Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Mendadak kalut: Goyang lesu industri dangdut Indonesia di tengah ketidakpastian pandemi

Mendadak kalut: Goyang lesu industri dangdut Indonesia di tengah ketidakpastian pandemi
Dangdut sering disebut sebagai musik nasional Indonesia. (Foto milik Netha Salsabila)

JAKARTA: Dengan rias wajah lengkap dan kostum gemerlap, Netha Salsabila sempat kerap memukau penonton saat ia mendendangkan lagu-lagu dangdut berirama rancak yang mengundang siapa pun untuk ikut berjoget.

Perempuan berusia 32 tahun dengan nama panggung Ranesa Queen ini adalah biduan dangdut di kota Madiun, Jawa Timur, Indonesia.

Seperti banyak penyanyi dangdut lain, ia terpaksa mengubah profesi dan gaya hidupnya akibat COVID-19.

Ketika pandemi meruak tahun lalu, panggung hidupnya pun bertukar latar. Alih-alih menyemarakkan pertunjukan demi pertunjukan di malam hari, ia kini menyiapkan makanan untuk para pelanggan di pagi hari.

Alasan saya alih profesi karena banyak job-job yang batal dikarenakan sulitnya perizinan untuk hajatan serta hiburan, kayak pernikahan atau ulang tahun,” jelasnya kepada CNA.

Makanya saya pindah ke kuliner, jualan online makanan kayak lele goreng.”

Lazim diketahui, pertunjukan dangdut tak jauh dari nyanyi, musik, dan tari.

Ketika situasi masih normal, menyelenggarakan pertunjukan semacam itu tidaklah rumit. Namun, di masa pandemi, pelik untuk menyatukan semua unsur tadi ketika segala jenis pentas terbuka untuk khalayak tak boleh digelar.

Dengan segala macam pembatasan yang berlaku di tempat-tempat umum, sulit bagi para seniman dangdut untuk mencari nafkah saat peluang mengadakan pergelaran publik lenyap begitu saja.

Beberapa penyanyi dan musisi yang diwawancarai CNA mengakui bahwa penghasilan mereka saat ini jauh lebih rendah daripada sebelumnya. Mereka tak sabar untuk kembali ke panggung dan meneruskan pertunjukan apabila semua pembatasan sosial telah dicabut.

Menurut para pakar musik, genre yang kerap disebut sebagai musik nasional Indonesia ini hadir di Asia Tenggara (Indonesia dan Malaya) pada akhir 1950-an.

Bermula dari penggabungan musik Melayu dengan beragam elemen Hindustan dan Arab, dangdut versi kontemporer telah memasukkan banyak unsur musik kerakyatan asli Indonesia.

Kemasyhuran dangdut, khususnya di Indonesia, mencapai puncaknya pada tahun 1990-an ketika genre ini menjadi bentuk hiburan massal sekaligus sarana promosi pesan-pesan nasional dan berbagai narasi populer.

Pedangdut legendaris Inul Daratitsta tampil di depan ribuan tentara angkatan udara dalam sebuah upacara di Jakarta, 10 April 2004, hari jadi ke-58 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara. (Foto: AFP/Inoong)

Saat ini, sebagai sejenis musik kerakyatan, dangdut terus hidup di hati para penggemar dari berbagai lapisan.

Popularitasnya yang tinggi telah menarik minat banyak muda-mudi — termasuk Netha — untuk menjadi penyanyi, musisi, atau penari dangdut.

Akan tetapi, seiring memburuknya situasi COVID-19, banyak pelaku industri musik dangdut yang terpaksa menanggung dera pandemi akibat sedikit atau bahkan tidak adanya kesempatan untuk naik pentas.

BERJUANG CARI PELUANG

Alur kisah "mendadak dangdut"  dialami Netha 17 tahun silam, ketika seorang teman memintanya menggantikan seorang biduan yang mangkir naik panggung secara sepihak.

“Kebetulan saya hobi nyanyi dari kecil. Saya bergabung di grup namanya Sentana.

“Saya belajar banyak dari musisi-musisi yang sudah saya anggap sebagai saudara saya sendiri,” ujar Netha.

Sebagai penyanyi dangdut, ia dapat mengantongi sekitar Rp5 juta (US$350) per bulan dari serangkaian pertunjukan.

Tawaran-tawaran tampil di kota lain, seperti Malang atau Tuban, dapat mendongkrak penghasilannya hingga Rp7,5 juta per bulan.

Kini, ia hanya mengumpulkan sekitar setengah dari angka tersebut.

“Saya kangen manggung sama makan-makan pas hajatan. Sekarang saya cuma duduk manis di rumah, enggak bisa ngumpul bareng seniman-seniman lain.”

Lagi pula, menjalankan bisnis makanan adalah tugas sulit yang membutuhkan kesabaran dan keuletan ekstra, katanya.

”Pagi-pagi banget saya udah harus siap-siap, terus foto-foto makanan buat di-upload ke akun medsos,” ujar Netha, seraya menambahkan bahwa media sosial menjadi penghubung antara ia dan sebagian besar pelanggannya.

Mantan penyanyi dangdut lain, Novi Listiana, telah beralih ke sektor pertanian demi memenuhi kebutuhan hidup sejak pandemi.

Tinggal di Boyolali, Jawa Tengah, perempuan berusia 23 tahun ini sebelumnya sering tampil dari desa ke desa di kampung halamannya.

“Saya jadi penyanyi bukan karena suara saya bagus, tapi karena saya satu-satunya tulang punggung keluarga kecil saya.

“Jadi saya melakukan ini demi keluarga, nyanyi sejak tahun 2013, waktu saya masih SMP,” ujarnya.

Ketika ia menikah di tahun 2018, Novi sempat berpikir untuk mengubah karier sekaligus citranya.

Di negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini, penolakan dari sebagian kalangan yang menganggap bahwa cara berpakaian beberapa pedangdut perempuan terlalu terbuka dan “tidak Islami” tak ayal membuat Netha bimbang.

Saat memutuskan untuk meninggalkan pentas dangdut, Novi kesulitan menemukan peluang kerja lain, lebih-lebih di tengah kondisi pandemi Indonesia yang kian parah.

“Sejak pandemi COVID-19, saya sepi job, bahkan gak ada. Mau cari kerja di mana-mana juga susah,” ujarnya.

Suaminya, seorang pemain kendang, turut memutuskan untuk meninggalkan karier bermusik.

Sejak pandemi, Novi Listiana menjadi petani demi memenuhi kebutuhan hidup. (Foto milik Novi Listiana)

Lelaki itu lantas mengajari istrinya bercocok tanam, dan mereka pun mulai mencari nafkah sebagai petani kecil.

Awalnya risi dan malu. Tapi semakin lama malah jadi seneng dan sampai sekarang nyaman juga jadi petani,katanya kepada CNA.

Menurut Novi, dari segi pendapatan tak ada yang berkurang. Dengan penghasilan kasar Rp2 juta per bulan, angka yang dulu dia dapatkan sebagai penyanyi dangdut tidaklah berbeda.

Namun, sebagian musisi dangdut tak seberuntung itu. Agus Suprapto dan Listyo Pramono, misalnya.

Agus, yang selama hampir dua dekade berprofesi sebagai kibordis dangdut, kini menjalani hari-harinya sebagai tukang servis elektronik.

Dia juga membuka warung makan sederhana serta menyewakan Playstation 3 (PS3).

Pertengahan 2020 lalu, sekitar Juli atau Agustus, saya sampai harus menjual keyboard Yamaha saya buat bisa beli alat-alat servis elektronik, beli TV bekas buat rental PS3 saya, sama buat buka kios,” tutur pria berusia 46 tahun itu.

Dulu, pada musim-musim hajatan, sebagai kibordis ia dapat tampil setiap hari dan membawa pulang sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 usai tiap pertunjukan.

Kini pendapatannya bergantung pada siapa saja yang memanggilnya untuk memperbaiki alat-alat elektronik, keterampilan yang dia pelajari secara otodidak lewat video-video Youtube. Panggilan servis biasanya datang dua atau tiga kali dalam sepekan.

 “Mungkin karena pandemi, panggilan servis jadi lebih sedikit. Sekarang sih yang penting bertahan hidup,” ujar ayah dari satu anak usia prasekolah ini.

Dia mengakui, menjadi teknisi kecil-kecilan telah menyajikan suka dan duka tersendiri. Kadang dia marah jika ada pelanggan di kampungnya yang tidak sanggup membayar.

Ada kalanya pula dia ikut senang melihat kebahagiaan pelanggan yang puas dengan hasil kerjanya memperbaiki alat-alat elektronik yang rusak.

Dari satu orang saya bisa dapat maksimal seratus ribu rupiah. Ya, namanya juga hidup di desa,” kata warga Desa Joho, Jawa Timur, tersebut.

Ada juga yang enggak ngasih dengan alasan belum ada uang. Kalau enggak dikasih, ya udah enggak apa-apa. Saya soalnya sudah pernah ngerasain kaya gitu.”

Bagi mantan gitaris dangdut Listyo Pramono, menjadi pengangguran merupakan pukulan berat sejak ia kehilangan mata pencaharian.

Ketika pandemi melanda, pria berumur 40 tahun yang selama 15 tahun berprofesi sebagai musisi dangdut itu beralih menjadi buruh pabrik gula.

Namun, dari waktu ke waktu dia menganggur, sebab peluang kerja di pabrik tersebut hanya berlaku musiman.

ADA ASA UNTUK DANGDUT: PENGAMAT

Analis musik Bens Leo mengakui bahwa pandemi telah memaksa banyak seniman dangdut untuk beralih profesi.

Namun, ia menyebutkan bahwa hal yang sama juga dialami oleh para seniman genre lainnya.

Meski demikian, ia percaya bahwa para pelaku pertunjukan dangdut secara keseluruhan memang menghadapi tantangan yang lebih besar, sebab di Indonesia jumlah mereka lebih besar jika dibandingkan dengan para pelaku industri hiburan yang lain.

Pembatasan-pembatasan akibat pandemi, yang berujung pada kian sempitnya kesempatan, telah menimbulkan persaingan yang jauh lebih ketat bagi mereka dalam memperoleh pekerjaan atau tawaran manggung.

Kini, ketika situasi pandemi COVID-19 di Indonesia mulai menunjukkan secercah asa dan banyak daerah perlahan membuka diri, acara-acara skala kecil dengan protokol kesehatan yang ketat akhirnya diperbolehkan.

Pengamat seperti Bens yakin bahwa panggung dangdut akan kembali menggelora dengan begitu banyaknya pelaku industri ini yang merasa bahwa mereka “sudah punya DNA dangdut.

Ia percaya para seniman dangdut kemungkinan besar akan kembali tampil seiring datangnya lebih banyak tawaran dari berbagai pihak.

Netha, sang biduan dangdut yang kini berjualan makanan, tak ragu-ragu mengungkapkan keinginannya untuk kembali pamer suara jika peluang itu kembali terbuka.

Akan tetapi, dia bersikeras bahwa bisnis kulinernya akan diutamakan, dan berdendang dangdut akan ia lakukan sesekali saja.

“Kalau panggung hiburan kan tiap tahun akan ada pendatang baru, jadi saya mau fokus ke usaha kuliner. Syukur-syukur kalau bisa menjalankan dua-duanya,” ujar Netha.

Kibordis Agus dan gitaris Listyo juga berharap pandemi akan benar-benar berakhir dalam waktu dekat, sehingga mereka dapat kembali ke panggung.

Bagi sebagian individu seperti Novi yang telah menekuni bidang lain, kembali ke alunan melodi dan gelora goyang dangdut tak lagi jadi pilihan.

Saya udah melupakan dunia gemerlap itu, karena yang saya rasain, bahagia itu enggak harus hidup mewah.”

Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai bagaimana seorang penjual tahu bersemangat menyebarkan cinta membaca.  

 Ikuti CNA di Facebook dan Twitter untuk lebih banyak artikel.

Source: CNA/ks

Advertisement

Also worth reading

Advertisement