Skip to main content
Best News Website or Mobile Service
 
WAN-IFRA Digital Media Awards Worldwide
Best News Website or Mobile Service
 
Digital Media Awards Worldwide
Hamburger Menu

Advertisement

Advertisement

Indonesia

‘Mungkin besok saya akan kaya-raya’: Hasil tak tetap, risiko keselamatan ancam penambang intan Kalimantan

‘Mungkin besok saya akan kaya-raya’: Hasil tak tetap, risiko keselamatan ancam penambang intan Kalimantan

Perhiasan berlian di Pasar Martapura, Kalimantan Selatan. (Foto: CNA/Kiki Siregar)

  • Tambang Cempaka di Kalimantan terkenal di Indonesia karena cadangan intannya. 
  • Namun berbagai risiko keselamatan mengancam para penambang di sana. Mereka juga tidak mempunyai penghasilan tetap. 
  • Pemerintah berencana mengalihfungsikan tambang Cempaka menjadi bagian geopark dengan tujuan meningkatkan ekonomi lokal.

BANJARBARU, Kalimantan Selatan: Kebanyakan orang memilih bersantai di akhir minggu, tapi Salim, seorang penambang intan berumur 47 tahun, tidak pernah punya waktu untuk mencicipi kemewahan tersebut. 

Pada hari Minggu yang terik, Salim membenamkan dirinya dalam air sampai ke pinggang untuk mendulang permata di Cempaka, tambang intan tradisional terbesar di Indonesia yang terletak di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. 

Inilah pekerjaan Salim tiap hari dari jam 7.30 pagi hingga jam 4 sore selama 25 tahun terakhir, memutar-mutar alat pendulang berbentuk contong bulat untuk memisahkan butir-butir intan dari pasir. 

“Belum tentu ketemu intan setiap hari. Tergantung lagi untung atau tidak,” kata Salim. 

“Sering seminggu penuh saya tidak menemukan intan sama sekali,” kata penambang lulusan Sekolah Dasar ini. 

Salim telah mendulang intan di Cempaka selama 25 tahun. (Foto: CNA/Kiki Siregar)

Jika sedang untung, kadang Salim juga menemukan hingga setengah gram emas per hari, karena area pertambangan ini juga punya cadangan emas. 

Namun penghasilan Salim tetap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya yang berumur 4 tahun. 

Rata-rata, pemasukannya tiap bulan kurang dari satu juta rupiah. 

Penambangan intan dan emas tanpa izin yang menggunakan cara-cara tradisional sudah bertahun-tahun dilakukan di daerah ini. 

Selain penghasilan yang tidak menentu, penambang seperti Salim juga terancam nyawanya karena daerah ini sering mengalami tanah longsor. 

Pemerintah telah mencoba mencarikan mata pencaharian lain dengan penghasilan yang lebih stabil dan risiko keselamatan yang lebih sedikit – seperti bertani – bagi para penambang Cempaka. Namun karena kekurangan ketrampilan dan pengalaman, sedikit dari mereka yang mau beralih profesi. 

Menurut kepala dinas pariwisata Banjarbaru, Ahmad Yani, pemerintah tahun depan berencana mengalihfungsikan tambang intan Cempaka menjadi sarana edukasi bagi turis yang ingin belajar tentang penambangan tradisional dan sejarah lokal. 

Para penambang akan diperkerjakan sebagai pemandu pariwisata yang bertugas menunjukkan cara-cara penambangan tradisional. Harapannya bakal ada juga pemasukan bagi pemerintah daerah dari usaha baru ini, kata Ahmad. 

Penambang di Cempaka, Kalimantan Selatan, belum tentu menemukan intan tiap hari. (Foto: CNA/Kiki Siregar)

INTAN SEBESAR TELUR MERPATI

Cempaka adalah salah satu tambang intan terbesar di Indonesia. 

Pada bulan Agustus 1965, tambang ini menjadi buah bibir nasional karena ditemukannya sebutir intan 166,75 karat berukuran hampir sebesar telur merpati. 

Batu permata ini diterbangkan ke Jakarta pada awal bulan September. Presiden pertama Indonesia Soekarno waktu itu menamakannya Trisakti, yang berarti “tiga kesaktian” dalam bahasa Sansekerta. 

Intan Trisakti diperkirakan berharga triliunan rupiah pada saat itu. 

Pemerintah menjanjikan hadiah bagi ke-24 penambang yang menemukan intan Trisakti. Mereka akan dikirim pergi haji dan segala keperluan anak cucu mereka akan ditanggung oleh pemerintah. 

Namun pada tanggal 30 September terjadi percobaan kudeta di Indonesia. Setahun setelahnya, Soekarno dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan darurat kepada Soeharto yang kemudian menjadi presiden kedua Indonesia. 

Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sejak itu intan Trisakti hilang tanpa jejak. Untungnya, pemerintah masih sempat mengirim para penambang penemu batu berharga tersebut ke Saudi Arabia untuk naik haji. 

Trisakti bukan satu-satunya intan berukuran besar yang pernah ditemukan di tambang Cempaka. 

Pada tahun 1850, sebutir permata 106,7 karat juga ditemukan di sana. Empat tahun sebelumnya, ditemukan intan berukuran 20 karat. 

Karena penemuan-penemuan ini, sejarah tambang intan Cempaka akan menjadi bagian besar dari obyek pariwisata yang nanti dibangun, kata Ahmad. 

“Semua harus tahu bahwa pada tahun 1965 penambang di Cempaka menemukan intan sebesar telur merpati,” katanya. 

Menurut pegawai senior dinas pariwisata Banjarbaru, Noor Purbani, satu hal lagi yang menarik dari tambang intan Cempaka adalah kepercayaan dan tabu yang berkembang di antara penduduk lokal.

Misalnya, penambang yang menemukan batu intan dilarang memakai kata tersebut untuk menyebut temuannya. Mereka lebih baik memakai kata “galuh”, yang berarti “gadis” dalam bahasa lokal di daerah tersebut. 

Menurut Noor, para penambang percaya bahwa batu intan yang mereka temukan akan lenyap jika mereka menyebutnya dengan istilah tersebut. 

RISIKO BAGI PENGHASILAN TAK MENENTU

Mereka yang mencari untung di tambang Cempaka tidak pernah mempunyai penghasilan tetap. 

Muhammad Yusuf yang berumur 50 tahun telah mendulang intan di Cempaka selama 30 tahun. Anaknya yang sudah dewasa juga menjadi penambang di sana. 

“Karena tidak ada pekerjaan lain,” katanya. 

Menurut Muhammad, anaknya tidak sempat menempuh pendidikan menengah karena ia tidak mampu membiayainya. 

Namun mereka berdua mengakui bahwa masa-masa emas tambang intan Cempaka telah berlalu. Sekarang makin sulit menemukan batu berharga di sana. 

Menurut Salim, waktu jaya-jayanya dulu ada ribuan penambang mencoba peruntungan mereka di Cempaka. Sekarang tinggal beberapa ratus yang tersisa. 

Faktor keselamatan juga menjadi masalah. 

Menurut Noor dari dinas pariwisata daerah, walaupun menambang intan dan emas telah menjadi tradisi di Cempaka, aktivitas tersebut adalah cara yang berbahaya untuk mencari uang. 

“Keamanan dan keselamatan pekerja bukan faktor utama di sini,” kata Noor. 

Tanah longsor adalah salah satu ancaman terbesar bagi para penambang intan. Tidak ada data resmi jumlah kematian yang disebabkan tanah longsor selama beberapa tahun belakangan. Namun menurut cerita penduduk, insiden tanah longsor cukup sering terjadi. 

Tambang Cempaka rentan terhadap tanah longsor. (Foto: CNA/Kiki Siregar)

Misalnya, sedikitnya tiga penambang intan meninggal dalam dua insiden tanah longsor terpisah pada bulan Juli tahun lalu. 

Lima lagi penambang meninggal pada bulan April 2019 karena terkubur tanah longsor. 

Salim menambahkan: “Dulu di sini waktu masih ramai, tanah longsor terjadi hampir tiap bulan.”

Menurut kepala dinas perencanaan Banjarbaru, Kanafi, ada takhayul lokal yang mengatakan meninggalnya penambang adalah pertanda bahwa batu intan berukuran besar akan ditemukan di daerah tersebut. 

“Tugas kami adalah mengubah kepercayaan ini,” katanya. 

PASAR BAGI PECINTA BATU PERMATA

Penambang yang menemukan intan biasanya akan menjualnya kepada tengkulak. Si tengkulak ini kemudian akan mengirimnya untuk dipoles di Martapura, kira-kira 15 menit bermobil dari Cempaka. 

Dulu Martapura adalah tempat pemolesan intan yang ramai, namun sekarang seperti kota mati karena permintaan jauh berkurang. 

Seorang pemoles intan di Martapura bernama Yusuf mengatakan ia telah menjalani profesinya selama 25 tahun. 

“Saya belajar cara memoles intan dari ayah saya,” kata Yusuf, 47 tahun, pada CNA. 

Yusuf melarang anaknya mengikuti jejaknya menjadi pemoles intan. (Foto: CNA/Kiki Siregar)

Yusuf memerlukan waktu enam bulan untuk mempelajari cara memoles intan. Sekarang ia melarang anak-anaknya mengikuti jejaknya. 

Yusuf hanya dibayar Rp 400.000 per gram, sehingga penghasilannya tergantung kepada ukuran batu intan yang ia poles. 

Berlian, intan yang sudah dipoles, biasanya kemudian dijual dalam bentuk perhiasan di toko-toko di Martapura. 

Martapura adalah pasaran berharga bagi para pecinta permata karena di situ juga bisa ditemukan berlian dari Afrika dan Eropa selain dari Cempaka sendiri. 

Seorang penjual berlian bernama Imu mengatakan ia telah menjual perhiasan dan berlian di Martapura selama 30 tahun. 

“Di sini tersedia berlian seharga satu juta hingga puluhan juta rupiah,” katanya. 

Berlian dari Cempaka, Afrika, dan Eropa bisa ditemukan di Pasar Martapura, Kalimantan Selatan. (Foto: CNA/Kiki Siregar)

Bagaimana nasib Pasar Martapura jika tambang intan tradisional ditutup?

Menurut Kanafi dari dinas perencanaan, pasar tersebut bisa terus buka karena perusahaan tambang PT Galuh Cempaka beroperasi di luar area perluasan geopark yang direncanakan.  

“PT Galuh Cempaka melakukan penambangan modern di sini,” kata Kanafi.

“Industri intan akan terus berjalan,” tambahnya. 

LESTARIKAN ALAM DAN PEMBERDAYAAN PENDUDUK LOKAL

Cempaka dan Martapura telah lama menjadi simbol kejayaan provinsi Kalimantan Selatan. 

Di provinsi ini juga terdapat Meratus Geopark, area terlindungi untuk konservasi, riset, pariwisata, dan pendidikan. Geopark adalah area yang mengandung berbagai macam unsur geologis dan dilestarikan sebagai warisan alam. 

Tambang intan Cempaka terletak tak jauh dari batas terluar Meratus Geopark. 

Sehingga menjadi penting untuk melestarikan area tambang tersebut dan menjadikannya bagian dari Meratus Geopark, kata Kanafi. 

“Kami ingin membangun sarana pendidikan yang lengkap,” kata Kanafi kepada CNA. Di dalamnya akan termasuk sebuah museum intan, tambahnya. 

“Penduduk Cempaka selama ini bekerja sebagai penambang dan tiap tahun tambang itu pasti menelan korban jiwa. Membuka lokasi pariwisata dengan menarik tiket bisa menjadi solusi,” kata Kanafi. 

Analis kebijakan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia – yang membawahi geopark di Indonesia, Gunardi Kusumah, mengatakan tujuan pembentukan geopark bukan hanya untuk menyelamatkan lingkungan, tapi juga melestarikan budaya serta meningkatkan ekonomi lokal.

“Jika tambang di situ mempunyai sejarah sendiri, itu nilai tambah,” katanya. 

“Asal narasinya bisa dikonfirmasi,” tambah Gunardi. 

Tambang PT Galuh Cempaka di Kalimantan Selatan. (Foto: CNA/Kiki Siregar)

Aktivis lingkungan hidup Kisworo Dwi Cahyono, direktur eksekutif lembaga swadaya masyarakat Walhi Kalimantan Selatan, menyambut baik inisiatif pemerintah ini. 

Menurutnya, mengalihfungsikan tambang tradisional menjadi obyek pariwisata edukatif akan membantu melestarikan alam di sekitarnya. 

Juga akan menyelamatkan nyawa manusia, tambahnya.

Namun ia menekankan bahwa penduduk lokal perlu dilibatkan sebanyak mungkin dalam proses ini. 

“Penduduk lokal harus diberdayakan. Penambang yang kehilangan pekerjaannya bisa menjadi pemandu pariwisata atau pendidik yang mengajarkan tentang proses tradisional pertambangan,” kata Kisworo. 

“Jika tidak dilibatkan, mereka hanya akan pindah ke daerah lain buat menemukan tempat baru untuk ditambang,” tambahnya. 

Saat ini, para penambang intan di Cempaka masih menggantungkan harapan mereka setinggi langit. Bagi Salim, pekerjaan yang dia lakukan tiap hari adalah simbol harapan itu sendiri. 

“Dalam pekerjaan ini, saya bisa berkhayal tinggi. Hari ini saya miskin, tapi besok mungkin saya tiba-tiba jadi kaya-raya,” katanya. 

 

Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris. 

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai kekhawatiran usaha mikro kecil menengah (UMKM) akibat kenaikan BBM. 

Ikuti CNA di Facebook dan Twitter untuk lebih banyak artikel. 

Source: CNA/ks(ih)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement