Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Asia

Keabadian yang terancam: Satu-satunya gletser tropis Indonesia diperkirakan cair tahun 2025

Memperingati Hari Bumi, CNA menilik laju cairnya Es Abadi di Papua akibat perubahan iklim.

Keabadian yang terancam: Satu-satunya gletser tropis Indonesia diperkirakan cair tahun 2025
Kondisi gletser tropis di Puncak Jaya, Papua, pada Februari 2021. (Foto: PT Freeport Indonesia/Yohanes Kaize)

JAKARTA: Sejak dulu, murid-murid sekolah dasar Indonesia diajari tentang adanya sesuatu yang menakjubkan di negeri mereka: terdapat lapisan es di Pegunungan Jayawijaya, Papua - satu-satunya gletser tropis di Asia. 

Terletak di Puncak Jaya, fenomena alam ini lebih dikenal dengan istilah Salju Abadi.

Namun, dalam beberapa tahun saja, para guru mungkin tak akan bisa lagi menyampaikan fakta geografi menarik ini kepada siswa-siswi mereka.

Setelah ada selama sekitar 5.000 tahun, gletser tersebut kini terancam lenyap. Penelitian menunjukkan bahwa lapisan es tersebut terus mencair hingga sedikit saja yang masih tersisa.

 “Tahun di mana gletser tersebut akan menghilang adalah antara 2025 dan 2027,” kata Donaldi Permana, Koordinator Pusat Penelitian dan Pengembangan pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kepada CNA. Donaldi telah mempelajari Salju Abadi secara ekstensif sejak 2009.

Pemanasan global diyakini merupakan penyebab utama mencairnya gletser tersebut.

Menurut Donaldi, hal ini sudah terjadi sejak revolusi industri pada tahun 1850, ketika negara-negara maju bergeser dari perekonomian agraris ke perekonomian yang didominasi industri. Akibat peralihan tersebut, emisi gas rumah kaca meningkat, menjadikan suhu lebih hangat di mana-mana.

“Tapi kami baru tahu setelah 1990-an, bahwa gletser (di Indonesia) mencair,” ujarnya.

Gunung Jayawijaya terletak di Taman Nasional Lorentz dengan ketinggian 4.884 mdpl. Nama lain untuk gunung tertinggi di Indonesia ini adalah Piramida Carstensz, karena terdiri dari beberapa puncak dengan sebutan yang berbeda-beda, kata Donaldi.

Menurutnya, gletser-gletser tropis lain di Amerika Selatan dan Afrika juga terus mencair.

Akan tetapi, ketinggian Puncak Jaya lebih rendah daripada gunung-gunung bergletser tropis lainnya, sehingga lapisan es di sinilah yang akan lebih dahulu hilang.

Akhir bulan lalu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga melaporkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat kemungkinan lenyapnya gletser di Puncak Jaya pada tahun 2025.

Salju Abadi di Puncak Jaya pada tahun 2016. (Foto: BMKG/Donaldi Permana)

CAIR MAKIN CEPAT

Menurut Donaldi, beberapa studi telah dilakukan untuk mengukur area gletser di Puncak Jaya.

Berdasarkan kematangan tanah dan pola sebaran vegetasi di sekitar gletser, luasnya disimpulkan mencapai sekitar 19 km persegi pada tahun 1850, paparnya.

Sementara berdasarkan data dari citra satelit, area gletser berkurang menjadi sebatas 2 km persegi pada tahun 2002.

Pada tahun 2018, Salju Abadi menyusut menjadi 0,46 km persegi. Tahun lalu, hanya 0,27 km persegi yang tersisa. Artinya, proses mencairnya kian laju dari waktu ke waktu.

Demi mempelajari hal ini lebih lanjut, Donaldi dan rekan-rekan mengekstrak beberapa inti es dari gletser tersebut pada tahun 2010 dengan mengebor sedalam 32 meter hingga ke batuan dasar. Sejumlah inti es ini kemudian diangkut untuk diteliti.

Tim ini juga memasang pipa polivinil klorida (PVC) untuk mengukur seberapa banyak dari lapisan gletser yang mencair dengan mengukur ketebalannya.

Pada tahun 2015, mereka menemukan bahwa pipa tersebut telah terpapar setinggi lima meter. “Itu artinya sedalam satu meter hilang tiap tahun,” kata Donaldi.

Mereka juga mencatat bahwa cuaca di Indonesia yang lebih kering dan lebih hangat akibat El Nino pada tahun 2016 mempercepat laju mencairnya salju.

“Dari 2015 hingga 2016, hanya dalam satu tahun, kita kehilangan lima meter,” tambahnya.

Peneliti mengkaji ketebalan es pada tahun 2015. (Foto: PT Freeport Indonesia/Yohanes Kaize)

Dia pun mengatakan bahwa dari 2016 hingga 2021, ketebalan salju menyusut lebih lanjut sedalam 12,5 meter.

“Berdasarkan angka-angka tersebut, kita bisa menyimpulkan telah terjadi percepatan (mencairnya lapisan es),” ujarnya. Ini tidak mengherankan, sebab saat gletser mencair, area sekitarnya menjadi lebih luas sehingga menyerap lebih banyak radiasi matahari, imbuh Donaldi.

Gletser memiliki peran penting sebagai indikator iklim Bumi dan proses perubahannya. Mencairnya lapisan es ini juga merupakan indikator nyata adanya pemanasan global.

Dari sejumlah inti es yang diekstraksi oleh Donaldi dan rekan-rekannya, mereka mencatat adanya deposit tritium, yang mengindikasikan berlangsungnya serangkaian uji coba nuklir yang dilakukan oleh Uni Soviet dan Cina di era 1960-an.

“Uji coba tersebut menghasilkan tritium. Komposisi ini tercatat di semua gletser yang ada di dunia,” ujar Donaldi.

Secara umum, mencairnya gletser berkontribusi pada kenaikan permukaan laut, tambahnya.

“Kontribusi gletser (di Indonesia) ini barangkali tidak terlalu signifikan, karena wilayah awalnya tidak seluas yang ada di Amerika Selatan atau Greenland… Tapi binatang-binatang dan pepohonan di sekitar wilayah Papua bisa terkena dampaknya, meski sayangnya ada belum ada penelitian tentang ini.”

Donaldi juga mengungkapkan adanya suku asli di kawasan sekitar yang menganggap gletser tersebut sakral. Meski demikian, sejauh ini belum ada penelitian khusus tentang kelompok ini dan apa pengaruh menghilangnya gletser ini bagi mereka.

“KEBANGGAAN KAMI AKAN HILANG”

Selain Donaldi, ilmuwan lain yang telah meneliti gletser Puncak Jaya adalah Yohanes Kaize.

Beliau merupakan kepala ilmuwan di PT Freeport Indonesia, perusahaan pertambangan emas dan tembaga. Tambang Grasberg, yang menyimpan salah satu cadangan tembaga dan emas terbesar di dunia, berjarak hanya beberapa kilometer dari Puncak Jaya.

Menurut Yohanes, ketika cuaca cerah, Salju Abadi tampak jelas dari Grasberg.

Dia telah mengunjungi gletser tersebut beberapa kali dalam tujuh tahun terakhir guna memeriksa kualitas udara dan air di daerah itu, sekaligus curah hujannya.

Yohanes juga memantau serta memotret lapisan es tersebut dari udara.

“Area gletser sudah banyak berkurang. Sedih sekali,” tutur Yohanes.

“Sebelumnya di sana juga ada beberapa gletser yang lebih kecil, tapi sekarang sudah hilang.”

Menurutnya, es yang mencair akan mengalir ke anak-anak sungai dan danau di dekat puncak, lantas mungkin berdampak pada sungai di sana.

Hal ini pada akhirnya dapat berpengaruh pada Laut Arafura yang terletak di antara Australia bagian utara dan pesisir selatan New Guinea, ujarnya. Namun, menurutnya, dampaknya bisa jadi tidak terlalu kentara.

“Volume (air) sungai atau danau mungkin akan meningkat, tetapi mungkin tidak terlalu banyak,” katanya.

Ia juga mencatat keberadaan beberapa suku yang tinggal di sana, meski ia tidak yakin suku mana yang menganggap sakral gletser tersebut. 

Meski demikian, sebagai warga asli Papua, Yohanes menyatakan: “Kami orang Papua percaya alam dan manusia itu saling terhubung. Makanya kami juga pakai sebutan Ibu Pertiwi.

“Jadi mereka mungkin punya legenda-legenda lokal tentang gletser itu. Kalau gletsernya hilang, legenda itu juga akan hilang.”

Dia memperkirakan, semua gletser di Puncak Jaya akan hilang pada tahun 2030.

“Sebagai orang Papua… Satu-satunya gletser di kawasan Oseania, satu-satunya di Indonesia, saya bisa bilang kami membanggakan ini. Tapi kalau nanti sudah hilang, kebanggan kami juga akan hilang,” ujarnya kepada CNA.

“Jadi sekarang kita harus sama-sama selamatkan Bumi. Hal-hal sesederhana menanam pohon dan tidak buang sampah sembarangan saja sudah bagus. Mudah-mudahan kita masih bisa mengagumi gletser ini sampai saat-saat terakhir.”

Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai usaha radio komunitas sediakan informasi penting seputar Merapi.

Ikuti CNA di Facebook dan Twitter untuk lebih banyak artikel.

Source: CNA/kk(ih)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement