Skip to main content

Advertisement

Advertisement

Indonesia

Batu membara dan awan panas: Radio komunitas sajikan informasi penting seputar Merapi

Batu membara dan awan panas: Radio komunitas sajikan informasi penting seputar Merapi
Sukiman Mohtar Pratomo, pendiri Lintas Merapi, menyapa pendengar dari studio di stasiun yang berlokasi di Desa Sidorejo, Jawa Tengah. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

YOGYAKARTA, Indonesia: Dengan suara lembut dan membuai, Mujianto menyapa para pendengarnya. Ia pun membacakan kabar penting terbaru dari para vulkanolog Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Ia menyampaikan peringatan bahwa Gunung Merapi, yang berjarak hanya empat kilometer dari desa tempat tinggalnya di Boyolali, Jawa Tengah, terus menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas.

Sejak 2019, Merapi terus melontarkan batu-batu membara dari lambung magmanya. Sesekali pula gunung ini meletus, memuntahkan tinggi-tinggi abu panas ke udara, membentuk awan yang menyelimuti kawasan sekitar dengan hitam kelabunya jelaga.

“Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di area yang berpotensi bahaya,” ujar Mujianto kepada para pendengar di akhir pengumuman.

Petani di siang hari dan penyiar radio amatir di malam hari, Mujianto dan enam orang lain di MMC FM telah menyajikan informasi kepada penduduk Desa Samiran tentang ancaman Merapi — gunung berapi paling aktif di Indonesia — sekaligus mendidik mereka tentang mitigasi bencana sejak 2002.

MMC merupakan singkatan dari Merapi Merbabu Community (juga gunung berapi, Merbabu terletak tepat di sisi utara Merapi). MMC FM ialah satu dari delapan radio komunitas yang dijalankan oleh masyarakat di lereng-lereng Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Tiap kali erupsi terjadi, kedelapan radio ini menjadi sumber informasi vital — bahkan kadang satu-satunya sumber informasi — bagi penduduk di kawasan masing-masing, menyampaikan kabar terkini dari pos-pos pemantauan lokal, pusat-pusat vulkanologi, serta lembaga-lembaga mitigasi bencana.

 “Sebelum ada radio ini, warga sulit untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang Merapi. Kadang-kadang warga mendapat berita atau omongan dari masyarakat luar Merapi, yang enggak akurat dan bikin panik,” kata Mujianto kepada CNA.

Mujianto, petani dan penyiar amatir, berpose di depan radio komunitas Merapi Merbabu Community FM di Desa Samiran, Jawa Tengah. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

Remon, penyiar amatir berusia 42 tahun dari radio komunitas Gema Merapi di Desa Wukirsari, D.I. Yogyakarta, mengatakan bahwa radio dapat digunakan untuk mendidik masyarakat agar lebih siap menghadapi erupsi.

“Ada orang-orang yang enggak mau ngungsi karena mikir: ‘Ah enggak mungkin desa saya kena (efek letusan)’.

“Ada juga yang bilang: ‘Orang-orang di desa sebelah enggak ngungsi, terus kenapa kami harus ngungsi?’ Kami harus mengedukasi mereka kalau lain daerah itu lain juga ancaman dan tingkat risikonya,” jelas Remon kepada CNA.

Sebegitu pentingnya peran radio komunitas dalam hal tanggap darurat dan kesiapsiagaan bencana di sekitar Merapi, para pejabat pemerintah, akademisi, serta aktivis telah berupaya membangun jaringan radio serupa di berbagai daerah rawan bencana lainnya.

MENGISI KESENJANGAN INFORMASI

Terletak hanya empat kilometer dari kawah Merapi sekaligus menghadap ke guratan menceluk pada lereng tenggaranya yang sering dialiri lava, Desa Sidorejo di Klaten, Jawa Tengah, senantiasa terancam petaka.

Pemerintah telah melengkapi desa ini dengan sirene di berbagai titik guna memperingatkan penduduk akan kemungkinan letusan.

“Tapi sirenenya kadang bunyi ketika tidak dibutuhkan, entah karena korsleting atau yang lain. Sebaliknya, kadang pas erupsi malah diam saja karena masalah teknis,” kata Sukiman Mohtar Pratomo, warga setempat, kepada CNA.

“Kami jadi mikir: ‘Pasti ada cara supaya kami bisa saling berkomunikasi dengan cepat dan efisien, ke banyak orang sekaligus.’ Tahun 2002, akhirnya kami ketemu jawabannya: ‘Kenapa enggak radio saja?’”

Bersama beberapa orang, pria 52 tahun tersebut kemudian mendirikan Lintas Merapi FM.

Masyarakat Sidorejo pada mulanya acuh tak acuh dengan keberadaan radio komunitas ini. Namun, mengudara 24 jam sehari, Lintas Merapi FM membuktikan faedah besarnya ketika Merapi meletus empat tahun kemudian.

“Kami juga ikut mengungsi, dan kami siaran dari tempat pengungsian. Kami ngasih informasi ke para pengungsi apa saja yang terjadi di puncak gunung. Kami terus sampaikan informasi dari BPPTKG,” Sukiman mengisahkan.

“Radio ini bisa ditangkap dari jarak 15 kilometer, jadi orang-orang di pusat pengungsian dari mana-mana bisa mendengarkan siaran kami. Kami meneruskan informasi tentang peluang jadi sukarelawan, kekurangan bantuan, dan lain-lain, sekaligus memberi hiburan ke para pengungsi dan juga sarana mereka bisa mengrekspresikan diri.”

Tujuh puluh persen rumah di kawasan tersebut masih memiliki radio — berkabel maupun bertenaga baterai — dan sebagian warga mendengarkan siaran lewat fitur radio di ponsel mereka, imbuh Sukiman.

Di sisi lain Merapi, K FM yang dirintis pada tahun 2004 sebagai klub radio di satu pondok pesantren juga telah menunjukkan nilai manfaatnya kepada masyarakat Desa Dukun, Magelang, Jawa Tengah. “K” merupakan singkatan dari “Komunitas”.

“Sebelum (erupsi 2006) kami lebih banyak fokus ke isu pendidikan dan pemuda karena penyiar kami anak-anak sekolah. Kami belum fokus secara khusus ke kesiagaan bencana,” kata Shadiq Asnawi, pendiri K FM sekaligus guru di pesantren itu, kepada CNA.

Ketika Merapi meletus pada tahun 2006, pesantren tersebut menjadi salah satu tempat pengungsian dan pusat penyaluran bantuan.

Shadiq Asnawi, guru dan pendiri radio komunitas K FM di Desa Dukun, Magelang, Jawa Tengah. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

“Orang-orang kemudian menghubungi kami, menanyakan tempat-tempat pengungsian lain ada di mana, dan apakah di sana ada orang-orang dari desa mereka, karena mereka terpisah dari keluarga atau anak-anak mereka lagi sekolah waktu mereka ngungsi,” lanjutnya.

Radio ini pun menjadi titik tengah arus informasi. “Kami langsung bikin satu tim untuk menerima dan memproses informasi dari masyarakat, dan satu tim untuk verifikasi,” ujar Shadiq.

Siaran K FM dimulai setelah jam sekolah, sedangkan MMC dan Gema Merapi mengudara dari jam enam sore hingga tengah malam.

BERAT SAMA DIPIKUL

Letusan tahun 2006 yang menewaskan dua orang dan memaksa lebih dari 100.000 orang untuk mengungsi, mendorong tiga stasiun radio — Lintas Merapi FM, MMC FM dan K FM — untuk membentuk Jaringan Lintas Merapi (Jalin Merapi), jaringan radio-radio komunitas di sekitar lereng gunung tersebut.

Menurut Sukiman, berjejaring memungkinkan mereka untuk berbagi ide, pengetahuan, informasi, kontak, dan sumber daya.

“Kami membuat iklan layanan masyarakat dan jingle dan kita bagikan juga ke yang lain. Kami giliran wawancara ahli vulkanologi dan orang BPBD.

“Kami ikut pelatihan mitigasi bencana yang diadakan pemerintah atau LSM, lalu menyampaikan apa yang kami pelajari ke lingkungan kami masing-masing,” ujarnya.

Jalin Merapi menginspirasi warga setempat untuk mendirikan radio komunitas mereka sendiri-sendiri; jumlah anggota jaringan ini pun berubah dari waktu ke waktu.

 “Mendirikan radio itu mudah. Butuh paling 20 juta (US$1,393) sudah punya radio. Yang susah itu ya mengisi frekuensinya dengan program-program bermanfaat yang menarik buat pendengar,” tambahnya.

Sukiman Mohtar Pratomo, ketua jaringan radio komunitas Jalin Merapi. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

Menurut Hanik Humaida, Kepala BPPTKG, pihaknya dan Jalin Merapi telah bekerja sama erat sejak lama.

“Informasi apa yang kami punya segera kami sebarkan ke publik. Relawan (Jalin Merapi) bisa mendapatkan informasi secara langsung dari kami. Mereka juga bisa menghubungi kami untuk acara diskusi dan wawancara,” katanya kepada CNA.

Sebaliknya, jaringan ini pun memberikan informasi lapangan kepada BPPTKG.

“Mereka sangat membantu dalam hal pendataan di lapangan. Para relawan menyampaikan informasi tentang peristiwa tertentu seperti hujan abu, sehingga kami tahu arah dan seberapa jauh abunya jatuh.

“Mereka juga memberi informasi tentang lahar,” tambahnya. Lahar adalah aliran piroklastik lumpur, pasir, dan bebatuan yang dipicu oleh hujan.

AGAR TETAP RELEVAN

Menurut para relawan Jalin Merapi, radio masih punya tempat di era media sosial dan layanan online streaming.

Sejak awal pun Jalin Merapi sudah sedemikian aktif di media sosial demi memperluas jangkauan. Namun, Sukiman selaku ketua Jalin Merapi mengatakan bahwa keduanya harus berjalan beriringan — yang satu tidak akan dapat menggantikan yang lain.

“(Media sosial dan radio) itu punya dua tujuan yang berbeda. Kami menyebarkan informasi yang kami terima dari sumber resmi ke masyarakat Merapi lewat radio. Kami mengumpulkan informasi dari masyarakat Merapi dan menyebarkannya ke dunia luar lewat media sosial,” jelasnya.

Bebatuan membara berguguran di lereng Merapi, gunung berapi paling aktif di Indonesia. Aktivitas vulkanik Merapi telah meningkat sejak 2019. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

Mujianto selaku penyiar MMC mengatakan bahwa radio komunitasnya kini memiliki tugas lain di era media sosial, yakni menyaring gempuran kuat informasi dan disinformasi di internet.

“Misi kami sejak awal itu menyampaikan informasi yang akurat tentang Merapi, makanya orang-orang percaya sama kami, menghubungi kami tiap kali melihat hal-hal yang berhubungan dengan Merapi lewat online.

“Informasi-informasi ini kami verifikasi ke BPPTKG atau anggota jejaring lainnya, dan mengedukasi masyarakat mana hoaks mana fakta,” ujarnya.

Eko Teguh Paripurno, direktur Pusat Penelitian Penanggulangan Bencana Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta, mengatakan bahwa meski jumlah pendengar sebagian radio mengalami penurunan, hal itu tidak dialami oleh para anggota Jalin Merapi, terutama ketika bencana melanda.

“Ketika kondisi darurat, radio tetap punya peranan penting. Selama bencana, tidak semua orang punya akses ke media sosial, bias saja listrik padam, atau bisa juga jaringan seluler. Kalau kondisi normal, media sosial mungkin punya jangkauan yang lebih baik, tapi kalau sudah emergency, radio mungkin jadi pilihan yang lebih baik untuk komunikasi,” jelasnya kepada CNA.

“Kehadiran Jalin Merapi sudah menginspirasi banyak orang di daerah rawan bencana untuk memulai jaringan radio komunitasnya sendiri, seperti mereka yang tinggal di lereng Sinabung, Semeru, Kelud, dan Agung,” ujar Eko, merujuk kepada sejumlah gunung berapi aktif yang telah meletus dalam beberapa tahun terakhir.

 “Mendirikan radio itu gampang. Tapi untuk bisa konsisten mengumpulkan informasi yang akurat dan menyebarkannya secara tepat waktu, itu yang sulit. Tapi kalau bisa dilakukan dengan benar, informasi yang disebarkan itu mungkin bisa menyelamatkan nyawa.”

Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai bagaimana hobi balap mobil model bangkit semula semasa pandemi. 

Ikuti CNA di Facebook dan Twitter untuk lebih banyak artikel.

Source: CNA/ni(ih)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement