Skip to main content
Best News Website or Mobile Service
 
WAN-IFRA Digital Media Awards Worldwide
Best News Website or Mobile Service
 
Digital Media Awards Worldwide
Hamburger Menu

Advertisement

Advertisement

Indonesia

Dulu dan sekarang: Titik nol Bom Bali, 20 tahun kemudian

Sehubungan peringatan 20 tahun Bom Bali 2002 pada tanggal 12 Oktober, CNA mengunjungi titik nol Bom Bali untuk melihat apa saja yang telah berubah. 
 

 Dulu dan sekarang: Titik nol Bom Bali, 20 tahun kemudian
Monumen Bom Bali 2002 di Kuta, Bali. Lebih dari 200 orang dari 22 negara terbunuh dalam insiden ini, serangan teroris terburuk dalam sejarah Indonesia. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

BALI, Indonesia: Pada sebuah Sabtu malam, barisan klub malam di Jl. Legian penuh sesak dengan pengunjung yang meliuk-liukkan tubuh berdansa mengikuti ritme tempo tinggi musik house dan sorotan warna-warni lampu neon. 

Lalu-lintas di jalan satu arah yang terkenal dengan kehidupan malamnya ini penuh dengan mobil dan motor; trotoar pun sesak dengan turis yang keluar beramai-ramai untuk menikmati malam. 

Namun, ada segerombolan orang yang mendatangi jalan itu dengan niat jahat. Tiga anggota Jemaah Islamiyah (JI), jaringan teroris yang terhubung dengan Al-Qaeda, bersiap-siap melancarkan pemboman dahsyat yang sampai sekarang menjadi serangan teroris paling maut dalam sejarah Indonesia. 

Salah satu dari mereka adalah Ali Imron, yang bertugas mengawasi serangan tersebut. Dua yang lain adalah pembom bunuh diri. 

Tidak banyak yang diketahui tentang kedua pembom bunuh diri tersebut. Mereka memakai banyak nama samaran. Orang-orang yang terlibat dalam pemboman itu mengenal mereka sebagai “Iqbal Satu” dan “Iqbal Dua”.

Pada 12 Oktober 2002, Ali Imron menugaskan Iqbal Satu untuk membawa ransel berisi 1 kilogram bahan peledak ke dalam bar penuh pengunjung bernama Paddy’s Pub. 

Sementara itu, Iqbal Dua ditugaskan menyetir mobil van Mitsubishi berwarna putih yang berisi ratusan kilogram bahan peledak. Sekitar pukul 23:00, Iqbal Satu menarik picu bom di ranselnya.

Banyak pengunjung bar mati di tempat, dan banyak lagi terluka karena ledakan dahsyat itu. Orang-orang yang berhasil menyelamatkan diri mengatakan mereka melihat bola api besar di dalam Paddy’s Pub, dan para pengunjung yang panik berusaha berlari keluar menyelamatkan diri. 

Sebuah gedung yang dihancurkan bom mobil di wilayah turis Kuta, dekat Denpasar, Bali, pada 17 Oktober 2002. (Foto: AFP/Oka Budhi)

Ledakan bom juga menyebabkan tiang listrik di dekat Paddy’s Pub tercerabut dari trotoar sehingga lingkungan di sekitarnya menjadi gelap gulita. 

Kurang dari satu menit kemudian, saat banyak orang masih berusaha keluar dari Paddy’s Pub, Iqbal Dua meledakkan mobil Mitsubishi putihnya di depan Sari Club, yang hanya berjarak sekitar 40 meter dari Paddy’s. 
 

Polisi dan masyarakat mengamati bekas ledakan bom di wilayah turis Kuta dekat Denpasar, Bali, pada 13 Oktober 2002. (Foto: AFP/Cyril Terrien)

Ledakan bom kedua ini menghancurkan Sari Club hingga luluh-lantak. Gedung parkir di depannya rata dengan tanah. Gedung-gedung dalam radius hingga 20 meter dari mobil yang meledak tersebut rusak parah. Ledakan memecahkan pintu-pintu kaca dan jendela toko dan restoran hingga sejauh satu kilometer. 

Mobil dan motor di sepanjang Jl. Legian terangkat ke udara oleh gelombang kejut dari ledakan bom mobil tersebut. Ledakan itu begitu keras sehingga terdengar sampai sembilan kilometer dari tempat kejadian. Di lokasi mobil van meledak sekarang ada kawah kecil sedalam hampir 1 meter. 

“TAK AKAN PERNAH SAYA LUPAKAN”

Saat pemadam kebakaran dan petugas gawat darurat datang ke lokasi pemboman, api masih membakar Jl. Legian. Menurut kesaksian mereka, tangki bahan bakar mobil dan motor juga ikut meledak, sehingga api makin tidak terkontrol. 

Asisten manajer Sari Club waktu itu, Jatmiko Bambang Supeno, mengatakan ia sempat melihat mayat-mayat bergelimpangan terbakar api. “Banyak sekali pengunjung di bar waktu itu, tubuh mereka semua terbakar,” katanya kepada CNA. 

Ex-manajer Sari Club, Jatmiko Bambang Supeno, sempat melihat mayat-mayat terbakar setelah ledakan bom kembar di Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002. (Foto: CNA/Heru Tri Yuniarto)

Tawa dan suara obrolan turis serta berisik musik house yang biasanya menggema di sepanjang Jl. Legian malam itu digantikan oleh suara teriakan orang-orang meminta tolong dan jeritan sirene ambulans yang berdatangan. 

Karena api yang besar, petugas gawat darurat dan masyarakat sekitar hanya sempat menolong dan merawat korban yang sempat menyelamatkan diri. Beratus-ratus korban mengalami luka bakar parah dan cedera lainnya. 

“Saya tidak akan lupa malam itu. [Saya ingat] suara tangis orang-orang dan teriakan ‘Tolong! Tolong saya!’,” kata Agus Bambang Priyanto, seorang sukarelawan Palang Merah malam itu.  

“Saya sempat menggotong satu korban ke ambulans. Saya ingat sekali ekspresi mukanya. Dia masih berusaha mengucapkan sesuatu, pesan terakhirnya mungkin. Bayangan ini tak akan pernah saya lupakan,” katanya kepada CNA. 

Polri dan petugas penyelamat di area pemboman di Kuta, Bali, pada 13 Oktober 2002. (Foto: AFP/Cyril Terrien)

Api baru bisa dipadamkan sekitar jam 02:00 berkat kerja keras pemadam kebakaran. Priyanto dan petugas gawat darurat lain kemudian mendekati lokasi ledakan bom. Mereka mendapati banyak mayat gosong tergeletak di bawah puing-puing bangunan. 

“Beberapa yang mati sudah tidak bisa dikenali lagi, terbakar habis. Yang lain tersisa tulang-belulangnya saja. [Badannya] musnah terbakar. Kami juga menemukan kaki dan tangan, terputus dari badan. Juga kepala-kepala yang terpenggal,” kata lelaki yang sekarang berumur 63 tahun ini. 

Petugas membutuhkan waktu delapan jam untuk mengevakuasi semua jenazah korban dari area ledakan bom. 

Staf Palang Merah Agus Bambang Priyanto, salah satu petugas gawat darurat pertama yang mendatangi area ledakan bom. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

Api baru bisa dipadamkan sekitar jam 02:00 berkat kerja keras pemadam kebakaran. Priyanto dan petugas gawat darurat lain kemudian mendekati lokasi ledakan bom. Mereka mendapati banyak mayat gosong tergeletak di bawah puing-puing bangunan. 

“Beberapa yang mati sudah tidak bisa dikenali lagi, terbakar habis. Yang lain tersisa tulang-belulangnya saja. [Badannya] musnah terbakar. Kami juga menemukan kaki dan tangan, terputus dari badan. Juga kepala-kepala yang terpenggal,” kata lelaki yang sekarang berumur 63 tahun ini. 

Petugas membutuhkan waktu delapan jam untuk mengevakuasi semua jenazah korban dari area ledakan bom. 

RUMAH SAKIT “SEPERTI PASAR”

Rumah Sakit Umum Sanglah terletak enam kilometer jauhnya dari Jl. Legian. Di sana, petugas kesehatan kewalahan menangani pasien yang datang membanjir. 

 

Seorang perempuan (kiri) berbicara dengan pegawai Rumah Sakit yang menjaga pusat informasi di Sanglah, Denpasar, pada 15 Oktober 2002. (Foto: AFP/Oka Budhi)

“Unit Gawat Darurat sudah seperti pasar. Dalam 20 menit kita kehabisan infus karena pasien begitu banyak,” kenang I Gusti Lanang Made Rudiartha, yang waktu itu menjabat sebagai direktur RS Sanglah. 

“Total ada 202 orang yang meninggal. Kamar jenazah kami hanya muat 10 jenazah. Kantong-kantong mayat memenuhi lorong-lorong. Pasien begitu banyak sehingga kami cuma bisa berpikir mau diapakan jenazah-jenazah ini besoknya.”

I Gusti Lanang Made Rudiartha, ex-direktur RSU Sanglah di Denpasar. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

Karena banyak mayat yang hangus terbakar, tim forensik memerlukan waktu enam bulan untuk mengidentifikasi semua 202 korban yang meninggal. 

Nyoman Rencini, janda dari Ketut Sumerawat, salah satu korban meninggal Bom Bali 2002, mengatakan bahwa ia harus menunggu tiga bulan sebelum sampel DNA yang diberikan keluarga akhirnya ditemukan pasangannya dengan salah satu jenazah. Ia langsung menuju RS Sanglah untuk melihat mayat suaminya. 

“Saya belum pernah melihat mayat dalam keadaan [mengerikan] seperti itu. Suami saya tubuhnya tinggi, kuat. Tapi ia meringkuk seperti anjing di dalam kantong jenazah. Saya hampir tidak bisa mengenalinya,” kata Rencini sambil terisak kepada CNA.

“Saya hanya diam saja. Tidak tahu mau ngomong apa. Mengerikan sekali. Saya cuma bisa menangis. Kenapa suami saya harus [berakhir] begini?”

Nyoman Rencini memegang foto suaminya, Ketut Sumerawat, yang meninggal dalam serangan Bom Bali 2002. Mayat Ketut hangus terbakar sehingga diperlukan tiga bulan untuk mengidentifikasinya. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

Ledakan bom kembar di Jl. Legian ini juga menyebabkan banyak korban cacat permanen. Beberapa harus menjalani terapi selama bertahun-tahun untuk menyembuhkan trauma fisik dan psikologis mereka. 

Namun tragedi ini juga mempersatukan masyarakat Bali. 

“Ada orang yang menawarkan diri menjadi sukarelawan. Ada yang menyumbangkan selimut dan handuk bagi para korban dan keluarganya. Ada yang memberi makanan dan minuman untuk pegawai dan sukarelawan. Bahkan ada hotel yang mengirim pegawai untuk membantu membersihkan rumah sakit kami,” kata Rudiartha, ex-direktur RS Sanglah. 

Dua turis Kanada di lokasi ledakan bom mobil di kawasan wisata Kuta, di Denpasar, Bali, pada 13 Oktober 2002. (Foto: AFP/Choo Youn-Kong)

SUASANA LEGIAN SEKARANG

Dua puluh tahun kemudian, Jl. Legian sudah banyak berubah. Walaupun masih terkenal dengan kehidupan malamnya, sekarang juga ada pengunjung yang datang untuk berziarah. 

Sebuah monumen dari batu kapur yang bentuknya dipengaruhi wayang kulit Bali sekarang berdiri di bekas lokasi gedung parkir di depan Sari Club. 

Monumen Bom Bali 2002 yang menempati lokasi bekas gedung parkir yang rata dengan tanah waktu bom meledak. (Foto: CNA/Nivell Rayda)
Di sebuah papan marmer besar terukir nama 202 korban yang meninggal dalam serangan bom tersebut. 
Monumen Bom Bali. (Foto: CNA/Heru Tri Yuniarto)
Monumen ini telah menjadi salah satu penanda Jl. Legian. Namun beberapa keluarga korban menyayangkan bahwa lokasi tersebut sekarang malah menjadi spot populer untuk selfie. 
Pasangan berfoto selfie di Monumen Bom Bali di Jl. Legian, Denpasar. (Foto: CNA/Heru Tri Yuniarto)

“Orang seharusnya memperlakukan monumen ini dengan lebih hormat,” kata Thiolina Marpaung, salah satu penyintas Bom Bali, kepada CNA. “Ini adalah tempat berkabung. Tempat suci.”

Paddy’s Pub yang baru terletak kurang dari 100 meter dari lokasi aslinya. 

Selama bertahun-tahun, lokasi ledakan bom pertama dipakai untuk sebuah klub malam yang baru saja bangkrut karena pandemi COVID-19. Sebuah gedung kosong berlantai dua masih berdiri di situ. 

Sebuah klub malam berdiri selama beberapa tahun di lokasi ledakan bom pertama. Klub ini bangkrut karena pandemi COVID-19, menyisakan gedung kosong berlantai dua. (Foto: CNA/Nivell Rayda)
Sementara itu, lokasi lama Sari Club sekarang jadi tanah kosong yang digunakan masyarakat setempat sebagai lahan parkir. 
Lokasi ledakan kedua sekarang jadi tanah kosong yang digunakan sebagai lahan parkir. Beberapa kali hampir dipugar menjadi taman namun negosiasi antara keluarga korban dan pemilik lahan menemui jalan buntu. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

Selama lebih dari sepuluh tahun terakhir, beberapa penyintas dan keluarga korban berusaha membeli lahan kosong ini untuk membangun sebuah Taman Perdamaian yang berisi informasi sejarah tentang Bom Bali 2002. 

Pemerintah Daerah Bali bahkan pernah turun tangan dengan menawarkan lahan di lokasi lain bagi pemilik tanah. Namun belum ada usaha yang membuahkan hasil. 

Thiolina Marpaung mendukung ide membangun Taman Perdamaian di tanah kosong tersebut. “Masyarakat perlu mengetahui apa yang terjadi di sini 20 tahun lalu supaya tragedi seperti itu tidak pernah terjadi lagi,” katanya. 
 

Orang lalu-lalang di depan lahan parkir di Kuta, Bali, lokasi ledakan kedua dalam insiden Bom Bali 2002. (Foto: CNA/Nivell Rayda)

Baca artikel ini dalam Bahasa Inggris.

Baca juga artikel Bahasa Indonesia ini mengenai kekhawatiran usaha mikro kecil menengah (UMKM) menghadapi dampak kenaikan BBM.

Ikuti CNA di Facebook dan Twitter untuk lebih banyak artikel. 

Source: CNA/ni(ih)

Advertisement

Also worth reading

Advertisement