hujan tetapi juga mencegah mereka memanjat ke luar penampungan.

BACA: Perempuan penyintas kanker ini berdedikasi mendidik anak-anak putus sekolah di kampung nelayan Jakarta

Dita dan keenam staf Rumah Kucing Parung selalu tampak sibuk, mulai dari mempersiapkan makanan, memberikan obat dan vitamin sampai membersihkan kotoran kucing.

Dita Agusta harus mengurusi lebih dari 300 kucing yang ada di Rumah Kucing Parung. (Foto: Nivell Rayda)

Suami Dita, Muhammad Lutfi mengatakan bahwa awalnya ia menginginkan rumah keluarga mereka terpisah dari ruang untuk penampungan kucing.

“Dulu kita punya ruang untuk keluarga kita sendiri, kucing juga punya ruang mereka sendiri. Tetapi setelah kucingnya jadi tambah banyak kita semua harus belajar hidup di antara kucing. Sekarang, kucingnya bisa ada di ruang keluarga, masuk ke kamar,” kata Lutfi, 52 tahun, kepada CNA.

“Salah satu kucing kita pernah ngerusakin TV 50 inci kita. Saya juga pernah pelihara burung dimakan sama kucingnya. Tapi gimana yah? Namanya juga kucing.

“Saya jadi belajar banyak dari istri saya, gimana caranya ikhlas dan menyayangi semua makhluk hidup.

Dengan rendahnya tingkat adopsi, kebanyakan kucing di Rumah Kucing Parung akan menghabiskan sisa hidup mereka di penampungan. (Foto: Nivell Rayda)

Lutfi mengatakan seiring berjalannya waktu, ia semakin banyak mendedikasikan perhatiannya ke penampungan. Ia pun melepaskan pekerjaannya sebagai konsultan perizinan di tahun 2017 demi membantu istri mengurusi Rumah Kucing Parung.

Ia kini memiliki sebuah usaha pengembangbiakan ikan kecil-kecilan agar dapat terus menafkahi keluarga dan juga membiayai penampungan kucing.

Dua anak mereka kini turut membantu mengurusi Rumah Kucing Parung, sementara satu lagi anak mereka masih sekolah.

TAK SENGAJA JADI AKTIVIS

Meski menyayangi binatang semenjak kecil, Dita baru mulai memelihara kucing di tahun 2000, saat ia berusia 26 tahun. “Waktu itu anak-anak saya sudah mulai besar. Kita sekeluarga penyayang binatang. Kita sempet pelihara burung, kelinci dan kita kepikiran melihara kucing,” katanya.

Kucing pertama mereka adalah kucing ras berbulu panjang yang pada akhirnya beranak pinak dan hidup sampai tua bersama keluarga Dita.

Kucing-kucing jalanan pertama yang dirawat oleh keluarga itu justru diselamatkan oleh Lutfi di tahun 2003. “Dia ketemu anak-anak kucing di got dekat masjid. Ibu mereka enggak tahu ada di mana. Suami saya kasihan dan bawa pulang mereka,” kata Dita.

Sejak donasi berkurang akibat pandemi, Dita Agusta harus merogoh kocek sendiri untuk membayar gaji karyawan Rumah Kucing Parung. (Foto: Nivell Rayda)

Tindakan suaminya dan kehadiran anak-anak kucing terlantar di kehidupan mereka menumbuhkan rasa empati yang sangat mendalam di diri Dita.

“Saya merasa, kucing-kucing seperti merekalah yang butuh perhatian dan kasih saying saya. Merekalah yang benar-benar butuh pertolongan saya,” katanya.

Sejak saat itulah, Dita sebisa mungkin menyelamatkan kucing-kucing jalanan, terutama mereka yang tak mungkin bertahan hidup dengan sendirinya. “Yang saya 'rescue' itu korban tabrak lari, kucing yang sakit atau punya disabilitas dan anak-anak kucing tanpa induknya. Saya sudah enggak fikir dua kali bawa mereka pulang,” kata Dita.

BACA: Dua pengusaha wanita Indonesia ini mengubah plastik yang sulit didaur ulang menjadi batu bata

Seiring berjalannya waktu, perempuan ini telah menyelamatkan kucing dengan berbagai macam kondisi medis dan korban kekerasan terhadap hewan.

“Saya sudah me-rescue kucing yang punya disabilitas, terluka parah, kucing yang lumpuh, kucing dengan kanker dan infeksi virus, korban kekerasan, kucing yang teraniaya, bahkan yang kesiram minyak panas,” katanya.

Dita pun akhirnya berkenalan dengan banyak pecinta dan penyelamat kucing-kucing terlantar melalui media sosial.

Seorang pekerja memberikan obat ke salah satu penghuni Rumah Kucing Parung. (Foto: Nivell Rayda)

Lama kelamaan Dita dan keluarganya pun memelihara 30 kucing di rumah lama mereka yang hanya berukuran 60 meter persegi. Namun di tahun 2014, tetangga mereka mulai mengeluhkan keberadaan kucing-kucing di rumah mereka.

“Tanah ini saya beli 2014. Awalnya saya beli tanah ini buat jadi peternakan, buat usaha,” kata Lutfi. “Karena tetangga sudah mulai komplen, yang pertama saya bangun dua ruangan di belakang buat kucing-kucing kita. Selama tujuh bulan kita bangun rumah kita sendiri.”

BACA: Sulap sampah jadi wayang, seniman Indonesia ini bercita-cita jaga warisan budaya Nusantara

Teman-teman Dita akhirnya mengetahui bahwa Dita berencana pindah ke sebuah lahan yang cukup luas. Mereka pun menanyakan apakah mereka juga boleh menitipkan beberapa kucing yang telah mereka selamatkan di tempat baru ini.

“Mereka tahu kalau tempat ini luas dan warga di sini juga ramah terhadap kucing. Satu per satu mereka datang, nanya boleh gak mereka nempatin kucing-kucing yang mereka rescue di sini. Saya sudah lupa siapa yang pertama kali ngasih kucing-kucingnya, yang jelas sih sesama pecinta kucing,” katanya.

Seorang pekerja meneteskan vitamin ke salah satu penghuni Rumah Kucing Parung. (Foto: Nivell Rayda)

“Lama-lama, jumlah kucingnya bertambah. Saya diskusikan dengan keluarga, bagaimana jika kita mengubah rumah kita menjadi tempat penampungan kucing, dan semuanya setuju. Saya memang awalnya enggak niat tempat ini jadi shelter, jadi saya enggak bisa bilang pasti kapan shelter ini berdiri. Tetapi yang jelas itu tahun 2015.”

Sebagai timbal balik menitipkan kucing-kucing yang mereka selamatkan di Rumah Kucing Parung, teman-teman Dita membantu mempromosikan penampungan kucing tersebut, termasuk mencari donatur dan calon pengadopsi.

RUMAH AMAN SAMPAI AKHIR HIDUP MEREKA

Dita rajin mempromosikan kucing-kucing yang ada di Rumah Kucing Parung agar mereka diadopsi orang. Ia kerap mengikutsertakan kucing-kucingnya di kontes maupun pertunjukan kucing. Hasilnya, sudah banyak kucing-kucing dari penampungan itu yang menang perlombaan, termasuk mereka yang dahulunya besar di jalanan.

“Saya pengin menunjukkan kalau kucing 'stray' itu bisa jadi binatang peliharaan yang baik, asalkan kita rajin menyayangi dan mengurus mereka,” katanya.

Berbagai penghargaan yang dimenangkan para penghuni maupun mantan penghuni Rumah Kucing Parung. (Foto: Nivell Rayda)

Akibat pandemi COVID-19, pelbagai perlombaan dan pertunjukan kucing terpaksa ditunda, tetapi di saat perlombaan-perlombaan ini masih dapat berlangsung pun hanya tiga atau empat kucing dari penampungan ini yang akhirnya menemukan rumah baru mereka setiap minggunya.

“Seperti 'shelter-shelter' yang lain, tingkat adopsinya pasti rendah. Kebanyakan (dari penghuni penampungan) sampai akhir hidupnya di sini. Setidaknya di sini mereka tidak akan mati kelaparan atau di-'abuse',” kata Dita.

“Penyebab utama kucing itu akhirnya terlantar itu kembali lagi, 'over'-populasi. Kita harus mengedukasi orang tentang pentingnya sterilisasi untuk mengendalikan populasi kucing.”

Dita menyadari bahwa upaya untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sterilisasi sangatlah sulit. Tanpa adanya pengendalian populasi kucing di Indonesia, Dita menyadari bahwa jumlah kucing yang masuk ke penampungannya akan terus bertambah.

Rumah Kucing Parung kini sudah semakin penuh sesak. Dita sekarang sedang membangun bangunan tambahan sebesar 200 meter persegi yang menempel bangunan asli penampungan tersebut.

“Masih banyak kucing di luar sana yang membutuhkan pertolongan,” katanya.

Kucing-kucing sedang bersantai di Rumah Kucing Parung di daerah Parung, Bogor, Jawa Barat. (Foto: Nivell Rayda)

Artikel ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia yang satu ini.

Ikuti akun CNA di Facebook dan Twitter untuk membaca artikel-artikel terkini.

Source: CNA/ni(jt)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement